Hadiah Terbaik dari Ibu di Mata Remaja Milenial

Hadiah Terbaik dari Ibu di Mata Remaja Milenial
Sumber foto: Mastimon.com 
“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagi sang surya menyinari dunia”
Itu adalah penggalan lirik lagu yang mengingatkanku pada masa kecil, pada sosok yang penuh cinta yang disebut ibu. Ingatan itu kembali hadir saat isteri tercinta melantunkannya untuk mengantarkan tidur si kecil putri kami.

Tanpa terasa aku pun terhanyut pada nostalgia masa kecil. Ternyata kasih seorang ibu begitu abadi dan tak akan lekang oleh waktu. Tidak peduli berapa pun jumlah rupiah yang engkau punyai; bagi saya kasih dan sayang seorang ibu tidak bisa diukur dengan angka dan uang.  

Hal ini bukan hanya pendapat saya seorang, dua puluh dua orang murid di kelas XI IPS 2 SMA Kanaan Jakarta pun mengamaninya.

Berikut ini kata mereka tentang ibunya. Disimak dan direnung jika berkenan. Ini pengakuan jujur, tanpa tendensi apapun.


Desi Natalia

Bagi Desi Natalia, ibu adalah sosok yang kuat, “segala masalah ditanggung sendiri, dia tidak ingin anak-anaknya tahu” katanya. Ini tentu mengharukan bagi seorang ibu karena putri kecilnya yang telah tumbuh dewasa turut merasakan perjuangan ibu. Selengkapnya bisa lihat di sini.


Brainard

“Dari ibu saya tahu arti kerja keras demi orang yang dicintai” kata pemuda tampan ini. Sejujurnya membaca tulisan muridku yang satu ini rasanya ingin menangis. Untaian kata dan pengakuan jujurnya membuatku terhanyut dan ikut merasakan lokon hidup yang diulas kembali. Sunggu ironis hidup itu sendiri. Selengkapaya bisa lihat di sini.


Clara Alverina

Bagi Clara mamanya adalah semuanya. Maksudnya bisa jadi ibu, jadi ayah, dan yang terpenting baginya adalah sang ibu bisa jadi sahabat buat Clara. Oleh karena itu sang darah menobatkan mamanya sebagai ibu terbaik sedunia.

Soal gadis kelahiran Bandung ini bisa lihat juga ulasan saya tentangnya yang berjudul Mojang Prianganyang Menginspirasi; kemudian soal sosok mama di mata Clara, selengkapnya bisa dilihat di sini.


Justin

Bagi muridku yang inspiratif ini, ibu adalah malekat yang tidak memiliki sayap. Sebuah majas yang dipakai untuk mendeskripsikan kasih sayang seorang ibu padanya. Ini kata gokilnya yang membuatku tersenyum sendiri, “ibu itu seorang yang telah merelakan perutnya untuk kita ngekos selama 9 bulan dan semuanya gratis, tanpa diminta bayaran”. Milenial bangat ya, dalam pandangan saya inilah sosok Justin di mataku. 

Baca: Tegas dalam prinsip, lembut dalam rasa 

Selengkapnya tentang ibu di mata Justin lihat di sini.


Ellen

Hanya memberi tak mengharapkan kembali.
Itulah sosok mama menurut Ellen, luar biasa. Baginya mama adalah ruang untuk cinta terbaik di dunia. Tiada cinta lain, sebaik cinta ibu; “perhatian yang sangat luar biasa dari ibu, membuatku patut untuk mengucap suyukur senantiasa. Selengkapnya tentang sosok ibu di mata gadis ini bisa lihat disini.


Eric

Dalam artikel yang berjudul Kasih ibu sepanjang masa. Seorang Eric memberi sisi lain dari kesannya terhadap ibu. Yaitu DOA. Bagi Eric muridku yang menurut saya tingkahnya membuatku tak mampu menahan tawa ini. Dimana pun ia melangkah tak ada rasa takut karena doa ibu selalu menyertai. Terharu bangat ne ric, kata-katanya menginspirasi. Selengkapnya bisa dilihat di sini.


Vincent

Bagi remaja yang menyukai futsal ini, kasih seorang ibu tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Abadi dan selalu dikenang. “menulis tentang ibu, mengingatkanku pada masa kecil, saat sakit ibuku selalu merawat dengan kasih sayangnya yang tulus” kata Vincent. Selengkapnya bisa dilihat di sini.


Tasya

Ini reflektif yang sangat mendalam tentang sosok ibu. Menulis dengan hati. Bagi gadis ini hadiah terindah dari ibu, berupa benda itu biasa. Tetapi pengorbanan, doa sepanjang hayat, dan menahan duka untuk kebahagiaan anak itu yang dinamakan pemberian terbaik dari seorang ibu, kata Tasya.

Sunggu ini sangat reflektif jika kita mau menelusuri setiap barisan aksara yang dikemas gadis ini dengan “hati”. Selengkapnya bisa dilihat di sini.


Nelysia

Sebagai guru Bahasa Indonesia saya menghabiskan banyak waktuku yang paling berharga bersama keluarga untuk “menularkan” semangat menulis kepada siswa-siswiku. Alasannya sangat logis dan cukup bisa dipahami oleh akal tentunya. Namun postingan ini bukan bermaksud mengulas tentang teori menulis. Melainkan dari cara gadis ini “mencatat hati” untuk mengungkapkan kasih ibu, sunggu membuatku bangga sebagai gurunya.

Mungkin masih amatiran, tidak seperti penulis hebat di luar sana tetapi jika kemampuan ini dipertahankan kuyakin skripsi gadis ini tidak menemu kendala berarti. Saya tidak bisa mengulasnya panjang lebar, tetapi saya mengajak bapak ibu semua merenungi kata dan kalimat yang ditulis gadis ini.

Seorang perempuan kecil ketika ditanya di mana rumahnya, ia menjawab “di mana ibu berada, di sanalah rumahku”

Itu adalah pembuka tulisannya, selengkapnya bisa dilihat disini. Saya pun pernah menulis profil gadis ini, jika berkenan kunjung ulasan sederhana saya yang berjudul Belajar Bela Rasa dari Anak Zaman. (bersambung)




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hadiah Terbaik dari Ibu di Mata Remaja Milenial"

Posting Komentar