Kelapa Sawit Di Papua Hanya Menimbulkan Masalah Baru Bagi Masyarakat Lokal

Kelapa Sawit Di Papua Hanya Menimbulkan Masalah Baru Bagi Masyarakat Lokal
Tulisan ini sejujurnya ungkapan dari kebingungan saya, sekaligus mempertanyakan kebijakan pemerintah soal pemerdayaan ekonomi masyarakat lokal melalui industri kelapa sawit di Papua.
Setiap orang tentu memiliki cara pandang tentang segala sesuatunya. Termasuk saya, jika beda mari kita diskusikan melalui kolom komentar di bagian akhir dari tulisan ini.
Saya bukan orang Papua, tetapi sebagian besar dari hidup saya berada di Papua.

Semasa sekolah dan kuliah, jika liburan tiba, biasanya saya mencoba membantu orang tua dengan menjadi pekerja kelapa sawit di PT Sinar Mas, Tajah, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura, propinsi Papua. Setelah lulus kuliah tempat saya bekerja tidak jauh dari kelapa sawit. Sebagai staf WVI ADP Kab. Keerom, Propinsi Papua. Keseharian saya masih sama yakni melayani siswa-siswi binaan WVI yang orang tuanya sebagian besar sebagai buruh kelapa sawit.  Hal yang sama pun saya lakukan pada penghujung tahun 2012 di Kabupaten Nabire Propinsi Papua Barat, yaitu bekerja sebagai buruh kelapa sawit.

Hal-hal yang saya lakukan dan berhubungan dengan kelapa sawit di atas. Memberikan saya 3 hal yang memiliki pandangan yang berbeda-beda.
1.     Kelapa sawit di Papua tidak bisa menjadi solusi bagi pemberdayaan masyarakat lokal.
2.     Kelapa sawit bisa membuka lapangan kerja baru.
3.     Kelapa sawit di Papua bisa menimbulkan masalah baru.

Kali ini saya hanya membahas point pertama, soal kelapa sawit dan pemberdayaan masyarakat lokal Papua:


Kelapa Sawit di Papua Tidak Bisa Menjadi Solusi Bagi Pemberdayaan Masyarakat Lokal

Kelapa Sawit Di Papua Hanya Menimbulkan Masalah Baru Bagi Masyarakat Lokal
Bagian ini merupakan inti dari kebingungan saya, sekaligus mempertanyakan kebijakan pemerintah soal tujuan pembangunan kelapa sawit di Papua.

Letak kebingungan saya ada pada kata kunci pemberdayaan masyarakat lokal PAPUA. Pertanyaan saya sebenarnya cukup sederhana, pemerintah pusat itu tahu atau tidak, kalau hutan bagi masyarakat lokal Papua adalah hidup mereka? Maksudnya ketergantungan masyarakat lokal dengan hutan seperti dua sisi mata uang. Satu dan tidak terpisahkan. Jika hutan digusur untuk kepentingan kelapa sawit, itu sama artinya mengusir masyarakat lokal Papua dari tanahnya sendiri. Jadi, yang mau diberdayakan itu masyarakat yang mana?

Terkait hal ini bisa lihat juga petisi, Tolak Kelapa Sawit di Kebar Papua Barat.


Solusi untuk Memberdayakan Masyarakat Lokal Papua:

Kelapa Sawit Di Papua Hanya Menimbulkan Masalah Baru Bagi Masyarakat Lokal

1.  Siapkan sarana dan prasarana

Solusi ini saya tempatkan di bagian pertama karena ini masalah yang utama dan sangat mendesak di berbagai daerah di Papua. Terkait alasanya baca tulisan saya yang berjudul Guru Blogger Solusi Alternatif dalam Menjawab Tantangan Mengajar di EraDigital. Khususnya pada sub judul tentang Peralihan dari Papua Ke Jakarta. Melalui sub judul tersebut saya coba membagikan pengalaman saya, tentang sulitnya transportasi; yang disebabkan minimnya sarana dan prasarana di Distrik Fef Kabupaten Tambrauw Papua Barat.
Jadi jika ingin memberdayakan masyarakat lokal Papua maka pertama-tama bangun sarana dan prasarana bukan kelapa sawit.

2.  Bagun sumber daya manusia

Kristof  Obidzinski, seorang ilmuwan senior CIFOR mengatakan, tidak mungkin kelapa sawit bisa membantu penduduk miskin di Papua, karena mereka benar-benar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk terlibat secara efektif dalam produksi kelapa sawit. Selengkapnya soal ini bisa baca di KABAR HUTAN. Artinya apa?, 
Konsep pembangunan masyarakat lokal Papua tidak akan berarti apa-apa jika langsung menciptakan industri kelapa sawit tanpa mempersiapkan sumber daya manusianya.  

3.  Ciptakan hutan sebagai cagar budaya atau objek wisata

Jan Sedik dan ikatan mahasiswa dan pelajar Kabupaten Tambrauw Papua Barat melalui change.org dengan tegas menolak keberadaan kelapa sawit di Kebar Papua Barat. Salah satu alasannya adalah hutan sebagai cagar budaya. Petisi yang hingga kini, sudah mencapai 5.364 tanda tangan dari total 7.500 tanda tangan tersebut diserahkan kepada pemerintah. Artinya apa, pemberdayaan masyarakat lokal Papua adalah sesuatu yang baik dan mulia. Namun solusi alternatif yang lebih manusiawi pun dibutuhkan untuk membangun Papua yang lebih baik.

            Semantara itu di tempat terpisah, Paul Baru, intlektual muda asal Tambrauw Papua Barat mengatakan menolak adanya kelapa sawit di Kebar, Papua Barat. Semata-mata bukan urusan lapangan pekerjaan saja, melainkan memikirkan dampak-dampak yang lebih besar, yang akan terjadi jika hutan digusur untuk kepentingan kelapa sawit.

“ini bukan soal lapangan pekerjaan, ada aspek lain yang lebih penting, contoh kawasan kebar dan sekitarnya adalah kawasan konservasi, fungsi utamanya adalah sistem sungai kalau rusak biayanya lebih mahal dari uang PAD” ujarnya melalui saluran telepon, pekan sebelumnya.
Jadi intinya berbicara tentang membangun Papua menjadi lebih baik, pertama-tama adalah membangun sumber daya manusia, sarana dan prasarana. Kemudian bijak dalam bertindak soal hutan, sebab hutan bagi masyarakat Papua adalah sumber kehidupan.
Di bagian awal saya menulis seperti ini, saya bukan orang Papua, tetapi sebagian besar dari hidup saya berada di Papua. Artinya apa? Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk apapun dan dengan tujuan apapun karena saya tidak punya kepentingan apapun. Hanya sekedar berbagi ide dan pemikiran soal membagun Papua untuk Indonesia yang lebih baik.

Sekali lagi ini pendapat saya. Jika berbeda mari kita diskusikan melalui kolom komentar di bawah ini untuk menemukan formulasi yang lebih baik.


Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Kelapa Sawit Di Papua Hanya Menimbulkan Masalah Baru Bagi Masyarakat Lokal"

  1. Adanya kelapa sawit agar membuka lapangan kerja.

    BalasHapus
  2. lapangan kerja untuk siapa?. Bagimana kalau sumber daya manusianya belum disiapkan. bukankah itu hanya akan menimbulkan masalah?

    BalasHapus