KUNCUP, MURID ISTIMEWA

SMP Negeri 1 Fef "hadir" di SMA Kanaan Jakarta
Blitz Wisuda Kelas XII menanti kebersamaan kita Kuncup
Saya bangga dan sangat bahagia bersama anak-anak ini. Mereka adalah Kuncup. Apa itu kuncup?, kuncup adalah sebuah nama yang dipakai oleh anak-anak kelas X IPS 2 SMA Kristen Kanaan Jakarta untuk komunitas kelas. Itu dulu, jelasnya baca di sini 32 Tahun yang Berkesan BersamaKuncup.

Jika dulu apakah kuncup sudah berakhir?

Jawabannya tidak, ya sama sekali tidak; bahkan semakin kompak meski berbeda kelas, bahkan berbeda sekolah. Mengapa berbeda kelas, baca di sini 3 Manfaat Memiliki Teman dan Wali Kelas yang Baru, kalau soal berbeda sekolah, itu ceritanya panjang, dan tidak akan kuceritakan di sini.

Oke kembali ke Kuncup.

Jujur, saya benar-benar dibuat terharu oleh anak-anak ini. Sepanjang perjalanan saya, selama kurang lebih 5 tahun menjadi guru. Siswa-siswi SMP Negeri 1 Fef Papua Barat dan Siswa-Siswi Kelas X IPS 2 (Kuncup) yang membuatku sadar bahwa profesi guru sangatlah membahagiakan jika kita tulus dalam mengabdi dan melayani siswa dengan iklas. Resepnya adalah jadilah guru yang bisa mendengar, jadi seorang pendidik yang bisa berkawan dengan siswa; dan lakukan semua itu dengan iklas dan setulus hati.

Bahagianya seperti apa?

Itu relatif dan tergantung seorang guru memandang dan memaknai profesi keguruannya. Namun bagi saya bahagia itu, jika cinta tulusmu dibalas, bukan dengan uang sekarung sekalipun, karena bahagiaku bukan soal uang tetapi dengan cara yang tidak diduga anak muridmu memberikan sebuah kado. Bukan soal mahalnya harga kado itu, tetapi lihatlah cinta mereka. Sekali lagi jangan memandang materi, maka kebahagian hakiki sebagai guru akan kita peroleh dari anak para guru bangsa sekalian.

Guru bangsa sekalian, saya memiliki dua kisah yang menurut saya sangat menyentuh relung terdalam. Kisah pertama adalah saat menjadi seorang guru muda di tengah pedalaman Papua. Tepatnya di SMP Negeri 1 Fef Kab. Tambrauw Papua Barat. Saya katakan kepadamu guru bangsa sekalian. Teori kuliah, seperti disiplin, psikologi siswa, apalagi teori – teori kebahasaan tidak berlaku di sini, (menurut saya). Saat bertugas pada tahun 2012 lalu. Hanya satu teori yang membuatmu dicintai, layani mereka dengan hati yang tulus dan iklas maka cinta mereka akan diperoleh.

Saat sakit karena ganasnya malaria di pedalaman Papua, transportasinyapun hanya mobil dabel gardan yang adanya pun tidak menentu. Bisa sebulan sekali, bisa tidak. Puskesmas, medis, apalagi rumah sakit nyaris tidak pernah kudengar apalagi melihatnya.

Saat bertarung dengan ganasnya penyakit malaria. Jauh dari keluarga. Memang hanya seorang diri di tengah hutan belantara. Siapakah yang menolongku, apakah seorang dokter atau petugas medis. Jawabanya tidak. Siswalah yang menlongku, merekalah yang menjadi dokter dengan mencarikan ramuan alam, merekalah orang tua dan saudara-saudaraku, memberiku makan dan mengurusin seorang guru hingga bisa mengajar kembali. Kuliat ketulusan dan cinta yang iklas di mata anak-anak itu. Kisahnya mungkin akan kuceritankan di lain waktu. Kali ini saya akan membahas tentang Kuncup.

Tahun 2013 saya hadir di SMA Kanaan Jakarta dan mengajar anak – anak metropolitan. Situasinya SANGAT JAUH BERBEDA dengan kondisi Papua. Harus saya akui untuk mendapatkan “cinta” dari anak murid metropolitan butuh proses dan perjuangan yang sangat panjang, penuh liku dan warna. Sekali lagi jika kita (baca: guru) kaku dengan teori – teori yang diperoleh dibangku kuliah maka nikmatilah stres tingkat tinggi yang diberikan oleh anak-anak.

Tetapi ada satu teori yang membuat mereka bisa memahamimu guru bangsa, yakni teori hati. Itu bukan teori dari ahli pendidikan tetapi refleksi seorang guru kampung seperti saya. Maksudnya layani anak dengan hati yang tulus dan iklas maka cinta mereka akan diperoleh.

Jangan berpikir mereka tidak menilaimu rekan guru. Anak-anak zaman ini sangat kritis dan cerdas, mereka tahu mana guru yang ke sekolah hanya untuk menawarkan dagangan, mana guru jadul yang ceramah melulu setiap hari, mana guru yang asal dapat gaji, dan mana guru yang melayani dengan iklas.

Apakah saya sudah “taklukan” mereka dengan teori hati yang saya gembar-gemborkan di atas. Sama sekali tidak bapak dan ibu sekalian. Saya pun masih belajar dan terus belajar tetapi saya tahu satu hal yang pasti yakni jadilah guru yang bisa melayani dengan hati. Kesimpulan ini saya dapatkan bersama anak-anak kelas X IPS 2 SMA Kanaan Jakarta yang mereka namakan kelompoknya dengan sebutan Kuncup.

Seperti apa maksudnya?. Itu sulit untuk dijawab karena ini soal rasa. Tetapi satu keyakninan yang membuatku percaya adalah, 8 September 2017 saat mereka semua berkumpul dan memberikan sebuah kejutan di ulang tahunku untuk kali keduanya membuatku sadar guru bisa salah, guru harus belajar dari anak, guru mesti jadi teman, guru harus tegas tetapi jelaskan dimana kesalahan anak. Singkatnya jadilah guru yang melayani dengan hati.


Terima kasih Kuncup untuk momentum yang penuh kontemplasi di ruang kelas XI IPS 1/ Jumat, 8 September 2017. Itu sesuatu yang tidak bisa saya lupakan sepanjang jalan ini. Lakukan hal yang sama saat pengumuman kelulusan kelas XII nanti dan SEMUA HARUS LULUS DAN MARI KITA BUAT “KEGILAAN YANG PALING GILA”. Saya tunggu racikan kelulusan kelas XII. Full time dan semua harus berbahagia karena lulus dengan nilai yang memuaskan. Salam untuk kalian anak-anak hebat dan nantikan cinta dari saya, versi saya selama menemani perjalanan kalian menuju kelulusan nanti.*** #Loe Badung Gue Tabok.

Baca Juga : Catatan Seorang Wali Kelas Edisi Ke 2

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KUNCUP, MURID ISTIMEWA"

Posting Komentar