Kata suster ini Bahagia itu Sederhana, Begini Caranya.

BAHAGIA ITU SEDERHANA

Kata suster ini Bahagia itu Sederhana, Begini Caranya.
Suster Theresia
Setiap orang memiliki cita-cita dan impiannya masing-masing. Di balik itu semua, ada harapan dan pandangan yang berbeda-beda tentang hidup. Manusia menyadari hidupnya sebagai salah satu anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Sebagai seorang Kristen, tentu tahu bahwa manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Malangnya, manusia bukan Tuhan yang tanpa kelemahan.
Kelemahan terbesar manusia adalah tidak pernah puas terhadap apa yang terjadi di hidupnya.
Hal ini juga termasuk dalam kelemahanku, yang tidak pernah merasa cukup dan memasang begitu banyak harapan, kata suster itu.
“Orang zaman sekarang banyak yang tidak tahu diri”.
Ungkapan ini sudah tidak lazim lagi didengar di telingah kita. Bahkan, ada versi kerennya ibarat kacang lupa pada kulitnya. Manusia sering kali merasa dirinya mungkin terbuat dari emas dan bukan berasal dari debu tanah, makanya tak heran sebagaian dari mereka merasa besar kepala. Sombong memang, bicara negatifnya. Akan tetapi, bukankah hal itu baik? Menjadi optimis maksudnya.  Ibarat sebuah benda yang memiliki banyak sisi, begitulah pikiran dan cara pandang orang lain.
Ini sudah sejak lama menjadi pergumulanku, seperti apa yang kulakukan, sekeras apapun aku berusaha, akan tetapi terlihat salah di mata orang lain.

Sesaat terlintas percakapanku di siang bolong dengan suster Theresia Endang Sulistiawati. Beliau adalah suster di Sekolah Kristen Kanaan Jakarta. Saya dan teman-teman banyak mendengar cerita dari suster yang kerap mengobati kami yang mampir ke UKS. Beliau menceritakan banyak pengalaman hidupnya.
“Sus, kenapa si mau jadi suster?” Tanya seorang temanku yang terlihat antusias seusai sang suster menceritakan pengalaman horornya ketika bertemu suster ngesot.
Suster seperti tampak tercekat sesaat, aku terus memperhatikannya. “sebenarnya sus dulu tidak mau jadi suster, Cuma karena bapak sus dulu punya cita-cita jadi perwat. Jadi sus disuruh jadi perawat biar kesampaian,” jawab sus yang entah mengapa membuatku sedikit merinding. Sus lalu kembali menguraikan bahwa dulu ia bercita-cita bekerja di bidang apapun selain di bidang kesehatan.

Mengapa?

Jawabanya adalah, pendidikan untuk menguasai bidang kesehatan memakan waktu yang cukup lama dan sus bahkan harus masuk ke dalam asrama. Belum lagi ketika beliau bekerja resmi sebagai  seorang perawat di rumah sakit. Medistra Gatot Subroto, beliau harus mengambil night duty, dimana cukup memberatkan karena notabene dia seorang perempuan. Akan tetapi, ada gurat senyum di wajahnya. Beliau kini masih bekerja di bidang medis, mengobati kami dan membantu di sebuah klinik kulit kecantikan. 
Lebih dari itu semua beliau tampak sangat bahagia menjalani kehidupannya.
Lalu kuingat kala akau berkaca nan memandang potret diriku. Bagimana dengan hidupku?. Aku selalu mengeluh dan menggerutu. Aku selalu merasa bisa melakukan segala hal sendiri, sehingga tak tanggung-tanggung aku memasang cita-cita dan harapan yang tinggi. Bahkan aku menutamakan opiniku dan sering kali melawan kehendak kedua orang tuaku.
Aku ingin menjadi penulis yang menulis dari hati bukan dari rangkaian kata di kepalaku.
Aku ingin mengambil jurusan sastra ketika aku kuliah nanti, namun mama melarang dan menyuruhku mempelajari pembukuan finansial dalam jurusan akuntansi. Aku melakukan sesuatu sebagai gantinya, belajar keras agar mendapatkan beasisiwa sekolah, berpikir bahwa mungkin saja nanti ketika hendak mengambil jurusan aku diperbolehkan mengambil jurusan yang aku inginkan.
Aku terkadng benci ketika orang-orang memasang ekspetasi tinggi terhadapku. Berkata bahwa aku adalah seorang yang pintar dan seakan ingin berteriak bahwa aku tidak. Aku hanya bisa karena belajar.

PENUTUP

Kata suster ini Bahagia itu Sederhana, Begini Caranya.
Aku sadar, bahwa ternyata aku sendiri menyiksa diriku dengan harapan dan menjelajai berbagai fantasi yang tinggi.
1.     Dari suster aku dapat pelajaran tentang hidup yang berjalan layaknya air. Beliau mau mengikuti arus hidupnya meski berbagai rintangan menghadang.
2.     Dari suster aku belajar tentang doa dan restu orang tua. Segala sesuatu yang keluar dari mulut kedua orang tua pastinya yang terbaik buat anak-anaknya.
3.     Dari suster saya belajar tentang kerelaan. Tidak harus menggapai semua yang kita inginkan untuk menjadi bahagia. Hanya perlu hati yang lapang menerima segala sesuatu. Bahagia itu sederhana.  

Direfleksikan oleh Novita Suryadi. Diedit seperlunya oleh Martin Karakabu. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kata suster ini Bahagia itu Sederhana, Begini Caranya."

Posting Komentar