Debat

Pendidikan

Latest News

Yel-Yel Pramuka "Mana Di mana"

Yel-Yel Pramuka "Mana Di mana"
Pelatih pramuka putri saat pelatihan pembina pramuka di Cibubur Jakarta Timur
Sumber foto: Dokumentasi pribadi 

Mana dimana, anak paling keren!
Anak paling keren ada di bunga dahlia…

Mana dimana, anak paling jago,
Anak paling jago ada di bunga dahlia..

Bunga dahlia oke!
Bunga dahlia oke!

Bunga dahlia (hanya ketua regu)
Is the best (semua anggota)




Hymne Pramuka Lagu Nasional Karya Husein Muntahar

Hymne Pramuka Lagu Nasional Karya Husein Muntahar


Lirik Hymne Pramuka


Kami Pramuka Indonesia
Manusia pancasila

Satya ku kudarmakan
Darma ku kubaktikan
Agar jaya Indonesia

IndonesiaTanah airku
Kami jadi pandumu


Hymne Pramuka Lagu Nasional Karya Husein Muntahar
Penulis saat dilantik menjadi pembina pramuka di Cibubur/dokumentasi pribadi


Hendrikus Raga: Mari Bersatu Merajut Persaudaraan Menuju Kesuksesan di Desa Persiapan Karakabu

Hendrikus Raga: Mari Bersatu Merajut Persaudaraan Menuju Kesuksesan di Desa Persiapan Karakabu
Hendrikus Raga
Sumber foto: Face book Hendrikus Raga

Proklamator Indonesia, sukarno Hatta pernah berujar, “beri aku 10 pemuda terbaik niscaya akan kuguncangkan dunia”. Mungkin terinspirasi dari catatan sejarah sang pendiri bangsa, maka mereka yang muda seolah menyingsingkan lengan baju dengan terjun ke dunia politik; dengan dalil membangun kampung. Membangun Indonesia di mulai dari kampung. Seperti itulah kontruksi berpikir pejabat zaman now, sesuatu yang “wah” dan layak diberi apresiasi. Namun fakta berkata lain, Marianus Sae, bupati Ngada, Tokoh muda yang memulai jualan politiknya dengan slogan membangun kampung ternyata diciduk KPK karena menerima uang siap sekitar Rp 4,1 miliar dari Dirut PT Sinar 99 Permai.

Apakah semua tokoh muda di negeri ini seperti itu? Tentunya tidak pembaca terkasih; masih banyak di pelosok negeri ini, orang-orang muda yang mengabdikan semua yang mereka punyai untuk Indonesia yang lebih baik. Kali ini saya membagikan sepenggal kisah dan pergumulan tokoh muda di dusunku Detunglikong, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya Hendrikus Raga.

Sebelum mengulas lebih jauh tentang sosok intlektual muda asal Detunglikong ini lebih jauh. Izinkan saya memperkenalkan dusunku terlebih dahulu sebab di peta Indonesia maupun mesin pencari google sangat minim literatur yang menjelaskan tentang kampungku itu. Maklum sangat terpencil.

Detunglikong merupakan nama sebuah dusun yang menjadi bagian dari desa Nirangkling, kecamatan Nitta, Kabupaten Sikka propinsi Nusa Tenggara Timur. 

Desa ini merupakan satu dari 12 desa dan kelurahan yang berada di kecamatan Nitta. Saat ini dusun Detunglikong berganti nama menjadi desa Karakabu karena menjadi salah satu dari 29 dusun yang mengajukan pemekaran; setelah dibukanya moratorium pemekaran desa di tahun 2016 lalu. Saat ini desa Karakabu sudah dinyatakan lolos administrasi sehingga mulai melakukan persiapan fisik untuk verifikasi faktual di lapangan. Itulah yang sedang diperjuangkan oleh Hendrikus Raga sosok inspirasi pekan ini.

Siapakah Hendrikus Raga

Dia bukan orang hebat, hanya pemuda kampung yang selalu ingin melihat orang lain bahagia. Bahagia karena anak-anak bisa bersekolah, bahagia karena ingin melihat saudara bersatu membangun kampung, bahagia karena ingin melihat orang tua bisa berjualan hasil alam yang mereka miliki.

Demi mujudkan idealismenya itu alumni SD Detunglikong ini tidak hanya menghayal tetapi berbuat untuk mewujudkan mimpi mulianya itu. Tahun 2015 ia mulai membentuk Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Nirangkliung (IPELMAN). Melalui wadah ini doktrin-doktrin positif untuk membangun kampung pun ia tularkan kepada generasi penerusnya di masa mendatang. Tidak lupa skill untuk bekal hidup pun ia ‘titipkan’ kepada pelajar dan mahasiswa Nirangklikung. Entah itu melalui latihan dasar kepemimpinan hingga seni ia berikan. Semuanya demi mempersiapkan generasi Detunglikong – Nirangling yang tangguh dalam iman dan unggul dalam prestasi; demi Detunglikong yang berdaya di masa depan.

Pemikiranya sangat sederhana, “suatu kaum akan berubah menjadi lebih baik hanya melalui pendidikan; perubahan itu dimulai dari generasi muda”. Itulah konsepnya membangun kampung di mulai dari orang muda dan melalui pendidikan.

Mungkin banyak orang berpikir seperti itu, namun hanya sedikit orang yang memiliki keberanian untuk melalukannya; Hendrikus Raga, satu dari sedikit orang yang seperti itu.


Mengapa?

Jawabannya adalah soal mentalitas dengan pertanyaan reflektif, siapkah kita meninggalkan zona nyaman untuk berjuang di pedalaman dan terisolir dari segalanya?. Mulai dari listrik yang bentuknya pun tidak kelihatan, sinyal seperti candaan remaja milenial, “benda apakah itu?”. Ditambah lagi dengan medan yang ekstrim dan penerimaan masyarakat lokal yang mungkin agak tidak bersahabat.

Soal Detunglikong, apa yang saya katakan ini mendekati realitas. 
Hendrikus Raga: Mari Bersatu Merajut Persaudaraan Menuju Kesuksesan di Desa Persiapan Karakabu

Indikatornya sidang pembaca bisa buka google dan mengetik kata kunci Detunglikong.
Hendrikus Raga: Mari Bersatu Merajut Persaudaraan Menuju Kesuksesan di Desa Persiapan Karakabu

 Halaman pertama google yang keluar adalah singkronisasi data dari dinas pendidikan dasar di SD Detunglikong, sesuatu yang sepantasnya dilakukan pemerintah; meski hasilnya sejak 30 tahun lalu saya sekolah di tempat itu hingga kini hanya papan nama yang berubah, selebihnya nihil. 
Hendrikus Raga: Mari Bersatu Merajut Persaudaraan Menuju Kesuksesan di Desa Persiapan Karakabu

Padahal sudah 72 tahun Indonesia merdeka semantara dusunku masih belum merdeka dari keterisoliran terhadap dunia luar. Pertanyaan saya buat tuan dan nyonya di ‘singgsana’, mana katanya pembangunan dimulai dari kampung?. Hanya janji dan jualan politikkah?

Halaman kedua dan ketiga personal blog milik saya, dan berikutnya adalah ulasan dari pos kupang yang diupdate pada tahun 2012 lalu. Ironis memang, tetapi itulah kenyataannya.

Semantara potensi daerah seperti coklat dan kopi harus dijual murah oleh masyarakat lokal kepada tengkulak. Semantara piring kuno peninggalan zaman pra sejarah yang menarik untuk diteliti oleh arkelog pun nyaris hilang oleh zaman. Belum lagi potensi danau rano yang berada di atas ketinggian 800 kaki dari permukaan laut pun hanya menjadi komsumsi masyarakat lokal. Air terjun sokeloleng yang memiliki pesona tersendiri pun debit airnya nyaris habis karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan objek wisata.
Hendrikus Raga: Mari Bersatu Merajut Persaudaraan Menuju Kesuksesan di Desa Persiapan Karakabu
Hendrikus Raga
Sumber foto: Face book Hendrikus Raga

Deteran litani tentang Detunglikong yang jauh panggang dari api itu pun mengusik nubari Hendrikus Raga, intlektual muda lulusan Universitas Nusa Nipa untuk mengajak segenap anak negeri Detunglikong; baik yang berada di rantau maupun yang berada di kota Maumere untuk bersatu merajut persaudaraan menuju kesuksesan di tanah Karakabu. “Kita semantra ada pembangunan kantor desa dan kapela. Harapan saya bagi orang karakabu yang merantau tolong bantu dalam bentuk sumbangan berupa pikiran atau materi karena yang ada baru karang”, kata Hendrikus Raga kepada penulis via pesan singkat.

Ingin mengenal lebih jauh sosok ini, yuks intip face book Hendrikus Raga, salah satu sosial media miliknya. Pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari sosok ini adalah seiramanya antara kata dan perbuatan.**  

Happy Blogging untuk sahabat blogger dan epan gawan untuk sidang membaca yang menyempatkan diri untuk membacanya.


Baca juga:


  1. Sebuah Memori di SD Detunglikong
  2. Arti Nama Karakabu



Penjelasan Istilah, Epan Gawan (Bahasa Maumere) artinya terima kasih 


Catatan 

Coretan sederhana dan tidak beraturan ini pernah saya muat juga di kompasiana dengan judul Usaha Membangun Kampung Dimulai dengan Membangun Sumber Daya Manusia. 

Manusia Munafik


Puisi Manusia Munafik
Di sini aku mengabdi, memberi dengan semua yang kupunyai.
Dalam kedunguan seorang anak kampung, kucoba memberi arti agar hidup semakin berarti.

Namun lelah raga dan juga hati, meliat manusia yang tidak berarti.
Memfitnah dan mengakimi, seolah paling beradab sendiri.
Sikut sana-sikut sini supaya menjadi paling berarti,
“Kemudian di satu meja engkau katakana kita seiman saudara-saudari”
Semangat pelayanan kita adalah kasih dari keyakinan yang kita imani

Sunggu ini kebohongan yang dibungus rapi
Tapa laku dibungkus dengan balutan kain putih agar kelihatan suci
Sejujurnya aku muak melihat yang dilihat dan merasakan apa yang dialami.

Mau menjadi terbaik tidak perlu menjatuhkan orang lain,Maju dan menjadi prioritas tanpa harus menyingkirkan orang lainNaiklah selama engkau mampu tetapi tidak perlu menjatuhkan yang lain,Jadi baik tanpa harus menjelek-jelekan orang yang lain,
Dan jadi benar tanpa harus menyalahkan orang lain

Pasti bisa jika ego diri diturunin sepersekian oktaf




By: Martin Karakabu,
(anak Detunglikong)

Jakarta, 2/2/2018

Baca juga:

Perjalanan ini Sunggu Melelahkan

Rapor Akhir Liga I Tahun 2017, Bagimana Tahun 2018?

Rapor Akhir Liga I Tahun 2017, Bagimana Tahun 2018?
Gambar ilustrasi

Setelah menggelar Awording Night di hotel Mulia Jakarta Pusat, Jumat, (22/12/2017). Liga I tahun 2017 ditutup secara resmi oleh ketua umum PSSI, Letjen TNI Edy Rahmayadi yang didampingi oleh Sekretaris Jendral, (Sekjen) PSSI, Ratu Tisha Destria dan sejumlah pejabat terkait.  

Berbagai tim –tim unggulan, seperti Arema, Persib Bandung, dan Persipura Jayapura. Tenggalam, nyaris tanpa nama. Sedangkan tim-tim yang kurang diperhitungakn diawal liga 1; seperti Bhayakara FC, Persija Jakarta, Bali United dan PSM Makasar Berjaya.

ini statistik gelaran liga I, tahun 2017. Dilansir dari topskor, edisi, Sabtu 23 Desember 2017.

Penghargaan Liga 1 Tahun 2017


1.   Lifetime Achievement diberikan kepada almahrum Choirul Huda, kiper Persela Lamongan. Diberikan langsung oleh CEO PT Liga Indonesia Baru (LIB), Berlinton Siahaan kepada istri almahrum, Lidya.
2.   Wasit terbaik diberikan kepada, Mustofa Umarella.
3.   Tim fair play, jatuh kepada Cenderawasih Jingga, Perseru, Serui Papua.
4.   Pemain muda terbaik diberikan kepada, bek kiri Persija Jakarta, Rezaldi Hehanusa.
5.   Pemain terbaik, menjadi milik gelandang serang Bhayangkara FC asal Portugal, Paulo Sergio. Ini kali pertama pemain terbaik jatuh kepada legion asing, sejak gelaran Indonesia Super Liga (ISL) tahun 2008 silam.
6.   Gol terbaik diberikan apresiasi kepada pemain asal klub Mitra Kukar, Septian David.

Baca Juga:
Boas Cuma Dipinjamkan Bukan Milik Borneo FC

Statistik Liga I Tahun 2017


1.   Pertandingan dilaksanakan sebanyak 306 kali.
2.   Gol sebanyak 884.
3.   Asist sebanyak 570.
4.   Tembakan ke gawang sebanyak 2.694 kali
5.   Operan sukses sebanyak 159.760 kali operan.
6.   Operan gagal sebanyak 47.499 kali.
7.   Pelanggaran sebanyak 9.357 pelanggaran.
8.   Hukuman kartu sebanyak 1.296 hukuman.
9.   Pengusiran sebanyak 60 kali.

Statistik Terbanyak Liga I Tahun 2017


1.   Klub dengan jumlah gol paling banyak sepanjang gelaran liga I tahun 2017 yakni Bali United, Sebanyak 76 gol.
2.   Klub dengan tembakan terbanyak yakni PSM Makasar, sebanyak 204 tembakan.
3.   Klub dengan operan terbanyak Bali United, sebanyak 10.768 kali operan.
4.   Klub yang memiliki tackling terbanyak masih Bali United, sebanyak 646 kali tackling.
5.   Semantara itu, Gresik United, menjadi satu-satunya Klub dengan jumlah penyelamatan terbanyak, sejumlah 153 kali penyelamatan.

Baca juga:

Best Eleven Liga 1 Tahun 2017


Pola 3 3 4. Tiga penyerang yang dipilih oleh PT Liga Go-jek Traveloka adalah Septian David, Mitra Kukar; Comvalinus Bali United, dan rekan setimnya Irfan Bachdim. 3 pemain tengah dengan komposisi dari 3 klub yang berbeda, yakni Bayu Gatra, Mitra Kukar, Pluim PSM Makasar, dan sang pemain terbaik liga 1 tahun 2017, Paulo Sergio.

         Barisan belakang didominasi oleh Macan Kemayoran, Persija Jakarta. Penjaga gawang Andritany, empat benteng kokoh di depannya adalah dua rekan setimnya, Rezaldi dan Pacheco. Semantara dua yang lain yakni Gavin Barito Putra dan Hamka, PSM Makasar.

Dikutip dari topskor, Danurwindo, ketua tim Technical Study Grup (TSG) mengatakan ada tiga krieteria menentukan best eleven tiem liga I tahun 2017, yakni skill di atas rata-rata, memberikan kontribusi maksimal dan bisa menjadi pembeda. Point terakhir dari krieteria tersebut adalah tampil stabil sepanjang kompotisi, ujar Danurwindo.

Mengahiri rangkaian pemberian penghargaan kepada insan sepak bola tanah air. Berlinton Siahaan mengatakan akan memperbaiki kekurangan selama gelaran liga 1 tahun 2017 dan berupaya semaksimal mungkin untuk memperbaikinya di tahun 2018.

Kami pencinta bola tanah air tunggu janji ini ya pak. Semoga tahun depan gelaran liga 1 menjadi lebih baik lagi. Penuh harap.

 Baca juga:

Gunuang Agung Meletus Pesepak Bola Ini Nekat Ke Brasil Lewat Jalan Darat


Catatan: 

Tulisan ini pernah dimuat di kompasiana dengan judul Rapor Akhir Liga I Tahun 2017, Tim Unggulan Tumbang, UnderdogBerjaya.
 


Daftar Kompasianer Inspirasi Makar


Daftar Kompasianer Inspirasi Makar
Sumber foto: Kompasiana
Sejujurnya saya agak was-was menulis judul seperti ini. Penyebabnya adalah kata “makar”. Supaya jangan sampai gagal paham, saya coba menjelaskan sesederhana mungkin maksud saya. Makar adalah bentuk pendek dari nama saya, yaitu Martin KarakabuJadi makar yang saya maksud bukanlah suatu tindakan dari seseorang atau sekelompok orang yang mengancam kedaulatan suatu negara atau komunitas tertentu. Melainkan bentuk pendek dari nama saya, Martin Karakabu.

Sedangkan inspirasi yang saya maksudkan adalah mereka-mereka (baca: kompasianer) yang tulisan dan cara mereka mengeblog di kompasiana mampu membuat saya berpikir bahwa orang ini hebat, intlektual, inspirasi, dan membuat saya harus banyak belajar dari mereka.

Jadi intinya ulasan ini menjelaskan tentang orang-orang hebat yang saya temui lewat interaksi saya selama sepekan ini di kompasiana; maupun mereka-mereka yang karya inspiratifnya sempat saya baca dan mampu menggugah saya suapaya banyak belajar dari mereka. Sekaligus ini sebagai jawaban saya dari semcam pertanyaan admin kompasiana, “apa resolusimu di tahun 2018?”. Jawabanya adalah terus belajar menulis agar menjadi hebat seperti orang-orang hebat ini. Inilah orang-orang hebat dan luar biasa itu.  

1.       TJIPTADINATA EFFENDI

Usia boleh saja di ujung senja, tetapi soal produktifitas menulis jangan pernah ragukan lagi pada sosok yang satu ini. Sejak mendaftar di kompasiana, 22 Desember 2017 saya mencoba untuk sekedar memandang halaman depan kompasiana. Hampir setiap hari beliau menghadirkan tulisan-tulisan berkualitas kepada sidang pembaca. Sejujurnya saya penasaran, resepnya apa ya..?.

Menulis adalah upaya melawan lupa, sepertinya benar-benar diterapkan oleh beliau. Di depan kelas terkadang saya kesal dengan tingkah mereka yang disebut kids zaman now. “pak saya uda tahu apa yang mau ditulis, tapi susah bangat merangkah kata-katanya”, itu yang sering saya jumpai. Andaikan dulu pak Efeendi berpikir sama dan tidak melakukan, atau mengalami hal yang sama dan tidak mencoba, bisakah seproduktif ini?.

Terima kasih pak, hadirmu telah menginspirasi bahwa yang namanya belajar tidak mengenal batasan umur. Tuhan berkati dan sukses selalu dalam karya.  

2.    Katedrarajawen

Ini orang pertama yang menyambutku di kompasiana dan menawarkan suatu jalinan persahabatan yang baik. Terima kasih banyak mas. “Apakah karena itu beliau masuk nominasi saya?”, sama sekali bukan. Lantas apa? Jika berkenan baca karya fenomenalnya yang berjudul semenit sejuta klik. Paragraf ketiga kalimat kedua dari bawah; bunyinya seperti ini, “…kasihan saya yang menulis dan membaca bermodalkan HP…”.

Kalau hanya sebatas ini banyak kompasioner lain pun melakukankan hal yang sama, tetapi rasa kagumku ialah dari sebuah HP bisa seproduktif itu menurut saya layak untuk dikatakan hebat.

Jadi kata kuncinya adalah soal produktifitas dalam menulis. Sampai pada bagian ini saya tahu sepertinya bisa jadi pro dan kontra. “yang penting kuwalitas bukan kuantitas”. Orang ini memiliki kedua-duanya bro sist. Terima kasih masta telah menawarkan persahabatan kepada si newbie macam saya. Tuhan berkati selalu mas.

3.       Latifah Maurinta

Cerpenis muda lagi berbakat, tidak hanya merangkai kata tetapi sekaligus mengajak pembacanya larut dalam permainan kata-kata penuh makna. Pembaca serasa dihipnotis untuk larut dalam imajinasi. Muda soal usia, tapi tidak untuk karya. Terus berkarya dan hadirkan kepada pembacamu imajinasi inspiratif. Saya selalu mengagumi orang muda yang bisa merangkai kata, sebab saya lelah memandang potret zaman yang kebanyakan mengupdate status di face book daripada mengupdate tulisan di kompasiana. Namun, Latifah salah satu yang berbeda.  

4.       Bagas Candrakanta

Seorang mahasiswa yang benar-benar mahasiswa. Makasudnya? Jawabannya hanya bisa dijawab jika sidang pembaca sudah berjalan-jalan ke lapkanya dan coba telusuri karyanya satu persatu. Setiap tulisanya sangat berkelas, bukan sekedar menulis tetapi unsur edukasi begitu nyata. Berharap pendapat kita sama.

Satu tulisanyanya yang kekinian bangat adalah mudahnya generasi milenial berkarya. Apa edukasinya di sana pak?, “warnet terus warnet terus”. Pernah dengar ucapan orang tua seperti ini. Generasi milenial pun selalu disalahkan dalam hal ini. Sebagian besar saya setuju karena anak-anak sering menyalahgunakan kepercayaan orang tua. Tetapi perlu kita tahu juga sekarang bukan zamanya main masak-masakan atau karet gelang. Selain itu, K 13 sebagian besar aktifitas KBM berhubungan dengan internet. Hal ini penting juga buat saya dan kita yang beda zaman pahami putra-putri kita, dengan kata lain mari kita bijak dalam bersikap, (maaf tidak menggurui).

Anak muda terus berkarya, aksara dan diksi adalah identitasmu. Terus cerahkan generasimu dengan karya yang intlektual. Salam kenal.

5.       Tutut Setyorinie

Sama halnya dengan mbak Latif dan mas Bagas, Tutut Setyorinie beliau pun seorang mahasiswa. Yang muda berkarya; seperti itulah kesannya.

Menulis semua orang bisa tetapi memberi roh pada tulisan tidak semua orang bisa (termasuk saya), tetapi cerpenis yang satu ini bisa. Bagi orang yang selalu mengandalkan logika, “apa kabar langit” kesanya aneh dan tidak masuk akal. Tetapi coba pahami salah satu kumpulan puisi tersebut dan renungkan. Di sana ada kritik sosial yang sangat kritis. Mungkin terinspirasi dari sang legenda Iwan Fals.

Saat saya mencoba menelusuriaya satu persatu penggalan inspirasi dari sang novelis muda ini, jujur saya iri, “kenapa gue ga bisa sehebat dia”. Salam kenal sobat muda, hiduplah seribu tahun lagi lewat karya – karyamu. 

6.       Sigit

Halo mas Sigit, salam kenal. Apa yang membuat saya mengagumi orang ini. Jawabanya ada pada kemauan dan semangatnya yang luar biasa dalam menulis. Kok tahu?, baca dulu kisahnya. Saya dan 9 Tahun Kompasiana. Di sana ada jawabanya. Ada gunda gulana, ada tantangan, ada juga bahagia. Semuanya terus berproses. Salut mas dengan semangatnya menulis. Terus menulis untuk dikisahkan pada anak cucu.

Demikian 6 orang yang menginspirasi saya di kompasiana. Tentunya penilaian ini subjektif sekali, tetapi sekali lagi bahwa mereka yang saya sebutkan tadi kemampuan menulisnya melebihi saya, jadi pantas untuk dijadikan tempat bertanya dan belajar. Saya percaya masih banyak kompasianer yang hebat, bahkan mungkin lebih hebat dari sobat-sobat yang saya sebutkan di atas. Ini hanya soal waktu untuk saling bertukar tutur, ide, dan gagasan. Salam kenal semuanya. Terus menulis, satu dalam karya. Salam.

Baca juga:


Budi Pekerti Pelaku Dibalik Kematian Tragis Guru Budi di SMAN 1 Torjun Sampang Jawa Timur

Budi Pekerti Pelaku Dibalik Kematian Tragis Guru Budi di SMAN 1 Torjun Sampang Jawa Timur
Sumber gambar: www.budipekerti.com 

Guru Budi sudah ‘berlalu’ ini Budi…, pasti tinggal cerita karena budi pekerti pun sudah hampir mati.

Seorang pendidik idealnya menjadi teladan bagi yang didik, agar yang didik tidak jadi bumerang bagi bangsa si terdidik. Ini semua bisa terwujud jika keluarga sebagai lembaga pendidikan yang pertama menjadi tempat yang dirindukan seorang anak. Jika tidak maka realitas terbalik pasti tersaji lagi seperti sepekan yang berlalu, pada sosok almahrum guru Budi di Sampang Jawa Timur sana.
***
Makasi ya pakk ud ngajarin saya setaun ini, sebenernya saya berterimakasih sama bapak bukan karna bapak ngajarin saya B I doangg, banyak pak guru BI dimana mana tapi buat jadi wali kelas sekaligus pembimbing dan pendengar yg baik itu ga semua orang bisa pak, tapi bapak bisa!. 

Terima kasih juga uda bikin saya juara 1 di KKG kemaren, ya mungkin emang banyak org yg berperann, ga cuma bapak. tapi kalo bapak ga paksa saya buat ikut lomba saya gatau pak kalo ternyata saya bisa. selamat pak, bapak sudah menjadi guru kampung yang dicintai lewat cara bapak. 

Kutipan di atas adalah ungkapan hati salah seorang murid kepadaku via line. Hanya karena saya pernah menjadi wali kelas dan pernah membimbingnya dalam club debat di SMA Kanaan Jakarta.

Hal yang sama pun disampaikan oleh muridku yang lain seperti ini:
Pak martin... saya mau ngmg serius deh sm bapak. ya mgkin ini sedikit lebay tp gpp lah ya pak wkwk. nih pak. saya berterima kasih bgtttttttt pak sama bapaakkkk. makasi buat 1 taunnya bapa uda ngedidik saya dari awal kelas 10 smpe sekarang. saya jg makasi bangettt sama Tuhan soalnya Tuhan bs temuin saya sama org yang kaya bapak. saya bersyukur bgt bs ktmu org kaya bapak. tp bener deh pak, seumur2 sya bru prtama kali ketemu guru yg kaya bapak. bapa tuh bs jdi inspirasi saya bgt. klo mau jujur ya pak, bapa bener2 guru favorit saya pak. wali kelas paling the best!!!!! guru paling the besttt!!! bapa yg bisa buat saya tenang. bapa yg bisa buat saya jd lebi dewasa. bapa yg slalu kasi solusi klo saya ada masalah. ya jujur aja pak klo emg gada bapak jg saya kayanya ga berubah. saya itu tipe org yang bodo amat pak. tp semenjak ada bapak, saya bs belajar sedikit2 jd org yg tanggung jawab, jdi lebi disiplin. Maap pak klo lebay tp ini serius bapak bener2 guru kesukaan saya bangeettttt!!. 
Dua kutipan di atas diambil dari blog pribadi. Tidak bermaksud untuk pamer atau merasa diri paling hebat, tetapi hanya mencoba mengantar pembaca untuk merenung dan mengenang kembali sosok yang kita sebut guru.

Profesi guru selalu mendapat tempat yang istimewa di hati siapa pun. Bahkan orang nomor satu di Indonesia saat ini, Presiden Jokowidodo telah memberi contoh dengan membungkukkan badan di hadapan ribuan guru. "Saya bisa menjadi presiden karena jasa guru", ucapan presiden disela-sela pidato pada peringatan hari guru tahun lalu.

Siapapun kita saat ini, tentunya pernah mendengar atau merasakan saat-saat bersama sosok yang disebut “guru”. Jadi guru hanyalah guru, tetapi guru bisa membuat orang jadi lebih hebat dari diri sang guru itu. Konteks ini, sebagai manusia normal dan memiliki ‘rasa’ sudah seharusnya menghormati guru. Namun seperti diberitakan di berbagai media sepekan ini, Ahmad Budi Cahyono, seorang guru seni di SMAN 1 Torjun Sampang meninggal akibat dianiaya oleh muridnya sendiri MH, siswa kelas XI. Saat pelajaran seni rupa, Kamis (1/2/2018).

Masalahnya pun menurut saya sepelah, pelaku ditegur oleh korban gara-gara tertidur di kelas dan mengganggu kegiatan belajar saat itu. Lantaran kesal karena merasa pelaku tidak menghiraukan peringatannya, korban kemudian mencoret pipi pelaku MH dengan kuas karena tidak bisa dinasihati. Tak terima, MH kemudian memukul korban.Hingga akhirnya guru malang itu menghembuskan nafas terakhirnya pada, Jumat (2/2/2018) siang.

Biar berimbang mari kita tengok kembali ke belakang. Masih ingatkah kasus-kasus berikut ini:

1.     Oknum guru Jakarta Internasional School (JIS) yang melakukan pelecehan seksual kepada muridnya pada tahun 2016.
2.     Korban Asusila Guru Edi Waluyo di SMP Budi Waluyo Jakarta Selatan tahun 2006.

Dua kasus di atas adalah contoh kecil dari sosok guru yang katanya diguguh dan ditiru. Mungkin juga banyak kasus lain yang melibatkan oknum guru “nakal” di luar sana, yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

Sidang pembaca yang terkasih, saya di sini dan menulis bukan untuk menyebutkan dosa seorang guru, karena saya pun seorang guru yang belumlah sempurna. Namun inti dari ulasan ini adalah matinya budi pekerti seorang pendidik dan yang didik. Jadi yang meninggal bukanlah Ahmad Budi Cahyono, seorang guru seni di SMAN 1 Torjun, tetapi hati nurani yang kusebut sebagai budi pekerti.

Mungkin secara fisik beliau sudah tiada, tetapi kuyakin caranya meninggal akan terus dikenang oleh dunia pendidikan. Namun budi pekerti dari pendidik dan yang didik perlahan-lahan seperti terkikis oleh zaman, hilang karena teknologi, dan lama kelaman mati karena rumah bukan lagi menjadi tempat yang dirindukan oleh seorang anak.

Mengapa demikian?

Jawabannya karena Budi Pekerti sudah mati.

***

Siapakah Budi Pekerti itu?

Budi Pekerti yang dimaksudkan dalam tulisan ini bukan nama orang. Melainkan suatu konsep berpikir orang Indonesia yang telah membudaya di masa lampau. Kata budi pekerti merupakan gabungan dari 2 kata, yakni budi dan pekerti. Kata budi memiliki arti sadar, nalar, pikiran atau watak. Sedangkan pekerti memiliki makna perilaku, perbuatan, perangai, tabiat, watak

Kedua kata ini memiliki kaitan karena dasarnya budi seseorang ada dalam batin manusia dan tidak akan tampak sebelum dilakukan dalam bentuk pekerti atau perbuatan.

Jadi yang dimaksud dengan budi pekerti bisa saya simpulkan sebagai nilai hidup yang harus dijalankan oleh seseorang dalam berelasi dengan orang lain. Nilai yang dimaksudkan antara lain; sopan santun, tanggung jawab, disiplin, jujur, ikhlas, menghargai, dan lain sebagainya.

Mengapa Budi Pekerti Penting untuk Saya Bahas,

Saat Jepang dibom hanguskan oleh sekutu tahun 1945, kaisar Hirohito tidak bertanya, “berapa prajurit gagah berani yang tersisa”, melainkan “berapa guru yang tersisa”. Catatan sejarah itu mengilhami saya untuk berupaya dengan apa yang saya bisa, menulis, memberi contoh, dan menasehati pentingnya budi pekerti bagi generasi zaman now. Mengapa ini penting karena saya seorang guru. Di masa lampau dan di masa kini Jepang bangkit dan Berjaya itu karena guru. Namun faktanya sekarang, di Indonesia guru memperkosa murid, murid membunuh guru. Artinya ada yang hilang dari Jiwa orang Indonesia. Bukankah di masa lampau Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat?, itu karena nenek moyang kita paham apa yang disebut budi pekerti.

  Jika budi pekerti tidak dibahas ketakutan saya adalah manusia zaman now lupa kalau sebagai manusia idealnya dia bergaul dengan manusia yang lain. Kelompok masyarakat yang beda budaya, bahasa, maupun keyakinan dalam satu kesatuan sebagai manusia Indonesia yang berbudaya. Atau pun dari generasi zaman now yang katanya super duper melek teknologi kepada generasi tua. Hal ini menjadi penting agar kita tidak ketinggalan zaman sebagai sebuah bangsa tetapi juga tidak melupakan nilai-nilai luhur bangsa kita sendiri.

Keluarga sebagai Lembaga Pendidikan yang Pertama

Tidak ada berhenti dulu, tunggu dulu, nanti dulu, ntar dulu dan sederetan kata menunda lainnya. Kita harus memulainya dari sekarang; dimulai dari diri kita sendiri dan dari keluarga.

Apa yang kita mulai?

Menenamkan pendidikan budi pekerti dimulai dari diri sendiri dan dari keluarga. Sanking seriusnya urusan si budi pekerti ini hingga presiden pun “turun gunung” dinas pendidikan, guru dan setiap keluarga di Indonesia menanamkan kembali akar budaya dan peradaban bangsa agar tidak hilang oleh arus zaman milenial.

Caranya Seperti Apa?

Cukup sederhana dan muda dilakukan jika kita memiliki sedikit kemauan untuk dilakukan.

Pertama Miliki Waktu Terbaik Bersama Keluarga

Rutinitas pekerjaan dan gadjet telah mencuri waktu terbaik kita bersama keluarga, bahkan di meja makan sekali pun sering kali masih sibuk dengan bisnis atau sekedar bertegur sapa dengan mereka yang di luar sana. Cukup sudah dan sekarang mari kita mulai ciptakan waktu terbaik bersama keluarga. Walau hanya sejam, lakukan setiap hari dan rasakan manfaatnya. Saya menulis karena sudah melakukannya, sebelum itu sibuk dengan urusan kerja dan hoby. Akibatnya isteri menangis anak menjauh. Saat saya membalik arah dan memberikan satu hari terbaik ku bersama keluarga tercinta, suatu perubahan terjadi. “yah, ini tehnya” itu yang dilakukan putri kecil saya saat saya lagi sibuk membuat soal USBN. Lantaran sesaat kemudian dia pun berujar “jangan lupa ya ayah, sabtu kita jalan-jalan”, dia mengingatkanku dan memberi pesan, “silahkan ayah kerja, saya memberi dukungan melalui segelas the ini, tetapi jangan lupa Sabtu adalah waktu bersama keluarga”.

Mungkin ada yang mengatakankan, apakah salah membahas pekerjaan di rumah?, tidak salah karena pekerjaan dapat menghidupi keluarga. Namun sediahkan waktu terbaik bersama keluarga tercinta pun harus menjadi keharusan karena kita bekerja untuk menghidupi keluarga bukan menjadi hamba dari pekerjaan.

Kedua, Jadi Sahabat Bagi Anak

Kurikulum 2013 membuat anak-anak mengalamai tingkat jenuh dan stress yang cukup tinggi. Lho kenapa pak?. Bisa dibayangkan setiap hari minimal seorang pelajar SMP, SMA dan SMK menerima sekitar 3 sampai 4 pelajaran. Konsep belajar tuntas yang digadang oleh kurikulum 2013 seperti mengharuskan ada tugas dari setiap pelajaran tersebut. Di sisi yang lain, seorang remaja harus belajar kurang lebih 8 jam di sekolah. Mulai pukul 07.00 – 14.30 WIB dari Senin sampai Jumat.

Pertanyaan saya waktu mengerjakan PR kapan?. Sabtukah…?, memang mereka robot yang tidak butuh refresing. Pulang sekolah, memang mereka tidak butuh istirahat?. Minggu kalau begitu. Memang yang Nasrani tidak ke gereja?.

Artinya apa dalam situasi tersebut anak-anak mengalami tekanan mental, lelah fisik, dan ketidakterpenuhnya kebutuhan dasar manusia untuk refresing. Jika terus dipaksakan untuk belajar, maka yang ada bukan belajar melainkan memberontak. Mengapa, karena secara psikologi remaja tersebut merasa orang dewasa tidak memahami kesulitan mereka.

Jadi apa solusinya?

Sederhana sekali, jadilah sahabat bagi mereka. Menjadi sahabat?, sebagai orang dewasa kita bisa memaharahi mereka jika melakukan kesalahan yang sifatnya fatal. Di sisi yang lain kita pun “dituntut” untuk bisa menjadi pendengar yang baik dan memahami kesulitan mereka. Tidak perlu bertindak sebagai orang paling tahu karena kita orang dewasa. Melainkan selalu sediakan “ruang” untuk mengakui kesalahan kita di depan anak, dan jika anak melakukan hal yang benar dan baik, berilah penghargaan dan apresiasi. Di situ akan tumbuh suatu perasanan dihargai dan dimengerti dari anak. Pendidikan karakter yang ditanamkan seperti itu maka percaya nilai-nilai budi pekerti pun dengan sendirinya akan tumbuh dan berkembang melalui sosok orang tua yang penuh cinta. 

Ketiga Orang Tua Harus Gaul Karena Ini Zaman Now

Orang tua dan guru tidak harus membeli kamus gaul kemudian mempelajarinya siang dan malam. Cukup mengerti sedikit istilah-istilah seperti; alay, kepo, sabi, agut. Supaya tahu persoalan apa si yang dibahas oleh kids zaman now. Jika ada yang salah, maka tugas kita sebagai orang dewasalah untuk memperbaikinya. Itu fungsinya agar orang tua gaul, biar tahu topik apa yang dibahas remaja gaul zaman now.

Jangan takut tidak berhasil, jika orang tua dan guru sudah melakukan point pertama dan kedua berhasil. Maka point ketiga ini cukup mudah. Tetapi jika tidak berhasil di point pertama maupun kedua maka rasa-rasanya kita sebagai orang tua hanya akan menjadi bahan omongan mereka, “iss, apaan si kepo bangat de”. Mungkin seperti itu jawabanya.

Keempat Akrab dengan Teknologi

Point keempat sebenarnya berlaku secara khusus bagi orang tua dan guru yang tidak fasih menggunakan teknologi kekiniaan, seperti instagram atau youtube. Mengapa soal teknologi dibahas?, sebab bagi generasi Y yang lahir di era milenial. Teknologi telah menjadi teman sejati. Segala aktifitasnya sebagaian besar melalui teknologi. Jadi jika kita bisa mengimbanginya maka otomatis tahu sepak terjang mereka di luar rumah atau luar sekolah. Inilah manfaatnya fungsi kontrol orang tua. Taraf ini jika ada yang keliru, kita jadi tahu dan segera memperbaikinya.

Ingat!, jangan lupa menjelaskan mengapa orang tua larang. Jangan sampai anak-anak menemukan jawaban dari google. Misalnya, jika menyebarkan gambar tidak senonoh temanmu maka kamu akan berhadapan dengan UU ITE, karena melakukan pencemaran nama baik. Hukumannya adalah penjara sekian tahun. Kira-kira seperti itu. Alasan menjadi penting, sebab generasi milenial adalah orang-orang yang cukup kritias. Menurut pengalaman saya generasi milenial tidak akan mudah percaya jika penjelasan kita soal sebab dan akibat tidak maksimal.

Penutup

Jangan sampai orang tua di rumah menjadi “hamba” teknologi sehingga tidak ada waktu buat anak. Jika hal itu terjadi maka hanya akan menimbulkan masalah baru yang lebih rumit lagi. Mengapa demikian karena di zaman now musuh terbesar kita adalah teknologi. Agar musuh menjadi kawan maka miliki waktu terbaik bersama keluarga, menjadi sahabat bagi anak, jadi orang tua gaul agar tahu keluh kesah maupun sepak terjang putra-putrinya di luar rumah. Semua ini bisa dilakukan dan pasti berhasil, jika orang tua bisa menjadi contoh bukan hanya berbicara. “jika orang tua melarang anaknya merokok idealnya orang tua pun tidak merokok. Jika orang tua mengajari anaknya cinta damai maka idealnya di rumah menjadi tempat yang dirundukan anak; tanpa ada pertengkaran dari kedua orang tuanya. Sayang anak, berilah contoh, bukan kata kosong***

Catatan

Tulisan ini pernah saya muat di kompasiana dengan format yang pendek.
Baca juga: Yang meninggal budi pekerti bukan Budi Cahyono