Dia Sahabatku, Dia Cintaku

Dia Sahabatku, Dia Cintaku
Aku dan Vira sudah bersahabat sejak kecil, karena rumah kami berdekatan. Jadi kami sering menghabiskan waktu bersama untuk bermain. Sekarang kami tetap suka menghabiskan waktu bersama untuk bercerita masalah kami masing-masing, walaupun kami tidak bersekolah di SMA yang sama.

Sepulang sekolah aku singgah ke rumah Vira seperti biasanya. Vira bercerita bahwa disekolahnya ada seseorang yang menyatakan cinta kepadanya. Vira juga mengakui bahwa dia memiliki rasa suka kepada laki-laki itu. Sehingga Vira meminta saranku dalam hal ini.
“ Vito.. menurutmu gimana ? aku terima gak ya ?” tanya Vira kepadaku.
“ Ya kalau kamu memang menyukainya sih terima aja”, jawabku.
“ Hmm.. oke deh, makasiii ya Pito buat sarannya”, katanya.
“ Ya udah, aku pulang dulu ya Vir, aku banyak tugas nih”, kataku sambil bersiap pulang.
“ Ahh iya nggak terasa udah sore banget, ya udah bye-bye Vit”, katanya sambil mengantarku keluar rumahnya.

            Sesampai di rumah, aku langsung memberi kabar kepada Vira bahwa Aku sudah sampai di rumah dengan selamat. Itu sudah menjadi kebiasaan kami sejak dulu. Sambil Aku baring di kasurku, Aku mengingat perbincangan dengan Vira di rumahnya tadi. Aku tidak mengira bahwa Aku dan Vira sudah tumbuh dewasa. Sebenarya Aku tidak begitu mengerti tentang percintaan, karena aku belum pernah mengalaminya.

            Keesokannya, sepulang sekolah, Aku melihat Vira sudah ada di rumahku. Dengan wajahnya yang gembira, dia mengatakan bahwa dia ingin bercerita tentang laki-laki yang kemarin menyatakan cinta kepadanya.

“ Vito... sesuai saran kamu kemarin, aku bilang aku menerimanya, jadi kami sekarang resmi pacaran”, ucapnya dengan mimik wajah yang sangat senang
“ Wah... baguslah kalau begitu, kalian kan memiliki perasaan yang sama, aku harap hubungan mu langgeng ya”, kataku

“ Makasi ya Vito. Kamu harus bantu aku terus yaa, karena ini pertama kalinya aku pacaran”, ucapnya
“ Iya deh, tapi kamu harus hati-hati ya, jangan mau dipegang-pegang sembarangan”, ucapku serius
“ Iya Vito, aku bisa kok jaga diri baik-baik”, ucapnya

            Setelah melakukan perbincangan yang cukup lama, Reno pacarnya Vira menjemput Vira di rumah ku. Vira pun mengenalkan Aku dengan Reno, sehingga Reno pun tahu kalau Aku adalah sahabat Vira sejak kecil. Menurutku ada baiknya juga Vira mengenalkan Aku dengan Reno, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Walaupun melihat sifat Reno yang baik terhadap Vira, Aku tetap memiliki rasa cemas kalau tiba-tiba Reno melakukan hal yang tidak baik terhadap Vira.

            Setelah beberapa minggu berlalu, Aku merasa pembicaraanku dengan Vira selalu di seputar hubungan Vira dengan kekasihnya itu. Sebenarnya aku mulai merasa bosan mendengarkan cerita Vira yang selalu membahas hubungan dia dengan pacarnya itu. Tetapi bagaimanapun Aku dan Vira adalah sahabat yang sejak dulu kami selalu cerita satu sama lain tentang masalah kami. Selama beberapa minggu itu, Vira selalu berkata bahwa hubungannya baik-baik saja.

            Tetapi pada suatu saat, sepulang sekolah aku menghampiri Vira ke rumahnya. Aku melihat Vira sedang menangis. Vira yang melihatku datang pun langsung memelukku sambil menangis. Aku pun menggunya sampai dia siap ceritakan masalahnya kepadaku.

“ Kamu kenapa bisa nangis kayak gini Vir?”, tanya ku sambil mengelap air matanya
“ Re..reno selingkuh sama temenku Vit”, ucapnya dengan sesegukan
“ Dasar cowok br*ngs*k ya si Reno. Kamu tau gak dimana dia sekarang ?”, tanyaku emosi

            Vira pun menceritakan kejadian yang membuatnya kecewa dan sakit hati. Saat di jalan pulang ke rumahnya, Vira melihat Reno pacarnya di kafe dekat sekolahnya bersama dengan Ririn temannya di sekolah. Vira melihat Reno bermesraan dengan Ririn. Vira pun menghampiri Reno dan Ririn.
“ Reno, Ririn kalian sedang apa?”, tanya Vira dengan nada emosi
“ Vi...vira kamu ngapain di sini?”, ucap Reno panik
“ Kalian ngapain berdua mesra-mesraan?”, tanya Vira emosi
“ Kamu yang ngapain di sini Vir? Ganggu aja orang lagi pacaran juga!”, jawab Ririn tanpa merasa bersalah
“ Apaa ?! kalian udah gila ya ? bisa-bisanya kalian main di belakang aku !!”, ucap Vira sambil menangis emosi
“ Aku bisa jelasin kok Vira”, ucap Reno panik
“ Nggak yang perlu dijelasin Ren”, ucapnya sambil meninggalkan tempat tersebut

            Aku sangat emosi mendengar penjelasan Vira dan ingin menghajar Reno. Tapi setelah aku berpikir, akan membuang waktu jika aku menghajarnya. Lebih baik aku menenangkan Vira yang hatinya sedang kecewa. Setiap pulang sekolah aku selalu menghampiri rumah Vira untuk membuatnya ceria kembali. Aku tahu sangat sulit melupakan masalah tersebut, apalagi Vira selalu bertemu Reno dan Ririn di sekolahnya. Tapi aku akan terus berusaha membuatnya seperti dulu lagi sebelum ada Reno. Tidak terasa sudah satu bulan setelah kejadian menyedihkan yang dialaminya, Vira pun sudah melupakan kejadian tersebut. Kami pun menjalani hari seperti sebelum Vira mengenal Reno. Kami sering bertemu sepulang sekolah untuk bercerita.

“ Vito... kamu pernah menyatakan perasaan suka gak sama perempuan yang kamu suka?”, tanya Vira
“ Nggak sih, tapi waktu itu pernah ada seorang perempuan menyatakan cinta kepadaku, trus aku tolak. Lagian nggak kenal juga”, ucapku
“ Ihh tega banget sih kamu, mungkin kalo kamu terima, kamu lama-lama bisa suka sama dia”, katanya
“ Hmm, kalo menurutku sih rasa suka itu muncul kalo orang sudah saling mengenal”, jawabku
“ Jadi kamu suka aku dong heheheh.. kita kan udah saling kenal dari dulu”, katanya sambil tertawa
“ Mm... iya aku suka sama kamu Vira”, ucapku dengan maksud bercanda, tetapi dengan nada serius.
“ Hah?! Kamu serius Vit ?”, tanyanya serius
“ Hahahah... kaget ya disukain orang ganteng ?”, tanyaku sambil tertawa
“ Ihh kamu apaan sih hahah..”, ucapnya sambil tertawa

            Akupun pulang ke rumah karena sudah sore dan ada tugas sekolah yang harus aku kerjakan. Sambil aku berbaring di kasurku, Aku merasa ada rasa sayang yang berbeda saat Aku selalu bersama Vira semenjak kejadian buruk atas hubungan Vira dengan Reno. Tetapi aku tidak berani mengatakannya karena Aku takut Vira akan menganggapnya bercanda. Mengingat wajah Vira yang menanggapi dengan serius saat aku bercanda mengatakan Aku menyukainya, Aku merasa bahwa aku sepertinya bisa menyatakan perasaanku yang sebenarnya kepada Vira.

            Sepulang sekolah nanti aku berencana menyatakan perasaanku yang sebenarnya kepada Vira. Aku mau hubunganku dengannya bukan sekedar sahabat, agar tidak ada lagi yang berani mendekatinya. Waktu pulang sekolahpun tiba, aku sedikit gugup karena aku tidak pernah menyatakan perasaanku kepada siapapun. Aku pun pergi ke rumah Vira.
“ Haii Vira, gimana hari ini di sekolah?”, tanyaku basa basi
“ Ya gitu deh.. kenapa Vito?”, tanyanya kembali
“ Ada sesuatu yang mau aku bilang Vir”, ucapku sedikit gugup
“ Apa sih ? kok kamu gugup gitu ?”, tanya Vira

            Tanpa basa basi lagi, Aku pun langsung menyatakan perasaanku yang sebenarnya pada Vira, dan ternyata Vira pun menerima perasaanku. Kamipun menjalani hari-hari bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai hubungan kekasih (yohana elliony).
           
Selesai
           
Gambar ilustrasi, Sumber https://weheartit.com/entry/30237653     






Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dia Sahabatku, Dia Cintaku"

Posting Komentar