Tegas dalam Prinsip Lembut dalam Rasa

Justin Marcelino
Justin Marcellino
Sebagai pengantar tulisan tentang sosok muda ini, saya ingin mengutip pernayataan Che Guevara, seorang pemimpin revolusi kuba yang berbunyi  “Meski ragaku di dalam penjara tetapi engkau tidak dapat mengekang idealisme yang kuyakini sebagai kebenaran”. Siapa si, sosok ini sehingga begitu istimewanya bagi penulis sampai menyandingkannya dengan pejuang kuba di seberang sana. Dia bukan anak raja, juga bukan artis terkenal. Singkatnya dia bukan siapa-siapa; untuk saat ini, itulah kenyataannya. Hanyalah seorang pelajar kelas X di SMA K Kanaan Jakarta. Namanya Justin Marcellino. Di masa mendatang kuyakin sosok muda yang mempesona ini bisa menjadi the next  Ahok, atau bisa saja bermetamorfosis sebagai Presiden RI saat ini, Ir. Jokowidodo yang santun dan lembut, namun tegas terhadap prinsip. Ah lebay ne penulis. Masa iya si?. Tidak ada yang tidak mungkin. Meminjam istilah yang diyakini umat Kristiani, Tidak Ada yang Mustahil Bagi Tuhan untuk menjadi apapun yang berguna bagi negeri ini. Termasuk  di dalamnya kaum minoritas, etnis Cina atau suku manapun. Republik ini milik kita semua.

Sepertinya sudah terlalu banyak retorika dibombardir pada tulisan ini sehingga tujuannyapun tidak fokus lagi. Sebaiknya pembaca terkasih kita kembali pada sosok muda ini. Tentang keyakinanku di masa mendatang tentang anak muda ini, bukan tidak berdasar. Atau pun hanya permainan kata untuk menarik minat pembaca, sama sekali tidak. Sebagai guru dan wali kelas, interaksi kami setidaknya cukup dekat dengan pemuda tampan kelahiran Jakarta ini. Ada berbagi cerita dalam menemani tumbuh gembang pemuda yang menyukai dunia musik ini. Tetapi kisah suatu pagi sunggu menginspirasi bagiku untuk menulisnya.

“Justin, kenapa kalian berkelahi?”.                                                   
Hardikku dengan sedikit emosi yang kutahan.

“Pak!”, ia menatapku dengan sedikit kecewa; kemudian dengan penuh ketegasan dan sangat tenang tutur katanya ia berusaha menjelaskan kepadaku.

“Terserah bapak mau ngomong apa, yang jelas saya tidak berkelahi, tetapi hanya mempertahankan diri karena dipukul oleh Rudi”.

“Kalau tidak berkelahi lantas apa Justin, pagi – pagi uda buat rame kayak gini”, tanyaku.

“Saya pikir, pertanyaan bapak tidak perlu saya jawab karena saya sudah jelaskan sebelumya”. “Kalau saya hanya mempertahankan diri karena tiba-tiba Rudi datang dan menarik lengan saya pak. Saya kaget kemudian secara refleks saya pukul, kemudian dibalas lagi oleh Rudi dan jadilah seperti yang bapak lihat”.
Jelasnya lebih lanjut kepadaku.

“Kalau begitu panggil Rudi !”. Ujarku, dengan sedikit nada memerintah kepada remaja yang memiliki hoby bermain game tersebut.

Singkat cerita, Rudi datang dan saya meminta Justin untuk meminta maaf.

“Pak Martinus yang saya hormati, saya tidak mungkin minta maaf duluan, sampai kapanpun karena saya tidak salah pak”. Ujarnya dengan nada tinggi.

Lantas sebagai wali kelas, saya harus berusaha mengayominya, namun sebagai guru sayapun harus mengajari nilai-nilai hidup sebagai bekal baginya di masa mendatang. Rendah hati, rasa persaudaraan, dan nilai-nilai Kristiani harus disemai sejak dini pada mereka. Akhirnya saya putuskan untuk melakukan pendekatan dengan rasa, berusaha memahami kecewanya, rasa kesal, dan emosi yang ditunjukan oleh sosok muda yang memiliki motto “Don’t lose the faith, keep praying, keep trying” tersebut.

Setelah saya ngobrol dengan menempatkan posisi saya pada posisinya dan dengan pendekatan persuasif tentunya. Akhirnya sosok yang dikenal emosional oleh teman-temanya ini, dengan sikap rendah hati, melangkah dengan yakin, menjabat tangan orang yang membuatnya marah; dan dengan lantang berkata, “gw minta maaf”. Sesederhana itu pembaca terkasih cara kita memaafkan dan menciptakan damai. Pelajaran hidup yang bisa ditarik dari litani remaja yang amat sangat panjang ini adalah, berpegang teguh pada prinsip, tegas dalam perkataan namun lembut dalam pelaksanaan, dan menempatkan rasa sebagai cara jitu memahami orang lain.

Pembaca terkasih bukankah ketegasan sangat diperlukan oleh pemimpin kita saat ini?. Di  tegah carut-marutnya persolan bangsa. Prinsip yang kuat, menjadi hal yang langkah di tengah pemandangan korupsi yang kian mendera bumi pertiwi. Contoh apa yang diberikan kaum tua pada generasi ini, KORUPSI kah itu .... hehhe miris bangat Indonesia. Memakai hati untuk memahami adalah yang harus dimiliki oleh generasi muda abad ini, di tengah krisis moral yang melanda.

Mungkin secuil celotehanku tentang muridku tidaklah lengkap dan sempurna untuk memberi inspirasi. Namun, hidup dan pengalaman selalu memberinya pelajaran penting untuk menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin. Terus belajar anak muda. Tuhan memberkatimu.

Catatan dan refleksi sang guru dari kehebohan kalian “Kuncup X IPS 2”.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tegas dalam Prinsip Lembut dalam Rasa"

Posting Komentar