Ibuku Seorang Pembohong


Ibuku Seorang Pembohong
Gambar ilustrasi/sumber gambar klik di sini
Idealnya sebagai orang tua mengajari hal yang baik, termasuk tidak berbohong; apalagi kepada anaknya sendiri. Namun hal itu tidak berlaku bagi ibuku. Setiap hari dari kebohongan yang satu kepada kebongan yang lain selalu beliau hadirkan padaku di masa kecil.

1.    Ibu sudah makan, ini bagianmu. Walau sebenarnya beliau belum makan apa-apa.
2.    Ibu tidak suka itu, biar untuk kamu saja. Walau sebenarnya beliau suka.
3.    “Ah ibu tidak apa-apa kok, cuma masuk angina saja”. Walau sebenarnya ibu menahan sakit yang luar biasa.
4.    Ibu suka baju yang lama, karena bahannya bagus, ibu tidak suka baju itu. Walau sebenarnya beliau menginginkannya.

Itulah yang ibu lakukan di masa kecilku dulu. Melupakan dirinya demi hidupku.


Baca juga:

Hadiah Terbaik dari Ibu di Mata Remaja Milenial


Sebagai orang desa yang mata pencahriannya hanya mengandalkan hasil kebun untuk memenuhi kebutuhan keluarga; beliau terpaksa melakukan kebohongan yang satu kepada kebohongan yang lain demi anak-anaknya.

Pola hidup yang demikian pada akhirnya tahun 2013 lalu beliau dipanggil Tuhan (baca: meninggal). Sebelum meninggal, beliau “seperti mengaku dosa” kepadaku.

“Martin, mama minta maaf ya, jika selama ini tidak bisa menjadi ibu yang baik”. “kadang Ibu terpaksa berbohong, karena hanya itu yang bisa ibu lakukan untuk membuatmu percaya”. Ucapan yang nyaris tanpa kata di puskesmas desa yang jauh dari kata layak.

“Kalau engkau berkeluarga nanti, jangan lupa yang dibutuhkan oleh sebuah hubungan adalah SALING MENGERTI antara suami dan istri. Bukan dimengerti”, nasehat beliau sambil mengelus rambutku. Sejujurnya saya tidak paham maksud beliau saat itu. Ibunda tercinta sepertinya memahami kebingunganku, kemudian berkata, “sudah tidak apa-apa nanti jika waktunya tiba, engkau akan mengerti kata-kata ibu”.

“Sudah ibu mau tidur dulu”, katanya lebih lanjut. Ternayata ibu tidur untuk selama-lamanya, dan kata-katanya sejam yang lalu adalah kata perpisahan yang paling memiluhkan sekaligus hadiah paling isitimewa dan abadi dari ibu ibunda tercinta.   

Sebagi orang kampung sejujurnya saya tidak mengenal kata ulang tahun apalagi sebuah kado. Sebagai orang tak punya tidak ada kado paling berarti selain cinta dan kehangatan keluarga. Nasehat bijaknya kepadaku adalah pemberian paling berarti sepanjang hayatku. Kebohongan ibu mengajariku tentang cinta orang tua kepada anak. Dua kata saktinya memberi makna sebuah keluarga akan harmonis jika dilandasi dengan sikap saling mengerti antara suami dan istri.

Itulah hadiah paling istimewa dari ibuku.   


 Baca juga:

Makar Bagian Pertama: Rumah dan Keluarga




Catatan:


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ibuku Seorang Pembohong"

Posting Komentar