Berkomunikasi dengan Anak Lewat Rasa

Seminar sehari yang diadakan oleh yayasan persekolahan Kristen Kanaan, dibuka oleh Miss Julia, koordinator sekolah Kristen Kanaan Global School, di aula Sekolah Kristen Kanaan Jakarta, pada hari Jumat, (24/3/2017); dimulai pada pukul 08.00 sampai pukul 13.00 WIB. mengangkat tema “Konseling Remaja”. Hadir dalam pembicaraan tersebut staf guru dari Sekolah Kristen Kanaan Tangerang, Sekolah Kristen Kanaan Jakarta, dan Kanaan Global School (KGS). Sebagai pembicara Daniel Chu, seorang konselor dan praktisi pendidikan Internasional.
Daniel Chu: Berkomunikasi dengan Anak Lewat Rasa
Daniel Chu

Internet dan remaja saat ini seperti dua keping mata uang, saling mengikat dan sulit untuk dilepaskan.  Meminjam istilah  Daniel Chu, seorang konselor dan praktisi pendidikan, hal tersebut sebagai bentuk ‘kecanduan’ dari remaja terhadap teknologi. Alhasil dari fenomena tersebut muncullah dua masalah utama, yaitu pornografi dan kurangnya komunikasi anak dengan keluarga. Akibatnya remaja saat ini, di dalam dirinya mengalami suatu keadaan hampa, gelisah, dan takut. “Itulah masalah utama pada remaja di tahun 2017 ini”; ujar Mr. Daniel melalui penerjemah, Miss Julia di aula SMA Kristen Kanan Jakarta, Jumat, (24/3/2017).  “Muka mereka yang kelihatan bahagia atau tersenyum tidak selamanya mencerminkan perasaan mereka; karena dalam diri remaja ada rasa ingin tahu yang tinggi, ada juga kehampaan, dan kecemasan yang membayangi tumbuh kembang remaja masa kini". Jelasnya lebih lanjut.

Lantas apa yang harus kita lakukan untuk “membentengi” remaja dari situasi zaman yang kelihatan cukup membahayakan tersebut?. Menurut Mr, Daniel ada dua hal yang bisa dilakukan oleh guru di sekolah. Pertama harus membangun kerja sama dan komunikasi yang baik dengan orang tua.  Hal ini sangat penting, sebab menurut Daniel Chu tingkah laku yang ditunjukan anak di sekolah datangnya dari rumah. Selain itu, sebagian besar waktu anak bersama orang tuanya. Atau dengan kata lain, di luar jam sekolah anak berada dalam pantauan atau pengawasan orang tua.

Kedua sebagai orang tua di rumah dan guru di sekolah harus mendengarkan siswa dengan ‘rasa’. Maksudnya bersikap empati pada anak, dengan menempatkan posisi guru pada posisi anak; dan ikut merasakan apa yang anak rasakan. Kegelisaan, takut, dan kekosongan jiwa yang dialami remaja.

Ada tiga tips dalam membangun relasi yang harmonis antara guru di sekolah dengan siswanya. Oh ya sejatinya ada beberapa tips dari Mr Daniel, namun hanya tiga yang bisa saya pahami. Maklum minimnya kemampuan berbahasa Inggris. Pertama Bersikap Empati pada Remaja. Menurut Mr, Daniel Chu, untuk membangun relasi yang harmonis dengan remaja masa kini, bukan saja menjadi pendengar yang baik. Tetapi lebih dari itu seorang guru wajib hukumnya menumbuhkan perasaan empati dengan anak. Sampai di sini tentu muncul sejumlah pertanyaan, ‘mengapa harus wajib, bagaimana kalau saya tidak bersikap empati, dan berbagai litani pertanyaan lain. Melalui penjelasan Mr Daniel, bahwa mereka yang lahir di tahun 1997, 1998, sampai dengan 2017 adalah kumpulan orang-orang yang semenjak lahir telah kecanduan dengan internet. Sebagian besar dari pernyataan brother Daniel tersebut berada di wilayah urban. Tempat dimana orang tua sibuk dengan pekerjaan, sehingga seorang anak jika menangis kecenderungan orang tua adalah memberikan gadjet, dan berbagai perangkat teknologi super canggi yang lain.  Hal ini dimaksudkan agar tidak menggangu pekerjaan orang tua. Namun, melalui hal-hal inilah yang menimbulkan kecanduan pada teknologi, penyalagunaan fungsi teknologi hingga pada kejahatan yang muncul lewat dunia maya. Lantas tugas seorang pendidik apa?. Bersinergi dengan orang tua, dan menumbuhkan sikap empati dengan anak. Caranya yaitu memberikan sugesti positif, seperti saya dapat mengenali perasaan anda, saya dapat mengerti anda marah, saya telah melihat usaha anda, dan berbagai kata peneguhan lain yang menunjukan keberpihakan guru atau orang dewasa pada remaja. Hal ini menjadi penting karena tugas seorang pendidik adalah berfokus pada masa depan anak bukan sekarang, kata Daniel Chu.

Kedua Memberikan Penghargaan Kepada Siswa. Masalah otak, menurut riset yang dilakukan oleh Mr. Daniel setiap manusia terutama remaja, terdapat bagian tertentu dalam otak yang memiliki kecenderungan untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari orang lain. Bagi seorang pendidik memahami fungsi otak akan menjadi sarana yang efektif untuk membangun relasi interpersonal yang intim dengan siswa di sekolah. Ketiga nenanamkan nilai-nilai kristiani kepada siswa. Dimana setiap anak berharga.

Catatan anak kampung, sebagai upaya diri untuk memahami anak zaman. (Martin/ SMA K Kanaan Jakarta)

Baca juga:
Surat yang Menginspirasi dari Kepala Sekolah

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Berkomunikasi dengan Anak Lewat Rasa"

  1. berkomunikasi dengan rasa selalu menyejukan bagi yang diajak bicara. Inspiratif

    BalasHapus