Belajar Bela Rasa Dari Anak Zaman

Nelysia
Gadis ini buatku kesal saja de, pikirku kalut saat itu. Gula gulana datang menghadirkan sejuta tantangan untuk seorang pengembara di rimba rayanya Tuhan, macam saya ini. Dia hadir dengan gayanya. Sopan itu pasti, ramah itulah yang kulihat, suaranya lembut ciri khasnya di mata saya, berempati itu pasti karena memang itu karakternya yang kukenal sebagai wali kelasnya. Dengan wajah seperti diliputi sejuta dosa dan beban yang teramat berat karena suatu kesalahan. Dia hadir di hadapanku sebelum jam pulang sekolah berakhir.

“Pak Martinus, minta maaf ya buat bapak jadi bermasalah”.

“Ah...” ujarku, penuh kebingungan, “Apa an si lw,...?” tanya dan juga jawabku sekenanya saja. Sebuah jawaban yang berkolaborasi antara kesal, jengkel, dan kagum yang berpadu menjadi satu.

Lantas pikirku lagi-lagi kalut. Jujur tantangan sebagai seni hidup sepertinya terus menderu. Dalam kalut dan hayal menjadi satu,  sebuah bunyi  khas media sosial, membuyarkan lamunanku. Sederhana saja pesan yang hadir lewat udara itu, “pak”. Benar-benar hanya itu.

Lantas kubiarkan saja. Aku masih menikmati lamunan dan gelisahku. Seleng berapa lama sebuah ide terbesit, “mungkin saya curhat saja di Nelly. Ya, daripada nungguin istriku tercinta yang cukup sibuk mengurusin si buah hati”.  “Toh meskipun masih cukup belia dia adalah gadis yang bijak dan pendengar yang baik”, gumulku saat itu.

Tidak perlu tunggu lama, dalam sekejap kata-kata apa adanya kukirim pada gadis manis tersebut. Sebuah kalimat pendek yang cukup mewakili  jengkel dan kesalku, teklinenyapun kutulis bahwa saya kesal karena kasus ini. Lantas tak berselang beberapa lama balasanpun kuterima.  Sebuah pesan yang menyatakan penyesalan dari sang dara karena katanya telah menyakitiku.

Ya ampun Nelly, lagi-lagi dirimu berkontrubusi juga buatku pusing hari ini.

“Pak, minta maaf ya buat bapak jadi bermasalah, jujur pak ga enak, kok seperti bapak yang bersalah semua”.  Istriku yang juga melihat tingkahku yang aneh lantas mengabil hp dan membaca. “Bapak, ini murid yang baik karena dia mau berbela rasa dengan bapak”; kata istri saya. 

“Iya tapi saya tidak pikirkan apa yang gadis itu pikirkan ma”, kataku dengan raut wajah yang kesal. “Saya pikiran karena kegiatan kemah pramuka ma”, jelas saya sekenanya saja.

“Kalau gitu ngomong dong pak”. Lantas saat itu kudiam saja de, daripada menghadapi orang-orang kayak gini, lama-lama buatku gila. Jurus tutup mulutpun kulakukan. Itulah secuil cerita tentang relasiku dengan sang murid yang kukagumi dan istriku yang penuh perhatian.

Kukagumi gadis kelahiran, 16 November ini karena sikap bela rasanya yang cukup baik di tengah situasi zaman dan gaya hidup wilayah urban yang cuek. Nelysia itulah nama gadis yang sangat peduli dengan rasa yang orang rasakan. Menurutku suatu pemandangan langkah di tengah situasi yang menggiring pada keautisan sosial. Terima kasih Nely, saya diingatkan lagi tentang ajaran sosial gereja Katolik keuskupan Jakarta, tentang berbela rasa.

Bagi gadis yang  suka nonton dan memiliki Hobby menyanyi ini, keseimbangan antara logika dan rasa itu perlu, namun tipikalnya yang cenderung “memakai rasa”  itupun baik.

Apa artinya logika dan kecerderdasan jika mengabaikan rasa sebagai sisi kemanusiaan yang paling hakiki.  Melalui gadis yang memiliki moto hidup “Ora Et Labora”, sebuah pepatah latin yang berarti belajar, berdoa, dan berusaha ini, sebuah sisi kewanitaan yang hakiki dihadirkan remaja ini.

Harapan terbesar saya semoga semangat dan inspirasi dari gadis melankolis yang memiliki cita-cita menjadi wanita karier di bidang bisnis ini; bisa juga menjadi semangat kita untuk berbela rasa. Sebuah cara sederhana, diajarkan oleh dara remaja tentang hidup dan manusia zaman.

Gadis ini bukan hanya kepeduliannya saja yang menjadi sisi baiknya; sikap tanggung jawabnya pun menjadi sisi positif yang pasti membanggakan guru di sekolah, bunda terkasih, dan ayahanda tercinta di rumah.

Inspirator dan penggagas pun layak disandingkan pada remaja ini, saat ulang tahun rekan-rekannya, dialah salah satu informan untuk mengingatkan saya agar memberi inspirasi pada remaja inspiratif. Terima kasih gadis manis yang sangat peduli sesama, hadirmu laksana lilin yang menerangi keautisan sosial yang kini datang mendera anak zaman. ***

MARI BELAJAR DARI ANAK

                                                                                                      

                                                                                           

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Belajar Bela Rasa Dari Anak Zaman"

Posting Komentar