Sepucuk Surat dari Langit

Sepucuk Surat dari Langit
Aku membenci anjing. Menurutku, anjing adalah hewan paling kejam di dunia ini. Ketika aku berumur empat tahun, kaki ayahku pernah terluka parah karena digigit anjing tetangga. Ayah harus dilarikan  ke rumah sakit dengan darah bercucuran menuruni betisnya. Pemandangan yang mengerikan, Ayah harus berjalan terpincang-pincang setelahnya. Sejak saat itu, aku mulai menyimpan dendam kepada hewan yang satu ini.

            Suatu ketika, Ayah menghampiriku di sela waktu luangnya. “Apakah kamu masih membenci anjing?” tanyanya sambil meneguk secangkir kopi.

Aku hanya mengangguk dengan polosnya.
            “Karena Ayah, ya?” tanyanya lagi.
            Lagi-lagi kuanggukan kepalaku, kali ini disertai dengan balasan. “Aku benci kepada mereka yang pernah melukai Ayah.”

            Ayah memandangiku sejenak sebelum melempar senyumnya. “Dapatkah kamu memaafkan ‘mereka’, Maruko?”
            “Tidak mungkin!” sergahku. “Sekali benci tetap akan benci!”
            “Oh? Tetapi Ayah tidak pernah menaruh dendam pada anjing, kau tahu.”
            Pernyataan Ayah hari itu membuatku terperanjat. Bagaimana bisa ia memaafkan semudah itu? Apakah Ayah sama sekali tidak peduli? Setiap akhir pekan, kulihat ia masih bermain dengan anjing tetangga yang pernah menggigitnya itu. Aku selalu tak habis pikir dengan apa yang Ayah lakukan.

            Di hari ulang tahunku yang kesembilan, tepatnya enam bulan setelah kandasnya pernikahan orang tuaku, aku dibelikan seekor anjing corgi oleh Ayah. Sungguh sebuah mimpi buruk yang tak pernah kunantikan. Langsung saja kutuangkan segala kekesalan dan murkaku kepada sang pemberi hadiah.

            “Kita berdua tahu bahwa aku tidak menyukai anjing!” kataku dengan nafas yang menggebu-gebu. “Maksudnya apa, Ayah?”
            “Ya, aku tahu,” jawab Ayah, nadanya tenang seperti biasanya. “Hanya saja, sejak kepergian ibumu, suasana rumah menjadi lebih sepi. Katakan, bukankah kamu menginginkan anggota keluarga baru?”

            “Aku tidak pernah bilang demikian. Lagipula, dari semua hal yang ada di dunia ini, mengapa harus ‘anjing’?” Aku mendengus sembari memandangi anjing itu melompat-lompat ria mengejar seekor kupu-kupu di pekarangan rumah kami. Waktu itu musim semi, bunga-bunga mulai bermekaran dan menambah keindahan alam. Namun hatiku tetap saja tidak terhibur dengan kehadiran anjing itu. Ayah mengusulkan untuk menamainya Pochi. Acuh tak acuh, aku mengiyakan gagasannya.

            Setiap kali aku pulang sekolah, Pochi selalu menghampiriku dan menggonggong ria. Wajah gembiranya membuatku ingin muntah, gonggongannya memekakkan telinga. Berulang kali aku menendangnya, ia selalu kembali padaku keesokan harinya. Beberapa kali aku mendapat teguran dari Ayah, namun aku tak pernah mengindahkannya.

            Ketika aku berumur sepuluh tahun, aku dijauhi oleh teman-teman sekelas karena sebuah masalah kecil yang kuperbuat. Sejak saat itu, aku selalu menyendiri. Makan siang sendiri, belajar sendiri, membaca buku sendiri, tidak punya kelompok bermain. Tatapan tajam dan sinis selalu menghujaniku. Rasanya seperti dunia ini memutuskan untuk berpaling dan memusuhiku.

            Di saat aku merasa putus asa, Pochi selalu berada di sampingku. Ia masih menyambut kepulanganku dari sekolah tiap harinya. Sama seperti biasanya, ia melompat-lompat di sekitarku dan menjulurkan lidahnya, memintaku untuk membelai kepalanya. Awalnya aku merasa terganggu oleh perilakunya. Ingin sekali menguncinya di dalam kandang untuk selama-lamanya. Apa boleh buat, tidak mungkin aku melakukan hal tersebut. Ayah dapat memarahiku berjam-jam karenanya.

            Waktu terus berlalu, musim datang silih berganti. Aku masih diselimuti rasa bersalah yang teramat dalam, kesepian  senantiasa menghantuiku. Hingga tiba saatnya ketika aku tidak tahan lagi, aku sadar akan satu hal. Teman memang datang dan pergi, tetapi Pochi tidak. Tak peduli seberapa sering aku menendangnya, ia tetap akan menyambutku di pintu depan rumah, bergelut di antara kakiku, seakan-akan mencoba menghiburku. Lama-kelamaan, mataku mulai terbuka dan aku mencoba membuka hatiku. Perilakuku berubah 180 derajat. Tak pernah lagi aku menendangnya ataupun mengusirnya keluar. Aku belajar cara memandikan anjing, membersihkan kandang dan kotorannya. Aku ikut memberinya makan dan mengontrol pola makannya. Terkadang aku mengajarinya dengan lembut untuk tidak buang air kecil di dalam kamar. Sesekali kubelai kepala dan badannya, tak lupa juga memeluknya sebelum berangkat ke sekolah. Tak butuh waktu lama bagi Pochi dan aku untuk menjadi sahabat.

            Dua tahun kemudian di musim panas, aku dan Ayah menyadari ada yang tidak beres dengan Pochi. Ia tidak selincah biasanya, wajahnya murung, nafasnya tak beraturan dan ia tampak kepanasan. Hari itu Pochi tidak keluar kandang, makanan pun tak disentuhnya sama sekali. Kami sudah memanggil dokter hewan untuk memeriksanya, tapi hasilnya nihil. Tampaknya, apapun yang kami lakukan semuanya sia-sia. Sedikit demi sedikit harapanku sirna. Pernah aku berpikir untuk menyerah. Namun terlintas pula dalam benakku bahwa Pochi tak pernah sekalipun menyerah dalam mengetuk pintu hatiku. Karena itu, aku bertekad untuk tidak mundur. Aku akan menyelamatkan Pochi, itulah yang selalu kukecamkan dalam hatiku setiap waktunya.

            Tapi aku gagal, aku tak mampu menyelamatkan Pochi. Di awal musim gugur tahun itu, Pochi akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah sempat mengerang kesakitan. Aku langsung mengunci diriku di dalam kamar selama sisa hari. Air mata menggenang dan mengalir dengan deras menuruni pipiku, tak terbendung. Teringat sudah hari-hari awal ketika aku memperlakukan Pochi dengan kasarnya. Menyesal, memang. Mengapa aku begitu bodoh saat itu…?

            Malamnya, aku beranjak dari kasurku dan mengeluarkan secarik kertas. Kutuliskan sebuah surat yang  ditujukan untuk Pochi, kuceritakan betapa menyesalnya aku atas perbuatanku yang buruk, betapa sepinya rumah kami setelah kepergiannya, betapa rindunya aku akan gonggongannya, betapa berterima kasihnya aku akan kesetiaannya selama ini. Ini adalah ide yang gila, tetapi aku ingin sekali melakukannya.

            Paginya,  aku meminta ayahku untuk membeli sebuah balon helium. Kuikat surat yang kutulis semalaman itu pada ujung tali balon dengan penuh hati-hati, lalu kulepaskan balon itu ke angkasa yang diselubungi awan gelap saat itu. Bersama dengan Ayah, kami memandangi balon itu hingga hilang dari pandangan.

            “Ayah, Pochi ada di atas sana, bukan?”
            Ayah menoleh dan mengelus-elus rambutku. “Ya, tentu saja.”
            “Kira-kira, mampukah balon itu mengantar suratku padanya? Apakah suratku dapat mencapai tempat di mana Pochi sekarang berada? Apakah Pochi akan menerimanya? Apakah ia akan membacanya? Maukah ia membalasnya?”

            Seperti biasanya, Ayah hanya mampu tersenyum. Ia menepuk-nepuk punggungku sebelum membawaku masuk ke dalam rumah.

            Hujan deras turun mengguyur rumah kami malamnya. Petir menyambar-nyambar, suaranya menciutkan hati. Aku menemukan diriku tak bisa tidur. Mataku terbuka lebar, pikiran negatif merasuki otakku. Bagaimana nasib balon itu sekarang? Apakah ia masih mengembara di langit? Apakah ia berhasil lolos dari sambaran petir? Bagaimana bila ada burung-burung nakal yang mematuk balon itu hingga pecah? Jangan-jangan balon itu ditabrak pesawat terbang… Kucoba membuang semua pikiran itu jauh-jauh hingga aku jatuh tertidur karena kelelahan.

            Di hari pertamaku bersekolah sejak kepergian Pochi, aku kembali menjadi seorang pemurung. Semuanya kulakukan sendiri tanpa ada yang mempedulikan. Kupikir semua orang membenciku, kupikir tak ada pintu maaf terbuka bagiku. Lagi-lagi aku salah. Seorang perempuan seumuran memutuskan untuk duduk bersamaku selama jam makan siang. Senyumnya hangat, setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya menyejukkan hati. Kami langsung berteman dan untuk kedua kalinya aku belajar untuk membuka hatiku.

            Aku dan perempuan itu kembali bertemu seusai sekolah. Karena rumah kami yang berdekatan, kami setuju untuk berjalan pulang bersama. Semula, kami hanya berbincang-bincang kecil sembari ditemani oleh tirai jingga yang menjuntai mewarnai langit. Pembicaraan kami terhenti ketika teman baruku ini menghentikan langkah kakinya demi memberitahuku sesuatu.

            “Maruko, coba lihat ke langit!” serunya, jari telunjuknya menunjuk pada suatu kawasan di sebelah Barat kami. Awan-awan tampak berkumpul menutupi matahari yang siap tenggelam. Yang membuatku tercengang adalah bentuk kumpulan awan tersebut yang menyerupai seekor anjing dengan sepucuk surat di mulutnya. Anjing itu tampak bahagia, senyumnya disinari oleh secercah sinar surya. Kami menonton semuanya dalam keheningan, terkagum-kagum dengan apa yang tengah kami saksikan.

            “Kau baik-baik saja?” tanyanya seusai matahari terbenam. “Sedari tadi kau tak bisa berhenti tersenyum, apa pipimu tidak sakit?”
            “Hmm… Ya, aku baik-baik saja.”
            “Mengapa kau tampak begitu gembira? Apa yang terjadi padamu?”
            “Tidak ada. Tidak terjadi apa-apa.”
            “Maruko, ayo ceritakan! Jangan membuatku penasaran begitu.”
            Tawa kami menderai di tengah menguningnya daun-daun di sepanjang jalan. Daun-daun yang gugur jatuh berserakan di tanah, menghiasi indahnya jalan pulang menuju rumah kami.  

Terima kasih, Pochi.  (caterinne)



A/N:
Terinspirasi dari https://9gag.com/gag/aB3bVGQ?ref=mobile
           


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sepucuk Surat dari Langit"

Posting Komentar