PERSAUDARAAN YANG SEJATI: Catatan Perjalanan Livia Felicia Hung di Bawah Kaki Gunung Marbabu

PERSAUDARAAN YANG SEJATI: Catatan Perjalanan Livia Felicia Hung  di Bawah Kaki Gunung Marbabu
Pada tanggal 27 April  sampai 2 Mei 2017, siswa – siswi SMA Kristen Kanaan Jakarta angkatan ke-34 melakukan kegiatan Live In bertemakan “Fraternity”, yang berarti persaudaraan. Lokasi kegiatan tersebut bertempat di Dusun Cuntel, yaitu dusun terakhir yang ada di Desa Kopeng, Semarang, Jawa Tengah. Letak dusun tersebut berada di lereng bagian utara Gunung Merbabu, sehingga cuaca disana bisa dikatakan sangat dingin. Suhunya mencapai 16° - 18° Celcius. Dusun Cuntel memiliki area yang tidak besar, penduduknya pun tidak banyak.

Saat kami, para siswa- siswi sampai di sana, kami berhenti di depan sebuah gereja, yaitu GKJTU (Gereja Kristen Jawa Tengah Utara). Kami pun disambut dengan hangat oleh para penduduk yang ada disana, mereka menyediakan kami berbagai camilan dan teh hangat. Setelah beristirahat, kami melakukan upacara serah terima, dimana para siswa – siswi diserahkan oleh Kepala Sekolah SMAK Kanaan, kepada para orang tua asuh.

Kami pun masing – masing bertemu dengan orang tua asuh kami masing – masing, dan segera menuju ke rumah mereka untuk beristirahat dan bersosialisasi dengan mereka. Setelah membereskan barang bawaan kami, kami yang telah disediakan sarapan oleh mereka, makan sejenak. “Kami”, disini adalah saya dan teman – teman serumah saya. Setelah makan, kami berkumpul di ruang tamu dan mulai bersosialisasi, pengenalan satu sama lain terhadap orang tua asuh kami.

Orang tua asuh kami bernama Bapak Suyadi dan Ibu Jasmi. Bapak Suyadi sudah tinggal di rumah tersebut sejak lahir, yaitu sejak tahun 1956. Bapak dan Ibu Suyadi memiliki 3 anak laki – laki. Anak yang pertama sudah menikah dan sedang bekerja di Kalimantan bersama istrinya, anaknya dititipkan bersama kakek dan neneknya, Bapak dan Ibu Suyadi. Anak yang kedua sedang bekerja di luar kota, dan anak yang ketiga sefdang berkuliah juga di luar kota. Jadi saat ini, Bapak dan Ibu Suyadi hanya tinggal bertiga bersama cucu mereka, Irene. Irene belum menginjak jenjang sekolah, tapi ia suka mengikuti kegiatan sekolah minggu di GKJTU. Bapak dan ibu bekerja sebagai petani. Namun, mereka bekerja santai, dikarenakan oleh faktor usia. Usia mereka memang sudah menginjak 60 tahun ke atas. Tidak ada usaha lain yang mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari – harinya. Jika mereka berkekurangan, mereka akan meminjam uang.
Selam 4 hari dan 3 malam tinggal di Dusun Cuntel, kami menerima banyak hal positif, terutama dalam hal persaudaraan, tema kegiatan Live In kami. Keluarga Bapak Suyadi sangat baik pada kami, mereka sangat perhatian, ramah, sopan, dan memperlakukan kami selayaknya sebagai keluarga mereka sendiri. Kami pun menjadi sangat mudah dalam beradaptasi dan merasa nyaman tinggal di rumah tersebut.

Namun, tidak hanya keluarga tersebut, namun semua penduduk disana, memiliki perilaku dan tata karma yang sama. Ramah, sopan, saling menghargai dan menghormati, mereka memiliki solidaritas yang tinggi. Setiap ada orang yang berpapasan dengan mereka, kenal maupun tidak, akan mereka sapa dan mereka beri senyuman hangat. Saat ada kerja bakti atau ada penduduk yang mengadakan suatu acara, penduduk lainnya akan selalu mengulurkan bantuan, seperti tidak mengenal kata gengsi.  Dan yang membuat saya terkesan, penduduk disana yang 70% beragama Kristen dan 30% beragama Islam, mereka tidak pernah membeda – bedakan ataupun menghina agama yang lain dari agama mereka. Jika ada penduduk yang sedang merayakan hari raya keagamaanya, penduduk lainnya tidak akan merasa terganggu, melainkan akan saling menghargai satu sama lain. Mereka juga saling mengenal dengan baik satu sama lain. Sungguh persaudaraan yang sejati, bukan ?

Sangat amat bertolak belakang dengan kehidupan di Jakarta, yang lebih mengutamakan ego dan gengsi masing – masing dibanding sebuah persaudaraan, persatuan, dan kepentingan bersama. Sangat jarang ditemukan sosok yang mau tegur sapa dan mau membantu jika tidak kenal satu sama lain. Bahkan dengan yang kenal dan dekat pun, masih suka gengsi – gengsian untuk mengulurkan tangan. Selain itu juga, penduduk Jakarta, suka menghina dan tidak menghargai berbagai perbedaan yang ada di Indonesia, yaitu perbedaan suku, agama, ras, dan gender(jenis kelamin). Bisa dilihat salah satu kasus yang saat ini  sedang naik daun di Jakarta, bahkan sampai ke dunia. Satu kesalahan seseorang, digunakan untuk menjatuhkan orang tersebut, padahal orang itu adalah orang yang benar, yang sudah memperjuangkan perkembangan dan kemajuan hidup Jakarta. Saya menyebutnya sebagai seorang sosok malaikat yang Tuhan kirimkan untuk Jakarta, Jakarta yang sedang rusak, Jakarta yang sedang menangis. Orang itu telah melakukan banyak hal yang sangat berjasa bagi Jakarta. Ia memang kalah dalam perhitungan, tapi ia menang dan tidak akan pernah kalah di dalam hati kami. Orang yang benar memang selalu ditimpa banyak cobaan.


Sekian hal – hal yang dapat saya sampaikan mengenai kegiatan Live In di Dusun Cuntel, serta perbandingannya dengan Jakarta dalam aspek kemanusiaan. Saya sangat berharap penduduk Jakarta bisa segera sadar dan berubah menjadi lebih baik, demi Jakarta yang lebih baik.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PERSAUDARAAN YANG SEJATI: Catatan Perjalanan Livia Felicia Hung di Bawah Kaki Gunung Marbabu"

Posting Komentar