Islam Kini di Negara Paman Sam

Negara Paman Sam atau Amerika Serikat merupakan negara dengan populasi terbanyak ketiga di dunia dengan jumlah populasi 325.169.524 jiwa atau setara dengan 4,4% dari jumlah penduduk di dunia. Dari banyaknya populasi, 0,9% dari penduduk Amerika Serikat merupakan penduduk Muslim.

Penduduk Muslim di Amerika Serikat sendiri berjumlah 3,3 juta jiwa dan 72% merupakan imigran yang berasal dari berbagai daerah seperti Asia Timur, Arab dan keturunan Afrika-Amerika. Imigran Muslim mulai berdatangan ke Amerika Serikat pada tahun 1880 hingga sekarang.

Islam Kini di Negara Paman Sam
Sumber gambar LIHAT DI SINI
Masuknya imigran berlatar belakang keturunan Asia Timur tidak pernah jadi masalah bagi pemerintah maupun masyarakat non-imigran dan imigran mengingat negara Amerika Serikat mengenal paham Liberalisme. Menurut Coady C. A. J. dalam bukunya yang berjudul A Companion to Contemporary Political Philosophy, Liberalisme dianggap sebagai suatu etika sosial yang menganjurkan kebebasan dan kesetaraan secara umum. Istilah “Liberalisme” berasal dari  kata latin “liber” yang berarti “bebas.”

Namun, bagi Penduduk Muslim Amerika, implementasi Liberalisme ini sudah mulai luntur sejak serangan pengeboman oleh sebuah grup teroris pada tanggal 9 November 2001. Pasalnya, serangan pengeboman ini dilakukan oleh sekelompok grup teroris Islami Radikal yang berideologi Wahabbisme.

Dilansir dari Wikipedia, Wahabbisme merupakan doktrin Islam dan gerakan keagaaman yang dicetuskan oleh Ibnu Abdul Al-Wahhab (1703-1792). Doktrin ini dianggap radikal dan keras oleh sebagian penganut Islam sendiri. Menurut Daniel Benjamin dan Steven Simon dalam buku mereka yang berjudul The Age of Sacred Terror, menyatakan bahwa serangan teror islami sebenarnya murni alasan religius. Serangan ini seolah merupakan sakramen yang dibenarkan dalam wujud menetralisasikan moral dunia dari perbuatan musuh-musuh orang Islam dan sebagai penebusan untuk membantai orang-orang yang menantang kekuasaan Tuhan.

Tentu saja ajaran ini awalnya diberitakan lewat pidato dan ujaran-ujaran kepada pemuda-pemudi Islam lewat doktrin-doktrin agama. Walaupun ujaran doktrin ini hanyalah kata demi kata yang diajarkan, namun siapa sangka dampaknya terhadap dunia sangat besar sekarang. Bahkan doktrin ini telah membuat penganut agama Islam sendiri kepayahan karena stereotipe yang muncul di kalangan masyarakat global.  

Serangan 9 November 2001 diperingati setiap tahunnya dengan sebutan 911. Serangan yang didalangi Osama Bin Laden ini mengakibatkan 2996 kematian dan lebih dari 6000 luka-luka. Kerugian yang ditafsir atas serangan 911 pun juga tidak tanggung-tanggung, mencapai $10 milliar dalam bentuk infranstruktur maupun properti umum.

Peristiwa ini pun berujung dengan kekerasan verbal yang dialami oleh penduduk Muslim Amerika.

Sebuah survey di tahun 2007 yang dilakukan oleh NEWSWEEK Poll berjudul: American are Mixed on U.S. Muslims. New York. melaporkan bahwa 53% Muslim Amerika mengaku lebih susah menjadi seorang Muslim sejak peristiwa 911. 19% menyebutkan dirinya didiskriminasi, 15% mengaku dirinya dianggap sebagai teroris, 13% mengaku dirinya tidak diakui dan sisanya (12%) merasa bahwa dirinya dibeda-bedakan dari yang lain.

Bahkan bukan hanya kekerasan verbal saja yang diterima oleh penduduk Muslim Amerika. Kebencian yang diutarakan oleh orang Amerika non-Muslim meningkat sejak peristiwa 911. Hal ini dibuktikan lewat sebuah publikasi dalam Jurnal Psikologi Sosial Terapan (Journal of Applied Social Psychology) yang menyimpulkan bahwa jumlah penyerangan terhadap Anti-Muslim meningkat di Amerika di tahun 2001 setelah kejadian 911, dari 354 menjadi 1501 kasus.

Di tahun yang sama, The Arab-American Institute melaporkan kenaikan signifikan kebencian terhadap Islam dengan ditandai diskriminasi dan penghancuran terhadap barang pribadi.

Lalu, bagaimana dengan Islam masa kini di Negara Amerika Serikat?

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden ke 45 Amerika Serikat dianggap memperburuk keadaan sosial penduduk Muslim Amerika. Salah satu bentuk contohnya adalah penandatanganan sebuah perintah eksekutif penghentian seluruh penerimaan pengungsi dan sementara melarang masuknya orang-orang dari 7 negara mayoritas Muslim yakni Iran, Libya, Syira, Sudan, Somalia dan Yemen oleh Presiden Donald Trump pada tanggal 27 Januari 2017 kemarin.

Meskipun Donald J. Trump sudah menyatakan kepada media bahwa perihal banned sebenarnya bukan tentang agama melainkan mencegah teroris masuk ke Amerika Serikat, pernyataan ini telah menimbulkan sentimen dalam kalangan masyarakat. Berdasarkan Pew Research Center: “U.S. Muslims Concerned About Their Place in Society, but Continue to Believe in the American Dream” 2 dari 3 Muslim Amerika berkata Donald Trump membuat mereka khawatir.

Sentimen yang diciptakan oleh Presiden Donald J. Trump membuat warga Amerika non-Muslim semakin menjadi-jadi. Meskipun Amerika Serikat memegang paham liberalisme, kebebasan sudah tercoreng namanya bagi Muslim Amerika. Bahkan baru-baru ini, komunitas Muslim di A.S. menghadapi gelombang kefanatikan dan permusuhan yang mengganggu. Dari diskriminasi dan serangan bermotif agama terhadap pusat-pusat Islam. Umat Islam di Amerika ditargetkan secara tidak adil hanya karena menjalankan hak dasar konstitusional mereka terhadap kebebasan beragama.

Banyak organisasi-organisasi yang dibentuk di Amerika Serikat untuk membela kebebasan umat Islam, seperti contohnya ACLU (American Civil Liberties Union), MAS (Muslim American Society). Namun, apa yang dapat kita lakukan sebagai warga Indonesia kepada Muslim Amerika, bahkan sebagai minoritas?

Memang, kita tidak dapat membantu Umat Islam yang ada di Amerika Serikat dalam jangka waktu pendek, tetapi kita dapat membantunya untuk jangka waktu panjang. Kita sebagai warga Indonesia dapat menghargai perbedaan yang ada, terutama terhadap antar umat beragama. Juga sebagai Umat Islam yang berada di Indonesia, kita harus bersatu dan menciptakan perdamaian.

Dengan demikian, negara adikuasa seperti Amerika Serikat akan melihat bahwa Umat Islam bukanlah teroris, tetapi sama seperti kita semua, sama di mata Tuhan.  (JC 18 November 2017)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Islam Kini di Negara Paman Sam"

Posting Komentar