Hujan, Masalakah?

Hujan, Masalakah?
Sadar atau tidak sadar, Indonesia sudah memasuki kalender tahunan musim hujan, faktanya bahwa Indonesia mengalami pergantian musim tahun lalu pada bulan Oktober silam dan menurut Kabag Humas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Harry Tirto, menuturkan bahwa puncak musim hujan ini akan dirasakan pada pergantian tahun 2016 ke 2017 dan akan berakhir pada April 2017.

Indonesia merupakan negara tropis yang hanya memiliki dua iklim, dengan keadaan seperti ini, intensitas curah hujan yang mengguyur Indonesia terbilang cukup tinggi, yaitu 1600 milimeter per tahun. Namun, sangat disayangkan mengetahui bahwa curah hujan yang terbilang deras ini tidak diimbangi dengan pemanfaatan air hujan yang maksimal, padahal jika ditampung, air hujan dapat menghemat penggunaan air bersih hingga 50%.

Tentu saja kita mengingat peristiwa El Nino yang melanda Indonesia tahun 2015 silam, peristiwa tersebut telah mengakibatkan kebakaran hutan di Pekanbaru dan Kalimantan karena kekeringan yang berkepanjangan. Kekeringan tersebut menjadi salah satu faktor mengapa kebakaran hutan mudah terjadi. Kekeringan ini seharusnya tidak terjadi jika warga Indonesia tidak memandang sebelah mata dalam hal menampung air hujan.

Pakar hidrologi dari Universitas Indonesia, Firdaus Ali, mengatakan, dampak negatif fenomena alam El Nino sebenarnya bisa diantisipasi. Salah satu caranya dengan pembangunan waduk cadangan air saat kemarau panjang untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Beliau mengatakan, “El Nino adalah proses alami yang siklusnya selalu terjadi dan sudah bisa diprediksi seperti musim hujan, musim kemarau. Siklusnya setiap tujuh atau sembilan tahun.”

Di jabodetabek, khususnya ibukota, masih minim sekali pengetahuan warga tentang mengolah air hujan menjadi air siap pakai. Bahkan Pemprov DKI sendiri juga kurang menggenjoti reboisasi hutan kota alias ruang terbuka hijau ini. Dilansir dari artikel Kompas.com yang berjudul Jakarta Kurang Ruang Terbuka Hijau, dari luas daratan DKI Jakarta sebesar 661,52 kilometer persegi, baru 9,8 persen yang termasuk ruang terbuka hijau. Padahal, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Hutan Kota disebutkan, sebuah kota seharusnya memiliki 20-30 persen RTH.

Walaupun begitu, tidak sepatutnya kita salahkan semua kepada pemerintah, karena kitapun dapat menerapkan budaya menampung air hujan tanpa turut andil tangan pemerintah.


Tentu saja lebih baik kita menampung air hujan yang datang sebelum membuang semua air hujannya ke selokan. Kita dapat melakukan hal yang sangat sederhana ini bahkan di rumah sekalipun, mulai dengan membuat alat penyulingan sederhana yang menggunakan tawas untuk mensterilkan air hujan, membuat sumur resapan di sudut-sudut halaman rumah, tidak menutup seluruh teras tanah dengan semen, hingga membuat bak penampungan di atas rumah untuk menampung air hujan.

Sangat penting sekali bagi warga Indonesia untuk mulai menerapkan budaya menampung air hujan. Bukan hanya sekadar untuk menjaga kelembapan tanah saat fenomena alam El Nino datang, tapi juga dapat digunakan untuk yang lain, seperti kegiatan mencuci, masak, tapi tentu saja dengan catatan harus melalui penyulingan dan sterilisasi terlebih dahulu karena air hujan mengandung banyak sekali zat berbahaya, berhubung karena berasal dari titik-titik awan. Salah satu zat yang paling banyak ditemui di dalam air hujan adalah karbon dioksida.

Pada zaman ini, dimana bumi sudah mengalami pemanasan global, sangat penting sekali bagi kita, manusia, untuk menjaga dan melestarikan alam sebagai perintah langsung dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga keindahan bumi ini masih dapat diturunkan dan diperlihatkan kepada anak cucu kita. Alangkah baiknya jika kita mau mulai melakukannya dari sekarang, dari hal-hal dini seperti menampung air hujan agar dapat mengemat pasokan air tanah.

Tapi tentu saja akan lebih baik lagi jika kita, sebagai generasi revolusi, berlomba-lomba menciptakan teknologi yang dapat mengolah air hujan menjadi air yang lebih bermutu lagi. Bukan hanya masalah kekeringan yang akan terselesaikan, tetapi juga masalah kurang air bersih seperti yang ada di daerah paling timur di Indonesia, yaitu Papua. Maka dari itu, marilah kita mulai peduli dengan keadaan di sekitar kita, peka terhadap lingkungan di sekitar kita dan milikilah hasrat untuk memberdayakan. (Juko)

Sumber foto: http://www.fanpop.com 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hujan, Masalakah?"

Posting Komentar