Budi Pekerti Pelaku Dibalik Kematian Tragis Guru Budi di SMAN 1 Torjun Sampang Jawa Timur

Budi Pekerti Pelaku Dibalik Kematian Tragis Guru Budi di SMAN 1 Torjun Sampang Jawa Timur
Sumber gambar: www.budipekerti.com 

Guru Budi sudah ‘berlalu’ ini Budi…, pasti tinggal cerita karena budi pekerti pun sudah hampir mati.

Seorang pendidik idealnya menjadi teladan bagi yang didik, agar yang didik tidak jadi bumerang bagi bangsa si terdidik. Ini semua bisa terwujud jika keluarga sebagai lembaga pendidikan yang pertama menjadi tempat yang dirindukan seorang anak. Jika tidak maka realitas terbalik pasti tersaji lagi seperti sepekan yang berlalu, pada sosok almahrum guru Budi di Sampang Jawa Timur sana.
***
Makasi ya pakk ud ngajarin saya setaun ini, sebenernya saya berterimakasih sama bapak bukan karna bapak ngajarin saya B I doangg, banyak pak guru BI dimana mana tapi buat jadi wali kelas sekaligus pembimbing dan pendengar yg baik itu ga semua orang bisa pak, tapi bapak bisa!. 

Terima kasih juga uda bikin saya juara 1 di KKG kemaren, ya mungkin emang banyak org yg berperann, ga cuma bapak. tapi kalo bapak ga paksa saya buat ikut lomba saya gatau pak kalo ternyata saya bisa. selamat pak, bapak sudah menjadi guru kampung yang dicintai lewat cara bapak. 

Kutipan di atas adalah ungkapan hati salah seorang murid kepadaku via line. Hanya karena saya pernah menjadi wali kelas dan pernah membimbingnya dalam club debat di SMA Kanaan Jakarta.

Hal yang sama pun disampaikan oleh muridku yang lain seperti ini:
Pak martin... saya mau ngmg serius deh sm bapak. ya mgkin ini sedikit lebay tp gpp lah ya pak wkwk. nih pak. saya berterima kasih bgtttttttt pak sama bapaakkkk. makasi buat 1 taunnya bapa uda ngedidik saya dari awal kelas 10 smpe sekarang. saya jg makasi bangettt sama Tuhan soalnya Tuhan bs temuin saya sama org yang kaya bapak. saya bersyukur bgt bs ktmu org kaya bapak. tp bener deh pak, seumur2 sya bru prtama kali ketemu guru yg kaya bapak. bapa tuh bs jdi inspirasi saya bgt. klo mau jujur ya pak, bapa bener2 guru favorit saya pak. wali kelas paling the best!!!!! guru paling the besttt!!! bapa yg bisa buat saya tenang. bapa yg bisa buat saya jd lebi dewasa. bapa yg slalu kasi solusi klo saya ada masalah. ya jujur aja pak klo emg gada bapak jg saya kayanya ga berubah. saya itu tipe org yang bodo amat pak. tp semenjak ada bapak, saya bs belajar sedikit2 jd org yg tanggung jawab, jdi lebi disiplin. Maap pak klo lebay tp ini serius bapak bener2 guru kesukaan saya bangeettttt!!. 
Dua kutipan di atas diambil dari blog pribadi. Tidak bermaksud untuk pamer atau merasa diri paling hebat, tetapi hanya mencoba mengantar pembaca untuk merenung dan mengenang kembali sosok yang kita sebut guru.

Profesi guru selalu mendapat tempat yang istimewa di hati siapa pun. Bahkan orang nomor satu di Indonesia saat ini, Presiden Jokowidodo telah memberi contoh dengan membungkukkan badan di hadapan ribuan guru. "Saya bisa menjadi presiden karena jasa guru", ucapan presiden disela-sela pidato pada peringatan hari guru tahun lalu.

Siapapun kita saat ini, tentunya pernah mendengar atau merasakan saat-saat bersama sosok yang disebut “guru”. Jadi guru hanyalah guru, tetapi guru bisa membuat orang jadi lebih hebat dari diri sang guru itu. Konteks ini, sebagai manusia normal dan memiliki ‘rasa’ sudah seharusnya menghormati guru. Namun seperti diberitakan di berbagai media sepekan ini, Ahmad Budi Cahyono, seorang guru seni di SMAN 1 Torjun Sampang meninggal akibat dianiaya oleh muridnya sendiri MH, siswa kelas XI. Saat pelajaran seni rupa, Kamis (1/2/2018).

Masalahnya pun menurut saya sepelah, pelaku ditegur oleh korban gara-gara tertidur di kelas dan mengganggu kegiatan belajar saat itu. Lantaran kesal karena merasa pelaku tidak menghiraukan peringatannya, korban kemudian mencoret pipi pelaku MH dengan kuas karena tidak bisa dinasihati. Tak terima, MH kemudian memukul korban.Hingga akhirnya guru malang itu menghembuskan nafas terakhirnya pada, Jumat (2/2/2018) siang.

Biar berimbang mari kita tengok kembali ke belakang. Masih ingatkah kasus-kasus berikut ini:

1.     Oknum guru Jakarta Internasional School (JIS) yang melakukan pelecehan seksual kepada muridnya pada tahun 2016.
2.     Korban Asusila Guru Edi Waluyo di SMP Budi Waluyo Jakarta Selatan tahun 2006.

Dua kasus di atas adalah contoh kecil dari sosok guru yang katanya diguguh dan ditiru. Mungkin juga banyak kasus lain yang melibatkan oknum guru “nakal” di luar sana, yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

Sidang pembaca yang terkasih, saya di sini dan menulis bukan untuk menyebutkan dosa seorang guru, karena saya pun seorang guru yang belumlah sempurna. Namun inti dari ulasan ini adalah matinya budi pekerti seorang pendidik dan yang didik. Jadi yang meninggal bukanlah Ahmad Budi Cahyono, seorang guru seni di SMAN 1 Torjun, tetapi hati nurani yang kusebut sebagai budi pekerti.

Mungkin secara fisik beliau sudah tiada, tetapi kuyakin caranya meninggal akan terus dikenang oleh dunia pendidikan. Namun budi pekerti dari pendidik dan yang didik perlahan-lahan seperti terkikis oleh zaman, hilang karena teknologi, dan lama kelaman mati karena rumah bukan lagi menjadi tempat yang dirindukan oleh seorang anak.

Mengapa demikian?

Jawabannya karena Budi Pekerti sudah mati.

***

Siapakah Budi Pekerti itu?

Budi Pekerti yang dimaksudkan dalam tulisan ini bukan nama orang. Melainkan suatu konsep berpikir orang Indonesia yang telah membudaya di masa lampau. Kata budi pekerti merupakan gabungan dari 2 kata, yakni budi dan pekerti. Kata budi memiliki arti sadar, nalar, pikiran atau watak. Sedangkan pekerti memiliki makna perilaku, perbuatan, perangai, tabiat, watak

Kedua kata ini memiliki kaitan karena dasarnya budi seseorang ada dalam batin manusia dan tidak akan tampak sebelum dilakukan dalam bentuk pekerti atau perbuatan.

Jadi yang dimaksud dengan budi pekerti bisa saya simpulkan sebagai nilai hidup yang harus dijalankan oleh seseorang dalam berelasi dengan orang lain. Nilai yang dimaksudkan antara lain; sopan santun, tanggung jawab, disiplin, jujur, ikhlas, menghargai, dan lain sebagainya.

Mengapa Budi Pekerti Penting untuk Saya Bahas,

Saat Jepang dibom hanguskan oleh sekutu tahun 1945, kaisar Hirohito tidak bertanya, “berapa prajurit gagah berani yang tersisa”, melainkan “berapa guru yang tersisa”. Catatan sejarah itu mengilhami saya untuk berupaya dengan apa yang saya bisa, menulis, memberi contoh, dan menasehati pentingnya budi pekerti bagi generasi zaman now. Mengapa ini penting karena saya seorang guru. Di masa lampau dan di masa kini Jepang bangkit dan Berjaya itu karena guru. Namun faktanya sekarang, di Indonesia guru memperkosa murid, murid membunuh guru. Artinya ada yang hilang dari Jiwa orang Indonesia. Bukankah di masa lampau Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat?, itu karena nenek moyang kita paham apa yang disebut budi pekerti.

  Jika budi pekerti tidak dibahas ketakutan saya adalah manusia zaman now lupa kalau sebagai manusia idealnya dia bergaul dengan manusia yang lain. Kelompok masyarakat yang beda budaya, bahasa, maupun keyakinan dalam satu kesatuan sebagai manusia Indonesia yang berbudaya. Atau pun dari generasi zaman now yang katanya super duper melek teknologi kepada generasi tua. Hal ini menjadi penting agar kita tidak ketinggalan zaman sebagai sebuah bangsa tetapi juga tidak melupakan nilai-nilai luhur bangsa kita sendiri.

Keluarga sebagai Lembaga Pendidikan yang Pertama

Tidak ada berhenti dulu, tunggu dulu, nanti dulu, ntar dulu dan sederetan kata menunda lainnya. Kita harus memulainya dari sekarang; dimulai dari diri kita sendiri dan dari keluarga.

Apa yang kita mulai?

Menenamkan pendidikan budi pekerti dimulai dari diri sendiri dan dari keluarga. Sanking seriusnya urusan si budi pekerti ini hingga presiden pun “turun gunung” dinas pendidikan, guru dan setiap keluarga di Indonesia menanamkan kembali akar budaya dan peradaban bangsa agar tidak hilang oleh arus zaman milenial.

Caranya Seperti Apa?

Cukup sederhana dan muda dilakukan jika kita memiliki sedikit kemauan untuk dilakukan.

Pertama Miliki Waktu Terbaik Bersama Keluarga

Rutinitas pekerjaan dan gadjet telah mencuri waktu terbaik kita bersama keluarga, bahkan di meja makan sekali pun sering kali masih sibuk dengan bisnis atau sekedar bertegur sapa dengan mereka yang di luar sana. Cukup sudah dan sekarang mari kita mulai ciptakan waktu terbaik bersama keluarga. Walau hanya sejam, lakukan setiap hari dan rasakan manfaatnya. Saya menulis karena sudah melakukannya, sebelum itu sibuk dengan urusan kerja dan hoby. Akibatnya isteri menangis anak menjauh. Saat saya membalik arah dan memberikan satu hari terbaik ku bersama keluarga tercinta, suatu perubahan terjadi. “yah, ini tehnya” itu yang dilakukan putri kecil saya saat saya lagi sibuk membuat soal USBN. Lantaran sesaat kemudian dia pun berujar “jangan lupa ya ayah, sabtu kita jalan-jalan”, dia mengingatkanku dan memberi pesan, “silahkan ayah kerja, saya memberi dukungan melalui segelas the ini, tetapi jangan lupa Sabtu adalah waktu bersama keluarga”.

Mungkin ada yang mengatakankan, apakah salah membahas pekerjaan di rumah?, tidak salah karena pekerjaan dapat menghidupi keluarga. Namun sediahkan waktu terbaik bersama keluarga tercinta pun harus menjadi keharusan karena kita bekerja untuk menghidupi keluarga bukan menjadi hamba dari pekerjaan.

Kedua, Jadi Sahabat Bagi Anak

Kurikulum 2013 membuat anak-anak mengalamai tingkat jenuh dan stress yang cukup tinggi. Lho kenapa pak?. Bisa dibayangkan setiap hari minimal seorang pelajar SMP, SMA dan SMK menerima sekitar 3 sampai 4 pelajaran. Konsep belajar tuntas yang digadang oleh kurikulum 2013 seperti mengharuskan ada tugas dari setiap pelajaran tersebut. Di sisi yang lain, seorang remaja harus belajar kurang lebih 8 jam di sekolah. Mulai pukul 07.00 – 14.30 WIB dari Senin sampai Jumat.

Pertanyaan saya waktu mengerjakan PR kapan?. Sabtukah…?, memang mereka robot yang tidak butuh refresing. Pulang sekolah, memang mereka tidak butuh istirahat?. Minggu kalau begitu. Memang yang Nasrani tidak ke gereja?.

Artinya apa dalam situasi tersebut anak-anak mengalami tekanan mental, lelah fisik, dan ketidakterpenuhnya kebutuhan dasar manusia untuk refresing. Jika terus dipaksakan untuk belajar, maka yang ada bukan belajar melainkan memberontak. Mengapa, karena secara psikologi remaja tersebut merasa orang dewasa tidak memahami kesulitan mereka.

Jadi apa solusinya?

Sederhana sekali, jadilah sahabat bagi mereka. Menjadi sahabat?, sebagai orang dewasa kita bisa memaharahi mereka jika melakukan kesalahan yang sifatnya fatal. Di sisi yang lain kita pun “dituntut” untuk bisa menjadi pendengar yang baik dan memahami kesulitan mereka. Tidak perlu bertindak sebagai orang paling tahu karena kita orang dewasa. Melainkan selalu sediakan “ruang” untuk mengakui kesalahan kita di depan anak, dan jika anak melakukan hal yang benar dan baik, berilah penghargaan dan apresiasi. Di situ akan tumbuh suatu perasanan dihargai dan dimengerti dari anak. Pendidikan karakter yang ditanamkan seperti itu maka percaya nilai-nilai budi pekerti pun dengan sendirinya akan tumbuh dan berkembang melalui sosok orang tua yang penuh cinta. 

Ketiga Orang Tua Harus Gaul Karena Ini Zaman Now

Orang tua dan guru tidak harus membeli kamus gaul kemudian mempelajarinya siang dan malam. Cukup mengerti sedikit istilah-istilah seperti; alay, kepo, sabi, agut. Supaya tahu persoalan apa si yang dibahas oleh kids zaman now. Jika ada yang salah, maka tugas kita sebagai orang dewasalah untuk memperbaikinya. Itu fungsinya agar orang tua gaul, biar tahu topik apa yang dibahas remaja gaul zaman now.

Jangan takut tidak berhasil, jika orang tua dan guru sudah melakukan point pertama dan kedua berhasil. Maka point ketiga ini cukup mudah. Tetapi jika tidak berhasil di point pertama maupun kedua maka rasa-rasanya kita sebagai orang tua hanya akan menjadi bahan omongan mereka, “iss, apaan si kepo bangat de”. Mungkin seperti itu jawabanya.

Keempat Akrab dengan Teknologi

Point keempat sebenarnya berlaku secara khusus bagi orang tua dan guru yang tidak fasih menggunakan teknologi kekiniaan, seperti instagram atau youtube. Mengapa soal teknologi dibahas?, sebab bagi generasi Y yang lahir di era milenial. Teknologi telah menjadi teman sejati. Segala aktifitasnya sebagaian besar melalui teknologi. Jadi jika kita bisa mengimbanginya maka otomatis tahu sepak terjang mereka di luar rumah atau luar sekolah. Inilah manfaatnya fungsi kontrol orang tua. Taraf ini jika ada yang keliru, kita jadi tahu dan segera memperbaikinya.

Ingat!, jangan lupa menjelaskan mengapa orang tua larang. Jangan sampai anak-anak menemukan jawaban dari google. Misalnya, jika menyebarkan gambar tidak senonoh temanmu maka kamu akan berhadapan dengan UU ITE, karena melakukan pencemaran nama baik. Hukumannya adalah penjara sekian tahun. Kira-kira seperti itu. Alasan menjadi penting, sebab generasi milenial adalah orang-orang yang cukup kritias. Menurut pengalaman saya generasi milenial tidak akan mudah percaya jika penjelasan kita soal sebab dan akibat tidak maksimal.

Penutup

Jangan sampai orang tua di rumah menjadi “hamba” teknologi sehingga tidak ada waktu buat anak. Jika hal itu terjadi maka hanya akan menimbulkan masalah baru yang lebih rumit lagi. Mengapa demikian karena di zaman now musuh terbesar kita adalah teknologi. Agar musuh menjadi kawan maka miliki waktu terbaik bersama keluarga, menjadi sahabat bagi anak, jadi orang tua gaul agar tahu keluh kesah maupun sepak terjang putra-putrinya di luar rumah. Semua ini bisa dilakukan dan pasti berhasil, jika orang tua bisa menjadi contoh bukan hanya berbicara. “jika orang tua melarang anaknya merokok idealnya orang tua pun tidak merokok. Jika orang tua mengajari anaknya cinta damai maka idealnya di rumah menjadi tempat yang dirundukan anak; tanpa ada pertengkaran dari kedua orang tuanya. Sayang anak, berilah contoh, bukan kata kosong***

Catatan

Tulisan ini pernah saya muat di kompasiana dengan format yang pendek.
Baca juga: Yang meninggal budi pekerti bukan Budi Cahyono
 









Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Budi Pekerti Pelaku Dibalik Kematian Tragis Guru Budi di SMAN 1 Torjun Sampang Jawa Timur "

Posting Komentar