Guru Sejati

Inspirasi Guru Sejati Bersama anak-anak Fef
Bersama anak-anak Fef yang menginspirasi
Pahlawan tanpa tanda jasa, lentera bangsa, guru bangsa dan berbagai julukan lain dialamatkan kepada mereka yang berprofesi sebagai guru. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), guru merujuk pada pendidik profesional dengan tugas utama mendidik dan mengajar seorang anak agar memiliki keahlian (life skill) dan bermoral. Tugas dan tanggung jawab yang mulia tersebut, menempatkan guru pada kedudukan yang terhormat di masyarakat. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya guru,  maka dapat mendidik dan membentuk kepribadian seorang anak dengan baik agar mempunyai intelektualitas yang tinggi dan berakhlak mulia. Itu dulu, sekarang masyarakat secara khusus orang tua; merasa takut, ragu, muak terhadap sosok yang disebut pahlawan tanpa tanda jasa itu. Mengapa?, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat ke belakang beberapa peristiwa yang bukan lagi luar biasa melainkan sudah biasa terjadi di negara kita ini.

Baca juga: Kebijakan Full Day School

Sekiatar bulan Juni – Juli 2014, Bangsa Indonesia disuguhkan lagi kasus kekerasan seks terhadap anak oleh oknum guru dan karyawan di Jakarta Internasional School. Beberapa pekan kemudian lagi-lagi kasus yang sama terjadi. Penyidik Polres Metro Jakarta Utara akhirnya menetapkan guru perempuan Playgroup Saint Monica sebagai tersangka pelecehan seksual terhadap anak. Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Kamis (7/8/2014), H didampingi 2 kuasa hukum dan Kepala Sekolah Saint Monica mendatangi ruang Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Utara untuk menjalani pemeriksaan perdana setelah ditetapkan sebagai tersangka, Rabu 6 Agustus 2014. Guru perempuan berinisial H diduga melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu muridnya di sekolah taman bermain Saint Monica yang berinisial L. Kepada orang tuanya, L mengaku dilucuti celananya dan dicabuli. Peristiwa tersebut membuat korban mengalami trauma mendalam dan luka pada kemaluannya. Itulah guru zaman ini, katanya si bertugas membentuk moral seorang anak didik agar bermoral namun nyatanya sang mentor lebih tidak bermoral. Kisah pilu di dunia pendidikan tidak berhenti pada 2 kasus tersebut; lansiran dari http://suaraflores.com (30/6/2014) pun menyebutkan bahwa oknum kepala sebuah SMPN di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial KM, melakukan uji keperawanan terhadap puluhan siswa binaan di sekolah yang dipimpinya dengan memasukan jari ke dalam alat kemaluan. Hal tersebut dilakukan karena ada dugaan kontak seksual antara salah satu oknum guru bantu  (LL) bersama salah seorang siswi berinisial M. Sepekan kemudian kasus yang sama terjadi, kini guru di SDN 8 Baturaja yang menghukum muridnya telanjang di depan kelas karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Kekerasan di STIP dan IPDN adalah bukti tentang sosok guru zaman ini. Setidaknya dari pantauan saya di media elektonik, cetak maupun online dari tahun 2013 hingga tahun 2014 ini kurang lebih 25 kasus kekerasan dalam dunia pendidikan terjadi; baik secara psikis, fisik maupun seksual.

Litani tentang kekerasan seksual dari guru kepada siswa masih bisa berlanjut, namun saya berada di sini bukan untuk “menelanjangi” satu persatu kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Saya berada di sini untuk mengingatkan kembali panggilan kita sebagai seorang guru (karena saya pun seorang guru).

Baca Juga : Berkomunikasi dengan Anak Lewat Ras

Guru, dalam hirarki spiritual tertinggi lazim di sapa tuan guru adalah seseorang yang dipanggil secara khusus untuk mengajar dan mendidik. Menjadi. guru itu gampang, namun menjadi guru sejati itu sangat sulit untuk dinyatakan. Seseorang yang dengan kemampuan akademiknya untuk membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Mengubah peserta didik ke arah yang lebih positif dan bertanggung jawab.

Inilah idealisme masyarakat kita terhadap guru masa kini, secara realistis banyak orang berbondong-bondong untuk menjkadi guru. Setidaknya dihimpun dari data Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Pendidikan Kementerian Pendidikan, Surya Atmana menyampaikan sampai dengan awal tahun 2014 di Indonesia terdapat 2,92 Juta guru, termasuk mereka yang bukan lulusan guru namun mengambil akta mengajar kemudian dinyatakan sah menjadi guru. 2,92 juta guru membuat rasio guru murid menjadi 1:14, artinya satu guru mengajar 14 murid. Sebagai perbandingan di Malaysia rasionya 1: 20, Jepang 1: 32, Korea Selatan 1: 30, dan rasio rata-rata internasional 1: 32. Membludaknya profesi guru tersebut adalah baik, namun untuk menjadi guru seperti Omar Bakri yang dikisahkan oleh Iwan Fals bisa dihitung dengan jari.

Berbagai faktor yang mendorong seseorang menjadi guru antara lain faktor panggilan, faktor ekonomi, dan ketermudahan lapangan kerja. Panggilan menjadi guru dilihat dari keseluruhan, loyalitas dan pengabdian terhadap bidang kerja sebagai pendidik dan pengajar. Menjadi guru karena kebutuhan ekonomi nampak jelas dalam etos kerja seseorang pada bidang kerjanya semata mengejar kebutuhan riel. Akhir bulan dapat gaji, dapur ngepul, yang penting hadir dan lain sebagainya. Pandangan ini mempengaruhi iklim kerja di suatu lembaga pendidikan.

Merosotnya mutu pendidikan dan hujatan masyarakat terhadap wibawa guru. Kebutuhan riel bukan merupakan hasil kerja melainkan penghargaan dari profesi profesional guru. Hasil kerja seorang guru secara filosofi dapat dilihat dari ketulusan seorang siswa dalam menyayikan lagu Himne Guru di saat upacara pelepasan siswa ke jenjang yang lebih tinggi. Secara kongkret ketika lima tahun atau enam tahun kemudian mereka kembali ke sekolah mengenakan seragam polisi, dokter atau namanya terpampang di televisi sebagai presenter; itulah hasil kerja seorang guru secara nyata. Motivasi menjadi guru karena tersedianya lowongan kerja, dorongan ini tidak kuat jika seorang guru diperhadapkan dengan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan; terutama kemampuan bertahan di daerah yang sulit terjangkau, informasi, komunikasi dan transportasi. Guru yang berjiwa seperti ini adalag guru yang berbulan-bulan di kota dan sehari di tempat tugas. Ciri-ciri guru jenis ini kita kenal dengan tanggal muda di tempat tugas sedangkan tanggal tua berprofesi sebagai pebisnis atau tukang ojek. Alasan yang dilontarkan pun tidak kalah logisnya gaji guru tidak cukup (meski pemerintah telah menaikan gajinya) selalu saja tidak cukup. Dampak yang nyata dirasakan adalah keluhan kekurangan guru di daerah-daerah seperti kalimantan, Papua atau tempat-tempat terpencil lain di Indonesia. Menjadi guru karena terpanggil adalah mereka yang dengan keyakinan penuh melangkah ke tempat tugas. Mereka sadar bahwa di tengah hutan, di pesisir pantai, di bawah kaki gunung ratusan anak Indonesia menunggu tuan guru datang untuk menjadi juru penerang bagi mereka. Orang tua berharap sang guru bisa menuntun anak-anak mereka agar keluar dari kegelapan pengetahun dan keterbelakangan. Realitas ini dapat kita lihat dari filim Denias, Senandung di Atas Awan karya sutradara John de Rantau yang menceritakan masalah pendidikan di pedalaman Papua. Hal yang sama kita temui dalam filim Laskar Pelangi karya novelis Andrea Hirata yang menceritakan sosok IBu Muslimah yang bertahan dalam kesulitan karena sadar bahwa dia adalah guru, cermin bagi 10 siswa di Belitung yang penuh mimpi dan harapan akan masa depan yang lebih baik.


Guru juru mudi yang bertugas membimbing anak dan remaja untuk mewujudkan mimpi mereka dan mimpi seluruh Bangsa Indonesia. Menjadi guru sejati hatinya akan dipandu oleh moral yang baik karena guru adalah cermin dari siswa. Pandu aksi karena di tangan tuan guru masa depan bangsa dititipkan. Pandu arti sang guru dapat memaknai apa yang dikerjakan bukan untuk manusia melainkan untuk Tuhan sesuai dengan keyakinan guru yang bersangkutan. “Murid yang baik adalah cermin dari guru yang hebat”. *** 

Baca Juga:


  1. Masalah Guru dan Blog Guru
  2. Makar Seorang Guru Kampung 
  3. Pengakuan Murid Menginspirasiku


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Guru Sejati"

Posting Komentar