Istilah Teknis dan Manfaat Debat Bahasa Indonesia

ISTILAH TEKNIS DAN MANFAAT DEBAT
Pengantar
Sebelum saya menulis topik ini ada dua refrensi utama coba saya pelajari sebagai acuan saya dalam menulis. Melalui https://id.wikipedia.org/wiki/Debat penjelsannya sangat lengkap tentang debat; namun jujur, saya agak kesulitan memilah bagian mana sekiranya bisa dipahami secara sederhana. Selanjutnya saya coba membuka buku pegangan saya dalam mengajar, yakni buku Bahasa Indonesia Kelas X SMA karangan Endah Tri Priyatni dan Titik Harsiati. Mulai halaman 171 sampai halaman 191 sangatlah baik penjelasanya. Namun sepertinya butuh kreatifitas yang baik untuk dijadikan acuan bagi guru di depan kelas, karena hal-hal teknis debat tidak diuraikan secara tersurat, menurut saya.


Menyoal tentang debat banyak hal harus dijelaskan, seperti mekanisme debat yang baik, contoh teks debat, prinsip-prinsip debat, aturan debat, hal-hal yang dinilai dalam debat, dan banyak ragam yang lain. Jujur karena keterbatasan waktu, saya cukupkan pembahasan saya soal debat kali ini hanya menyangkut tiga hal. Pertama tentang apa itu debat, kedua tentang istilah teknis dalam debat, ketiga tentang manfaat mempelajari debat bagi siswa. Selanjutnya akan saya coba jelaskan satu persatu, berharap bahasan yang jauh dari sempurna ini sendikit membantu rekan guru yang “berjuang” di lapangan.


Apa itu Debat?
Menjawab sub pokok bahasan yang saya “kemas” dalam bentuk pertanyaan tersebut; cukup ambil gadjet dan buka “mba google”. Di situ dihadirkan banyak hal soal debat sekaligus bisa menjawab pertanyaan yang menjadi sub bahasan saya kali ini soal debat. 


Secara etimologis debat berasal dari Bahasa Inggris debate, yang artinya (1) perdebatan, (2) diskusi, perbincangan, (3) memperdebatkan (kamus Bahasa Inggris, dalam http://www.komunikasipraktis.com).   


Menurut KBBI, debat (baca: de’bat) adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Contoh debat tentang calon presiden.


Jadi singkatnya debat adalah cara kita mempengaruhi orang lain untuk mengikuti kemauan kita dengan menyajikan bukti-bukti yang meyakinkan.


Istilah Teknis dalam Debat
Mosi adalah topik debat, dalam gaya debat parlemen Asia biasanya mosi atau topik debat di awali dengan kata, “Dewan ini mempercayai ...............”.


Contoh
Dewan ini mempercayai bahwa pergantian kurikulum demi mewujudkan mutu pendidikan yang lebih baik.


Tim Pemerintah, pada hakekatnya sama dengan istilah tim pro atau dikenal juga dengan sebutan tim afirmasi. Maknanya sama yakni penyebutan untuk tim yang mendukung mosi. Sebagai contoh dewan ini mempercayai bahwa pergantian kurikulum demi mewujudkan mutu pendidikan yang lebih baik. Tugas dari tim pemerintah atau tim pro yakni mendukung mosi tersebut melalui argumentasi dan bukti-bukti yang dihadirkan.


Tim kontra atau di kenal juga dengan istilah tim oposisi yaitu penyebutan untuk tim yang menolak mosi. Maksud dari menolak mosi adalah pendapat dan dasar argumentasinya harus berlawanan dengan tim pro atau tim pemerintahan.


Contoh Mosi
Dewan ini mempercayai bahwa pergantian kurikulum demi mewujudkan mutu pendidikan yang lebih baik.


Maka dasar argumentasin tim pemerintah atau tim yang mendukung mosi adalah sebagai berikut:

Sistem pendidikan dikatakan baik apabila disesuaikan dengan situasi dan perkembangan zaman. Sebagai contoh kurikulum KTSP guru berperan sebagai orang yang “serba tahu”. Semantara tuntutan lapangan dengan adanya persaingan pasar bebas saat ini, setiap orang “dituntut” oleh sistem kerja yang kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, kami mendukung mosi ini karena melalui pergantian kurikulum di Indonesia, terutama pergantian kurikulum nasional atau yang dikenal dengan k 13, yakni guru hanya sebagai fasilitator sedangkan murid harus aktif. Dengan demikian menurut pandangan kami siswa akan dilatih atau secara tidak langsung siswa dibiasakan untuk kerja keras, kreatif dan inovatif; sehingga diharapkan bisa bersaing di era pasar bebas seperti saat ini. 


Jadi, sekali lagi saya tegaskan bahwa kami mendukung mosi ini dengan dasar argumentasi bahwa, “kemasan” pendidikan akan lebih baik jika disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sekian dan terima kasih selanjutnya saya kembalikan ke moderator.


Tim oposi tanggapannya harus berlawanan dengan tim pemerintah.


Contoh tanggapan tim oposisi

Dilansir dari www.dream.co.id, di situ di jelaskan bahwa dekade tahun 1960 an hingga dekade tahun 1970 an orang-orang Malaysia pernah belajar ke Indonesia walaupun kurikulum kita saat itu tidak secanggih saat ini. Kita masih memakai kurikulum CBS. Semantara itu, sebagai data perbandingan kami tim kontra mencoba hadirkan studi literasi kami dari http://www.berkuliah.com. Melalui situs ini dijelaskan bahwa salah satu tujuan kuliah dari pelajar Indonesia yang menamatkan pendidikannya dari tahun 2014 hingga 2015 adalah Malaysia. Negara Jiran ini menduduki urutan pertama (51 %) minat pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah, Cina (20 %), dan sisanya (29 %) menetap di Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.


Tim afirmasi yang kami hormati artinya apa, di sini sangat jelas bahwa meski kurikulum terus berganti setiap tahunnya jika kualitas guru tidak diperbaiki, sarana dan prasarana tidak dibenahi maka semuanya sia-sia.


Jadi dengan tegas kami menolak mosi ini, dengan dasar argumentasinya adalah meski kurikulum setiap tahun berganti, tetapi kualitas guru tidak diperbaiki maka semuanya sia-sia; karena guru yang mengaplikasikan tuntutan kurikulum. Sekian dan terima kasih.


Pembaca sekalian kurang lebih seperti itu contoh argumentasi antara tim pro dan kontra harus bertentangan. Hal ini berlaku dari pembicara 1 sebagai pembuka argumentasi sampai pada pembicara ke 2 dan 3.


Soal ini akan saya bahas pada contoh teks debat dan fungsi dari pembicara 1, 2, dan 3 dalam debat di kesempatan mendatang.  
    

Moderator adalah orang yang mengatur jalannya debat.


Pengatur waktu adalah orang yang bertugas memberikan kode dengan ketukan. 1 kali ketukan mulai berbicara sampai menit pertama, bagian ini tidak diperkenankan untuk melakukan interupsi. Ketukan kedua, dari menit pertama sampai menit ke 6 peserta debat boleh melakukan interupsi. Ketukan panjang biasanya menit terakhir yakni menit keenam sampai menit ketujuh yang menandai batas waktu pembicaraan telah berakhir.


Secara umum aturan soal waktu dalam debat setiap pembicara yakni 7 menit 20 detik. Penggunaaan di sekolah disesuaikan dengan kualitas murid dan sumber daya yang mendukung.


Interupsi adalah penyelaan atau pemotongan pembicara dari lawan debat, apabila hal yang disampaikan itu tidak sesuai dengan dasar argumentasi, ataupun hal yang disampaikan tidak dipahami. Sekedar catatan interupsipun bisa menjadi strategi dari lawan untuk membuyarkan alur dari pembicaraan. Soal ini akan dijelaskan pada bagian yang lain.


Pembicara pertama, orang yang bertugas membuka pembicaraan atau dalam debat dikenal dengan istilah pempidato. Tugasnya adalah mendefinisikan mosi, memberi batasan dari argumentasi tim, menjelaskan mengapa timnya menolak atau menyetujui mosi, dan menganalisis jika dewan menolak kira-kira masalah apa yang ditimbulkan di masa mendatang.


Pembicara kedua, bertugas menyanggah argumentasi lawan dan menguatkan kembali argumentasi timnya dengan contoh-contoh kongkrit.


Pembicara ketiga, bertugas menyanggah argumentasi lawan dan menguatkan argumentasi timnya, terutama atau fokusnya adalah hal-hal yang belum disampaikan oleh pembicara pertama dan kedua, kemudian menyimpulkannya.


Dalam debat biasanya ada pidato penutup (ini relatif bisa ada bisa tidak, tergantung panitia pelaksana). Tugas dari pempidato penutup, secara teknis sama dengan pembicara ketiga yakni menyimpulkan keseluruhan pembicaraan dari tim. Namun pempidato penutup lebih ditekankan pada gestur dan “permainan intonasi” yang meyakinkan juri atau guru (jika di kelas) bahwa argumentasi timnyalah yang paling baik. Pidato penutup dalam aturan baku gaya debat perlemen Asia adalah orang pertama atau orang kedua.  Mengenai hal ini akan saya ulas pada tulisan saya berikutnya tentang contoh teks debat dan mekanisme debat yang baik.

Manfaat Mempelajari Debat.

“Apa manfaat bagi saya mempelajari debat?”,

“Toh saya tidak ingin menjadi pengacara, atau orator terkenal yang dituntut pandai berargumentasi”. 

"Saya ingin menjadi pengusaha yang sukses; yang tentunya tidak perlu mempelajari debat”. “Kalaupun saat ini saya kelihatan serius mempelajari topik ini, tujuan saya satu, supaya mencapai KKM dan lulus sekolah”.

Pembaca dan para guru bangsa yang saya kagumi. Hal-hal ini penting untuk kita pahami dari anak, yang mungkin kontruksi berpikirnya seperti yang saya kemukakan di atas. Maka tugas kitalah membuka cakrawala berpikirnya bahwa soal berbicara dan debat bukan sebatas dan sedangkal itu. Saya tahu bahwa para guru yang sudah “kenyang pengalaman” di lapangan pasti sudah mengetahu hal ini, ataupun tidak bermaksud menggurui, hanya sekedar membangkitkan kembali ingatan kita tentang sesuatu hal yang bernama apresepsi.  Apa itu apresespsi saya pikir bukan saatnya untuk dijabarkan secara mendetail. Mungkin suatu saat nanti.

Rekan guru dan pembaca sekalian setelah kita mencoba memahami pskologi anak dengan rasa, maka langkah selanjutnya adalah membuka cakrawala berpikir peserta didik kita soal debat. Ilustrasi sederhana apapun profesinya, apapun status sosialnya, siapapun dia yang namanya komunikasi pasti melekat dan dibutuhkan oleh siapapun. Ranah komunikasi secara garis besar dibagi menjadi dua ragam. Lisan dan tulisan, tentu semua guru dan pembaca yang budiman sudah mengetahuinya dengan baik. Ragam lisan, dibagi menjadi 2 monolog dan dialog. Saya yakin pada bagian ini, rekan guru bahasa Indonesia sudah sangat paham soal ini dan saya di sini tidak mengulas tentang monolog dan dialog secara spesifik. Apalagi soal empat keterampilan berbahasa, satu diantaranya adalah keterampilan berbicara. Bukan waktunya untuk dibahas.

Langsung saja, apa manfaatnya siswa mempelajari debat.

Pertama Menguji Mental
Soal ini menurut hemat saya dan dari pengalaman saya mendampingi siswa-siswi saya SMA Kanaan Jakarta dalam berbagi lomba debat. Mental adalah kendala terbesar. Pintar matematika dan fisika saja tidak cukup atau belum lengkap. Sebelum kita mampu menjelaskan apa itu fisika, mengapa kita harus mempelajari matematika kepada orang lain; dan meyakinkan orang tersebut bahwa apa yang kita bicarakan penting bagi lawan bicara kita. Pada bagian ini maka teknik debat menjadi penting untuk dipraktekan. Ya tidak harus memunculkan urat saraf seperti debat pilkada di layar kaca Tv, tetapi tentunya dengan cara-cara persuasif dan sopan.

Jika mental tidak siap maka apa yang mau disampaikan tidak tersampaikan dengan baik. Maka akibat yang terjadi adalah lawan bicara kita tidak paham apa yang kita bicarakan. Tentunya ada hal lain yang mempengaruhi, seperti intonasi, artikulasi, gestur, materi, persiapan, dan lain sebagainya. Namun semuanya akan menjadi sia-sia jika kondisi dari dalam diri kita (baca: peserta didik) merasa tidak siap atau tidak percaya diri. Soal dalam diri, merasa tidak siap, itulah yang saya maksudkan dengan mental.

“Bagimana supaya mental saya menjadi baik?”, dengan kata lain supaya saya tidak grogi saat berbicara di depan umum.

Jika ada siswa yang mempertanyakan hal itu, maka jawabannya ada pada siswa itu sendiri. Maksudnya adalah maksimalkan persiapan, kuasai materi, terus melatih diri untuk berbicara di depan kelas. Bertanya pada guru yang bersangkutan tentang teknik debat dan fungsi setiap debator (pembicara 1,2,3 fungsinya apa, pro fungsinya apa, kontra fungsinya apa).  

Jadi soal mental bukan hanya saat debat tetapi keberlanjutan dari sang anak atau peserta didik dalam kehidupan mendatang. Sekolah dan guru hanya mempersiapkan siswa-siswinya. Jika siswa menyangsikan ketidakrelevannya dengan kehidupan mendatang maka gurulah yang harus menjelaskannya.

Kedua Melatih siswa untuk Kritis  
Karakter kaum intlektual adalah tidak muda mempercayai sesuatu, atau dengan kata lain selalu mempertanyakan keabsahan sesuatu hal. Ini sangatlah penting ditengah maraknya berita hoax di berbagai sosial media akhir-akhir ini karena isu pilkada, agama suku dan ras tertentu. Sekolah dan guru sebagai garda terdepan ya mempersiapkan calon generasi muda yang kritis agar tidak muda dibohongi. Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa materi debat dalam pelajaran Bahasa Indonesia sangat penting artinya bagi generasi sesudah kita.   

Ketiga Debat Membuat Anak Tahu Banyak Hal
Bagian atas telah saya jelaskan supaya tidak grogi seorang siswa dalam mengikuti debat “dituntut” mempersiapkan materinya maksimal dan menguasi topik debat. Sebagai contoh mosi debatnya adalah UJIAN NASIONAL TIDAK MENJADI TOLAK UKUR KEBERHASILAN SEORANG SISWA. Dari mosi ini, tim pemerintahan atau tim pro saat menyatakan persetujuannya tentu mencari berbagi literatur yang mendukung parameter berpikirnya; demikian halnya dengan tim kontra atau oposisi. Kesamaan keduanya adalah mencari refrensi yang menguatkan argumentasi masing-masing. Untuk mencapai atau memenuhi hal itu orang harus banyak baca. Dengan membaca banyak hal secara otomatis orang akan tahu banyak hal juga. Dengan mengerti banyak hal tentunya memudahkan seorang siswa menjalani kehidupannya setelah lepas dari bangku pendidikan.

Sampai di sini saya berharap kontruksi berpikir ala siswa bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih; sebagai “bekal” bagi anak didik kita pada kehidupan mendatang.

Penutup
Sidang pembaca yang kritis dan guru bangsa di mana saja mengabdi, tulisan saya yang tidak jelas dan jauh dari sempurna ini tujuannya hanya sekedar berbagi bukan menunjukan ketahuan saya pada bidang ini. Harapan terbesar saya adalah kemasan guru yang menarik dapat membangkitkan minat belajar Bahasa Indonesia semakin bertambah. Syukur kalau sampai pada taraf mencintai Bahasa Nasionalnya dan mengaktualisaikan di kehidupan mendatang. Semoga Bermanfaat ***



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Istilah Teknis dan Manfaat Debat Bahasa Indonesia"

Posting Komentar