Penguasa Yang Mulia


Penguasa yang Mulia
Martin Karakabu, Guru Bahasa Indonesia SMA Kanaan Jakarta
Kau yang mulia,...
Enatah harus dengan cara apa? Pikirku. Kalut!!.
Kuyakinkan dirimu di sudut sana;
Caramu memaksaku untuk terus melihat langit,
Ah... ini tidak adil. Batinku.

Tanpa kedip, redup dan nyala lagi.....
Oh laksana lilin api di tengah badai.

Kau...kau...kau..KAUUUUUUU....u.u.u.u.u......
Menghadirkan sejuta tanya,
Diantaranya hadir pula rindu dan dendam;
Berpadu menjadi satu.

Ya... dalam hening yang tak pasti...
Dengan satu kenyataan yang penuh tanya
Oh sampai dimana dan mengapa?.

Yang mulia....
Kau sunggu mempesona dengan retorika semu,
Dibalut dengan senyum tipis, laksana sang raja di singgasana....
Kau penuh duri.

Antara kemunafikan dan roh Tuhan laksana sehelai benang.
Sulit kupilah, dan biarlah...

Takdir berkata apa, secuil pengharapan tetap kutatap.
Meski ratap kuhadirkan di ujung senja,
Tak mengapa asal batin dipuaskan.

Ini sebuah perjudian di simpang jalan.
Tapi biarlah aku kesal.
Bukankah hidup harus terus berjalan yang mulia?
Sang penguasa dunia...

Kau ....ohh kau yang mulia ... sang penguasa.
Mungkin aku salah tapi inilah hatiku...
Uuuuhhhh KAU...yang mulia sang penguasa.

Teruslah lakukan kebohongan dan omong kosong ini...
Kau penguasa di dunia.....



Coretan dalam Kelam dan Kabut Tebal
Awal Maret 2017.  

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penguasa Yang Mulia"

Posting Komentar