Daftar Kompasianer Inspirasi Makar


Daftar Kompasianer Inspirasi Makar
Sumber foto: Kompasiana
Sejujurnya saya agak was-was menulis judul seperti ini. Penyebabnya adalah kata “makar”. Supaya jangan sampai gagal paham, saya coba menjelaskan sesederhana mungkin maksud saya. Makar adalah bentuk pendek dari nama saya, yaitu Martin KarakabuJadi makar yang saya maksud bukanlah suatu tindakan dari seseorang atau sekelompok orang yang mengancam kedaulatan suatu negara atau komunitas tertentu. Melainkan bentuk pendek dari nama saya, Martin Karakabu.

Sedangkan inspirasi yang saya maksudkan adalah mereka-mereka (baca: kompasianer) yang tulisan dan cara mereka mengeblog di kompasiana mampu membuat saya berpikir bahwa orang ini hebat, intlektual, inspirasi, dan membuat saya harus banyak belajar dari mereka.

Jadi intinya ulasan ini menjelaskan tentang orang-orang hebat yang saya temui lewat interaksi saya selama sepekan ini di kompasiana; maupun mereka-mereka yang karya inspiratifnya sempat saya baca dan mampu menggugah saya suapaya banyak belajar dari mereka. Sekaligus ini sebagai jawaban saya dari semcam pertanyaan admin kompasiana, “apa resolusimu di tahun 2018?”. Jawabanya adalah terus belajar menulis agar menjadi hebat seperti orang-orang hebat ini. Inilah orang-orang hebat dan luar biasa itu.  

1.       TJIPTADINATA EFFENDI

Usia boleh saja di ujung senja, tetapi soal produktifitas menulis jangan pernah ragukan lagi pada sosok yang satu ini. Sejak mendaftar di kompasiana, 22 Desember 2017 saya mencoba untuk sekedar memandang halaman depan kompasiana. Hampir setiap hari beliau menghadirkan tulisan-tulisan berkualitas kepada sidang pembaca. Sejujurnya saya penasaran, resepnya apa ya..?.

Menulis adalah upaya melawan lupa, sepertinya benar-benar diterapkan oleh beliau. Di depan kelas terkadang saya kesal dengan tingkah mereka yang disebut kids zaman now. “pak saya uda tahu apa yang mau ditulis, tapi susah bangat merangkah kata-katanya”, itu yang sering saya jumpai. Andaikan dulu pak Efeendi berpikir sama dan tidak melakukan, atau mengalami hal yang sama dan tidak mencoba, bisakah seproduktif ini?.

Terima kasih pak, hadirmu telah menginspirasi bahwa yang namanya belajar tidak mengenal batasan umur. Tuhan berkati dan sukses selalu dalam karya.  

2.    Katedrarajawen

Ini orang pertama yang menyambutku di kompasiana dan menawarkan suatu jalinan persahabatan yang baik. Terima kasih banyak mas. “Apakah karena itu beliau masuk nominasi saya?”, sama sekali bukan. Lantas apa? Jika berkenan baca karya fenomenalnya yang berjudul semenit sejuta klik. Paragraf ketiga kalimat kedua dari bawah; bunyinya seperti ini, “…kasihan saya yang menulis dan membaca bermodalkan HP…”.

Kalau hanya sebatas ini banyak kompasioner lain pun melakukankan hal yang sama, tetapi rasa kagumku ialah dari sebuah HP bisa seproduktif itu menurut saya layak untuk dikatakan hebat.

Jadi kata kuncinya adalah soal produktifitas dalam menulis. Sampai pada bagian ini saya tahu sepertinya bisa jadi pro dan kontra. “yang penting kuwalitas bukan kuantitas”. Orang ini memiliki kedua-duanya bro sist. Terima kasih masta telah menawarkan persahabatan kepada si newbie macam saya. Tuhan berkati selalu mas.

3.       Latifah Maurinta

Cerpenis muda lagi berbakat, tidak hanya merangkai kata tetapi sekaligus mengajak pembacanya larut dalam permainan kata-kata penuh makna. Pembaca serasa dihipnotis untuk larut dalam imajinasi. Muda soal usia, tapi tidak untuk karya. Terus berkarya dan hadirkan kepada pembacamu imajinasi inspiratif. Saya selalu mengagumi orang muda yang bisa merangkai kata, sebab saya lelah memandang potret zaman yang kebanyakan mengupdate status di face book daripada mengupdate tulisan di kompasiana. Namun, Latifah salah satu yang berbeda.  

4.       Bagas Candrakanta

Seorang mahasiswa yang benar-benar mahasiswa. Makasudnya? Jawabannya hanya bisa dijawab jika sidang pembaca sudah berjalan-jalan ke lapkanya dan coba telusuri karyanya satu persatu. Setiap tulisanya sangat berkelas, bukan sekedar menulis tetapi unsur edukasi begitu nyata. Berharap pendapat kita sama.

Satu tulisanyanya yang kekinian bangat adalah mudahnya generasi milenial berkarya. Apa edukasinya di sana pak?, “warnet terus warnet terus”. Pernah dengar ucapan orang tua seperti ini. Generasi milenial pun selalu disalahkan dalam hal ini. Sebagian besar saya setuju karena anak-anak sering menyalahgunakan kepercayaan orang tua. Tetapi perlu kita tahu juga sekarang bukan zamanya main masak-masakan atau karet gelang. Selain itu, K 13 sebagian besar aktifitas KBM berhubungan dengan internet. Hal ini penting juga buat saya dan kita yang beda zaman pahami putra-putri kita, dengan kata lain mari kita bijak dalam bersikap, (maaf tidak menggurui).

Anak muda terus berkarya, aksara dan diksi adalah identitasmu. Terus cerahkan generasimu dengan karya yang intlektual. Salam kenal.

5.       Tutut Setyorinie

Sama halnya dengan mbak Latif dan mas Bagas, Tutut Setyorinie beliau pun seorang mahasiswa. Yang muda berkarya; seperti itulah kesannya.

Menulis semua orang bisa tetapi memberi roh pada tulisan tidak semua orang bisa (termasuk saya), tetapi cerpenis yang satu ini bisa. Bagi orang yang selalu mengandalkan logika, “apa kabar langit” kesanya aneh dan tidak masuk akal. Tetapi coba pahami salah satu kumpulan puisi tersebut dan renungkan. Di sana ada kritik sosial yang sangat kritis. Mungkin terinspirasi dari sang legenda Iwan Fals.

Saat saya mencoba menelusuriaya satu persatu penggalan inspirasi dari sang novelis muda ini, jujur saya iri, “kenapa gue ga bisa sehebat dia”. Salam kenal sobat muda, hiduplah seribu tahun lagi lewat karya – karyamu. 

6.       Sigit

Halo mas Sigit, salam kenal. Apa yang membuat saya mengagumi orang ini. Jawabanya ada pada kemauan dan semangatnya yang luar biasa dalam menulis. Kok tahu?, baca dulu kisahnya. Saya dan 9 Tahun Kompasiana. Di sana ada jawabanya. Ada gunda gulana, ada tantangan, ada juga bahagia. Semuanya terus berproses. Salut mas dengan semangatnya menulis. Terus menulis untuk dikisahkan pada anak cucu.

Demikian 6 orang yang menginspirasi saya di kompasiana. Tentunya penilaian ini subjektif sekali, tetapi sekali lagi bahwa mereka yang saya sebutkan tadi kemampuan menulisnya melebihi saya, jadi pantas untuk dijadikan tempat bertanya dan belajar. Saya percaya masih banyak kompasianer yang hebat, bahkan mungkin lebih hebat dari sobat-sobat yang saya sebutkan di atas. Ini hanya soal waktu untuk saling bertukar tutur, ide, dan gagasan. Salam kenal semuanya. Terus menulis, satu dalam karya. Salam.

Baca juga:


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Daftar Kompasianer Inspirasi Makar"

Posting Komentar