Chef Pilihan Hidup Pria Murah Senyum

Jeremi Jo murid SMA Kanaan Jakarta
Jeremi Jo, calon Chef profesonal
Memasak dan wanita laksana dua keping mata uang yang tidak terpisahkan. Itu dulu, sekarang tidak sedikit pula laki-laki yang handal memasak. Memasak sepertinya muda, tetapi prakteknya tidak demikian. Orang yang pandai memasak sekalipun sering didatangi oleh tamu yang bernama rasa tidak percaya diri ketika masakannya harus dicicipi oleh orang lain. Maka tidak heran jika pengamat seni menempatkan “masakan sebagai karya seni yang paling berharga diantara semua karya seni yang lain” (https://muslimah.or.id/194-dapurku-surgaku.html). Begitu pentingnya memasak hingga tak jarang kita jumpai banyak orang yang terkagum-kagum dengan seseorang yang menguasai bidang ini.

Pemilik nama lengkap Jeremy Jo ini, lahir di Jakarta, 9 Mei 2001, dalam kesehariannya di sekolah tergolong murid yang ‘spesial’ karena bicara seperlunya. Kerapian adalah prioritas dalam penglihatan saya sebagai wali kelas. Hobbynya memasak. Seolah mau mengamini atau mempertegas hobynya, remaja yang murah senyum ini memiliki cita-cita menjadi seorang chef terkenal. Hal ini dibuktikan dengan cintanya dia terhadap dunia dapur.

“Pak Martinus, di rumah dia yang masak buat kami, tetapi yang lebih sering untuk kakak-kakaknya” . Kata sang ayah saat penerimaan rapor mid semester 2, Kamis, (6/4/2017) di kelas X IPS 2 SMA Kanaan Jakarta. Bagi remaja tanggung yang memiliki moto “cooking for the love one” ini. Kesadaraan akan potensi diri adalah hal yang paling utama.

“Karena saya melihat potensi saya bagus dalam bidang memasak pak,” katanya via line kepada penulis.

Sepertinya agak meragukan remaja SMA Kelas X, sudah bisa memutuskan jalan hidup yang harus diperankan di masa mendatang. Pilihannya pun tidak umum, apalagi dikatakan biasa. Namun, dari sosok yang satu ini kita belajar dua hal pembaca setia “Mars Semanggi”.

Pertama, hidup adalah pilihan, untuk melangkah setiap orang harus seminimal mungkin menentukan mau jadi apa kelak. Hal ini penting karena ibarat berjalan tanpa tujuan laksana orang buta melalui lorong sempit, berkelok, dan dalam kegelapan malam. Demikian halnya dengan tujuan hidup dan cita-cita pembaca sekalian.

Hal kedua yang tidak kalah penting adalah, berani memilih pilihan yang berbeda dari kebanyakan orang. Cowok ngurusin dapur, iris bawang, kebanyakan kaum patriarkat yang mendiami wilayah nusantara belum bisa diterima secara umum. Tentunya dengan berbagi dalil dan argumentasi yang mereka yakini sebagai kebenaran. Walaupun di zaman secanggi ini hal itu adalah wajar dan sah. Pembaca terkasih, point yang mau saya katakan bukan soal laki-laki mengurus dapur, melainkan pilihan yang berbeda dan tidak biasa peluang sukses dan persaingan dunia kerja bisa terjaga.

Hai anak muda yang murah senyum, terima kasih darimu yang menginspirasi, kami belajar tentang masa kini dan masa yang akan datang.

Catatan dan refleksi guru dan wali kelas X IPS 2. Kuncup 2017.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Chef Pilihan Hidup Pria Murah Senyum"

Posting Komentar