Potret Media Sosial: Realitas Terbalik Antara Harapan dan Kenyataan

Potret Media Sosial: Realitas Terbalik Antara Harapan dan Kenyataan
Sumber gambar KLIK di Sini 
Dewasa ini, manusia seringkali tidak bisa terlepas dari gadgetnya. Memang sudah seharusnya manusia dekat dengan teknologi terutama di era global yang kian mengalami modernisasi. Semua itu demi pencapaian informasi yang cepat guna memenuhi berbagai keinginan dan kebutuhan tiap-tiap individu. Hal ini juga berkaitan erat dengan maraknya penggunaan media sosial.


Pada hakikatnya, media sosial atau social media adalah suatu media penyokong proses bersosialisasi yang di dalamnya terkandung interaksi dan komunikasi antar satu pihak dengan yang lain tanpa mempermasalahkan jarak. Media sosial mengajak penggunanya untuk mampu berbagi dan berpartisipasi seakan suatu wadah. Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Dengan adanya media sosial, segalanya menjadi lebih mudah terlebih dalam hal komunikasi.


Komunikasi merupakan salah satu keterampilan terbesar kita. Namun tanpa teknologi, komunikasi tetap terbatas. Coba kita ulas kembali, bagaimana sulitnya komunikasi di masa lampau. Pada zaman dahulu, masyarakat hanya mengandalkan alam sebagai media dalam berkomunikasi. Alat komunikasi yang digunakan terbilang sangat tradisional.


Daun lontar misalnya, digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan maklumat dari raja kepada rakyat dalam bentuk tulisan. Adapun penggunaan burung untuk menyampaikan surat, atau melewati tangan ke tangan. Hal ini tentu sangat memakan waktu.


Selain itu, ada pula penggunaan beduk, bereguh, kulkul, kentungan, dan terumpet juga sama sekali tidak bisa membantu banyak. Kita hanya mendengar bunyi-bunyian tetapi kita tidak bisa berkata-kata. Untuk bisa mengobrol dalam suatu topik, kita  harus saling tatap muka. Akibatnya, proses sosialisasi pun hanya terkungkung pada wilayah sekitar. Kita tidak bisa mengenal atau mengobrol dengan orang-orang yang tinggal di luar wilayah kita atau mereka yang tinggal di belahan bumi lain.


Dengan adanya media sosial kini, semua yang ada di depan mata kita maupun yang tidak seakan dapat kita capai dengan mudah. Media sosial membuat manusia kian hari kian dapat menguasai semesta. Bayangkan saja, kita dapat mengakses segala sesuatu dengan jaringan yang lambat sekalipun, tanpa biaya mahal, tanpa alat mahal, dilakukan sendiri tanpa mengeluarkan tenaga atau keringat yang banyak. Ini merupakan suatu kesuksesan dan kemajuan yang dicapai manusia. Menurut Anthony Mayfield dari iCrossing, media sosial juga membuat penggunanya sebagai seorang manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas. Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri. Selain kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri sendiri dalam media sosial adalah alasan mengapa media sosial dapat dengan mudah diterima masyarakat seluruh dunia. Tak terkecuali, keinginan untuk aktualisasi diri dan kebutuhan menciptakan personal branding.


Di Indonesia sendiri, penetrasi pengguna internet semakin melonjak. Hingga mampu mencapai kurang lebih 82 juta pengguna. Indonesia terkenal sebagai negara pengguna jejaring sosial teraktif di dunia. Media yang digunakan pun beragam, mulai dari facebook, twitter, instagram, path, whatsapp, dan masih banyak lagi. Bahkan sekarang, anak dengan kisaran umur 8 tahun juga  sudah bisa asik chatting ataupun videocall.


Akan tetapi seiring berjalannya waktu,  penggunaan media sosial malah sepertinya dijadikan ajang pamer atau panggung maya oleh sejumlah orang untuk menampilkan aktivitas kehidupan mereka kepada dunia. Kebahagiaan dan kesuksesan, dua hal yang paling sering terlihat di media sosial, baik dalam bentuk foto ataupun kalimat berupa status.
“Media sosial adalah media yang tanpa henti mengalirkan informasi soal kehidupan hasil editan. Alhasil, persepsi kita pada kehidupan terdistorsi,” terang Happiness Research Institute. Percaya tidak percay, gaya hidup kita  seiring waktu semakin berubah bersamaan dengan keberadaan media sosial. Salah satu media sosial yang sedang ramai adalah ASK.FM. Media ini memberikan fasilitas kepada para penggunanya untuk saling bertanya satu dengan yang lain, baik dengan nama tercantum maupun anonim. Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab bisa disertai dengan gambar. Pengguna lain dapat memberikan like pada jawaban kita. Bahkan di ask.fm terdapat istilah artis ask.fm. Istilah ini merujuk pada mereka yang memiliki likes banyak seakan fans mereka banyak. Namun, tak jarang option anonim dalam ask.fm digunakan untuk membash orang lain. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan terkadang bersifat terlalu ikut campur bahkan tak jarang tentang kehidupan pribadi. Lucunya, pertanyaan tersebut dijawab sedetail mungkin bahkan disertai dengan gambar. Biasanya hal ini juga dijadikan  cara untuk memamerkan gaya hidup mereka bagi sebagian orang.


Media sosial juga banyak digunakan oleh kaum sosialita. Di China, terkenal seorang sosialita yang aktif dalam media sosial dengan nama Guo Meimei. Wanita cantik berusia 24 tahun itu menjadi terkenal pada 2011 lalu setelah memamerkan gaya hidup mewah di media sosialnya. Pada beberapa foto yang diunggahnya ke media sosial, Meimei kerap memamerkan mobil mewah dan kekasihnya yang berdandan mencolok. Ia mengaku bekerja untuk sebuah perusahaan yang berafiliasi dengan Palang Merah.
Dilansir CNN, Selasa 15 September 2015, pengadilan mengungkap bahwa gaya hidup mewah Meimei tersebut diperoleh dari bisnis kasino yang dioperasikan di apartemen pribadinya di Beijing.


Meimei mengaku tidak bersalah atas tuduhan tersebut di persidangan, meskipun dia mengaku terlibat dalam perjudian, menurut kantor berita China, Xinhua.


"Saya seharusnya tidak berpartisipasi dalam perjudian, tapi saya tidak berpikir tindakan saya merupakan kejahatan," katanya dalam pernyataan terakhirnya. 

"Saya tahu saya membuat kesalahan, dan saya benar-benar menyesal," tambahnya, sambil berdebat dia layak mendapatkan keringanan hukuman karena dia tidak memiliki "pengetahuan hukum" bahwa itu merupakan sebuah tindak kejahatan.


Karena media sosial pada akhirnya tidak digunakan sesuai hakikatnya, melainkan untuk pamer, timbullah kecemburuan dan perbedaan pendapat yang memicu konflik. Berbagai kasus juga marak terjadi karena berawal dari perkelahian di media sosial.
Kasus Florence Sihombing tahun 2014 lalu misalnya. Mahasiswa pascasarjana UGM ini ditahan penyidik Polda DIY lantaran dianggap menghina Yogyakarta lewat status di media sosial Path. Florence dilaporkan oleh LSM Jangan Khianati Suara Rakyat (Jati Sura) ke pihak kepolisian, setelah sebelumnya habis di-bully di media sosial.


“Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya,” tulis Florence di account Pathnya. Ia kian menulis status tentang jogja yang bernada provokatif. Kasus yang sama juga ditimpa Anto akibat menghina warga Samarinda. 
Selain itu, Media sosial sekarang ini bisa jadi sarana untuk melakukan gerakan atau protes terhadap ketidakpuasan. Salah satunya kasus kenyamanan seorang Ibu yang terganggu saat seorang perokok ingin merokok di dalam kedai donat JCO di sebuah mall di Jakarta. Selain memaki-maki dengan kata kasar, perokok tersebut melanggar peraturan tentang larangan merokok di fasilitas umum yang dikeluarkan pihak Pemprov DKI Jakarta. 


Ironisnya, manajemen JCO setempat malah membela si perokok tersebut. Kesal dengan perlakuan yang diterima, ia menulis petisi online di change.org yang ditujukan kepada JCO, Pengelola Mall dan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama.

Petisi online itupun mendapat dukungan dari 5000 lebih orang dan mendapat tanggapan dari Ahok yang mengeluarkan ancaman mencabut izin Mall terkait.
Selain itu, ada juga kasus Farhat Abbas. Sang pengacara penuh sensasi yang kala itu menghina etnis gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahya Purnama dalam akun twitternya. Dalam akun @farhatabbaslaw, pengacara tersebut menulis “Ahok sana sini plat pribadi B 2 DKI dijual polisi ke org Umum katanya ! Dasar Ahok plat aja diributin ! Apapun plat nya tetap C***! “


Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Anton Medan melaporkan suami Nia Daniati itu ke Polda Metro Jaya."Kemarin saya sudah menelepon Farhat untuk menasehatinya dan meminta Farhat agar minta maaf melalui media, karena twitnya itu sudah terdengar ke mana-mana.Tapi tidak ada jawaban dari Farhat. Karena dia tidak menyambut etika baik saya, maka saya laporkan," ujar Anton Medan di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.


Dalam menyikapi kasus-kasus yang berawal dari media sosial, Pemerintah Indonesia pun menetapkan peraturan perundang-undangan dalam UU ITE. Undang Undang ITE ini dibuat untuk mengatur maupun memfasilitasi penggunaan dan transaksi informasi dan transaksi elektronik yang banyak digunakan saat ini. UU ITE ini juga digunakan untuk melindungi pihak pihak yang ada di dalam maupun berkaitan dalam Informasi dan Transaksi Elektronik ini. Dalam kata lain UU ITE ini dibuat untuk mencegah dan mengontrol penyimpangan penyimpangan yang mungkin dan dapat terjadi di dalam proses ITE tersebut.


Selain itu, Indonesia sebagai negara yang demokratis selain menjamin hak-hak asasi manusianya, juga memberikan ketentuan tentang kebebasan berekspresi. “Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng, (yang) oleh karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapapun”, demikian kutipan dari bagian awal Undang-Undang (UU) RI Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Adapun di dalam pasal 14 pada UU tersebut, dinyatakan bahwa,” Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana yang tersedia”.


Pasal tersebut sejatinya tunduk dan mengacu pada pasal 28F, UUD 1945 Indonesia (Amandemen ke-2, yang ditetapkan pada Agustus 2000) dan pada pasal 19, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) PBB. Pasal 28F berbunyi,Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.”


Meskipun ada jaminan untuk bebas berpendapat dan berekspresi, pelaksanaan  hak tersebut tidaklah tak terbatas. Yang membatasinya adalah  pada pasal 29 ayat 2 pada deklarasi yang sama, berbunyi, dalam menjalankan hak-hak dan kebebasan-kebebasannya, setiap orang harus tunduk hanya pada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan orang lain dan untuk memenuhi persyaratan aspek moralitas, ketertiban dan kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokratis”.


Kembali berbicara tentang penyimpangan-penyimpangan yang kerap terjadi melalui media sosial, hal tersebut terjadi karena bentrokan norma dan nilai. Maka harus dipahami bahwa, kita sebagai manusia diberikan anugerah kebebasan dari Tuhan Yang Maha Esa. Kita diberikan seperangkat hak yang melekat pada diri kita sebagai wujud kebebasan. Namun, dimana ada hak pastilah disana terdapat kewajiban. Kita memang diberi kebebasan sebagai suatu makhluk yang utuh punya diri kita sendiri, tetapi kita juga perlu menghargai dan menghormati hak-hak orang lain. Kita juga harus bertanggung jawab pada kewajiban yang kita pikul. Singkatnya, kita harus bertanggung jawab pada kebebasan yang kita miliki.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Potret Media Sosial: Realitas Terbalik Antara Harapan dan Kenyataan"

Posting Komentar