Catatan Kecil Bersama Gadis Solor Watan Lema

Catatan Kecil Bersama Gadis Solor Watan Lema
“Iya bapa” dua kata itu sontak membuatku tertegun sejenak. Kaget, bangga, sekaligus binggung. Ditambah lembutnya suara dan jawaban penuh hormat dari seberang sana semakin membuatku seperti linglung sendiri di tengah keramaian yang ada. Sejatinya bukan bingung, tepatnya tidak lazim dengan kata-kata seperti itu; sehingga membuatku berpikir, kok bisa?, “ada orang seramah ini”.  Itulah kesan awalku dengan gadis Solor, Watan Lema. Namanya Onshy Hayon.

Di balik sikapnya yang lembut, wajah cantik yang selalu menghadirkan senyum ramah kepada siapapun, ternayata gadis ini adalah seorang perantau ulung di usianya yang terbilang masih “hijau”. Daratan Jawa sejenak ia singgahi demi menggapai panggilan ilahi meski pilihan berkendak lain. Tanah borneo pun pernah ia jajaki meski tak sampai mengering keringatnya di salah satu pulau terbesar di Indonesia itu. Akhirnya kota daeng lah tempat fans berat Barcelona ini meraih gitanya, Sarjana akuntansi. Proficiat untukmu oa.

Saya pernah berujar, “jangan nangis kalau natal jauh dari orang tua”, ini jawaban gadis yang pernah bercita-cita jadi biarawati itu, “bapa kalau nangis di hari natal itu namanya kids trada zaman, hehhee”.
Catatan Kecil Bersama Gadis Solor Watan Lema

Sejujurnya ini percakapan yang biasa, kata-kata yang terucap mungkin juga hanya sambil lalu saja. Tetapi jika ditelisik lebih jauh maka ditemukan fakta bahwa, pengalaman dalam situasi sulit akan membuat seorang perantau menjadi bijak, dan bertumbuh dalam kestabilan emosi yang standar. Bukan anak mami yang hanya bisa menangis tanpa tahu solusi yang berarti. Jadi ga boleh nangis ne?, jawabanya relatif. Tergantung dari sudut mana kita memandangnya.

Ia dikenal sabar, perhatian dan agak cerewet oleh orang-orang terdekatnya. Sebenarnya ini tiga serangkai yang menurut saya harus dimiliki setiap wanita agar rumah menjadi tempat yang paling dirindukan oleh suami dan anak. Sabar tentunya menjadi keharusan jika menghadapi kids zaman now dengan sejuta aksi di zaman ini. Ditambah lagi suami zaman now. Untuk suami si katanya tua di rumah muda di jalan, ssst tu bukan saya ya, hanya judul lagu tempo dulu dari Mof.

Cerewet? ya ialah karakter orang yang perhatian tentu banyak kata. Itulah cinta yang paling tulus. Coba kalau loe salah dibiarkan saja oleh orang yang loe cinta, amsong bro hidup loe. Seperti sayur tanpa garam. Jadi mulai sekarang bersyukur jika ada yang cerewetin hidup loe karena di sana ada cinta tulus. Gile, kata-kata ane kayak pastor padahal petakilan, ah sudahlah, tidak penting buat dibahas. Lanjut ya…..,
Catatan Kecil Bersama Gadis Solor Watan Lema

Jadi doi berharap suaminya kelak bisa menjadi teman berbagi suka maupun duka bukan saling bersaing. Apalagi mau menang sendiri trada zaman bagi gadis berkaca mata ini. Mau daftar?, maaf e bray doi uda punya pacar.   

Moto hidup gadis ini cukup sederhana namun syarat makna. “Bangkit!, kamu pasti bisa,” sederhana moto hidup dari gadis yang menempatkan kebahagian orang tua sebagai garda paling depan ini. Namun inspirasi dari deretan kata itu sunggu penuh makna baginya. Kekuatan kata dan kalimat itulah yang telah mengantarkannya meraih gelar sarjana akuntansi.

Judul skripsinya pun tak tanggung-tanggung sebuah studi kasus yang mencari datanya pun membutuhkan perjuangan super duper melelahkan. Sepertinya sang dara benar-benar paham, makna di balik tulisan latin ini ‘Ora et labora’, kira-kira seperti itulah spiritnya, dan akhirnya hasil sempurna pun diraih. Nilai skripsi A, sungguh luar biasa.  

Sampailah kita pada pertanyaan klasik, apa untungnya buat saya membaca tulisan ini?, jawabanya tentu kembali kepada cara pandang setiap insan. Namun ijinkan saya menyampaikan pesan sang gadis.
1.     Selama usaha, kerja keras, disertai dengan doa maka tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Mimpi bisa terwujud jika bertahan dalam kesulitan dan terus berusaha, sambil mengalaskan semuanya dengan doa. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
2.     Menjadi manusia itu kehendak sang khalik, tetapi menjadi dewasa (bukan soal usia) itu adalah sebuah proses. Butuh perjuangan, kerja keras, juga tetesan air mata. Sukses tidak diraih dengan mudah; tetapi bukan berarti tidak mungkin.
3.     Di zaman alay, hadirlah sebagai pembeda dengan terus mengutamakan sopan santun maka zaman tidak pernah melupakannya. Bukankah nama baik lebih berarti daripada kekayaan?

Akhirnya proficiat oa, raih gita dan cinta. Kemudian pergi dan jadilaha juru penerang. Semoga semakin menginspirasi. Salam*


Baca juga:



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Kecil Bersama Gadis Solor Watan Lema"

Posting Komentar