Mengindonesiakan Indonesia: Refleksi Natal

Mengindonesiakan Indonesia:  Refleksi Natal
Mas Ade, sedang mendesain pohon Natal
Indonesia itu bineka tunggal ika titik. Meski berbeda suku, ras, maupun agama, kita tetaplah Indonesia. Oleh karena itu, saling menghargai dan menghormati merupakan suatu keharusan sebagai sesama anak bangsa. Seperti itu teorinya. Namun soal praktek, biar sidang pembaca sendiri yang mengomentarinya, karena bukan ranah saya mengomentari hal-hal yang tidak selaras dengan pancasila.

Kali ini saya ingin membagikan pemandangan yang menarik, yang dilakukan oleh adik iparku di kediaman kami dalam rangka mempersiapkan natal tahun 2017. Namun sebelum itu, izinkan saya berkisah tentang interaksi saya dengan salah seorang konsumen di Bogor pekan sebelumnya via whatsaap.  Sebagai penjual online suatu produk kesehatan saya terlibat percakapan yang sebenarnya di luar topik. Yaitu menyinggung soal agama.

Saudara Muslimku di seberang sana tiba-tiba berkata seperti ini, “apa pendapat bapak soal Islam?”. Wah jujur, awalnya membahas soal produk kesehatan tiba-tiba lari ke topik yang sensistif sepertinya saya kurang siap menjawabnya. Memang ini pertanyaan yang sederhana, namun salah jawab bisa-bisa seperti Ahok si mantan gubernur DKI itu.

Ini jawaban saya, Islam itu, indah. Ini bukan retorika semata, tetapi banyak pengalaman saya yang merujuk pada hal tersebut. Selain itu, dalam keluarga saya ada yang Islam dan saya seorang Nasrani. Kami semua hidup rukun, jelas saya lebih lanjut kepada anak muda di seberang sana.

Lantas si pemuda yang intlektual itu sepertinya mencoba memancing saya dengan pertanyaan, sepertinya menjebak. “kenapa bapak dan istri bapak tidak masuk Islam saja agar bisa membangun keluarga yang indah”, kata anak muda itu.

Ini jawaban saya, “kalau kami semua Islam tidak ada bineka tunggal ika dong dalam rumah, hehehe; kita bineka tunggal ika kan?”. Selanjutnya percakapan kami biasa-biasa saja, hingga akhir pembicaraan. Itu hal pertama yang saya alami di bulan Desember, sebelum tanggal 25 hari natal.

Hal yang kedua soal adik ipar saya, yang di bagian awal sudah saya singgung. Sedikit penjelasan, dalam satu rumah, 3 saudara dan saudariku Muslim, selebihnya Kristen. Sekali lagi kami hidup damai dalam satu atap (baca: rumah). Istrinya yang merupakan adikku adalah seorang Kristen. Saat saya dan istrinya memasang pohon natal ada bagian tertentu yang tidak saya pahami sehingga pohon natal tersebut tidak bisa didirikan dengan sempurna alias mencong dan goyang. Adik iparku yang Muslim ini, melihat kepenatan saya karena tidak bisa memasang pohon natal dengan sempurna segera bertindak dengan akalnya yang luar biasa. Kipas angin rusak disulap jadi pohon natal, dan jadilah pohon natal yang cantik karya adik iparku yang Muslim itu. Di sisi yang lain adik iparku yang satu, seorang Muslim juga, saat kami sibuk di gereja merayakan malam natal. Dia yang mengurusin masak untuk makan malam tamu yang datang dan kami sekeluarga.

Sidang pembaca yang terhormat, dari dua kisahku di atas bersama saudara-saudariku yang Muslim di “gubuk” kami. Sekiranya ada dua hal yang bisa saya jadikan refleksi dan membagikan kepada sidang pembaca terkasih.

Pertama, selalu ada yang namanya presepsi yang berbeda jika jadi Indonesia.
Kok bisa? Iya sebab dalam keberagaman dan kemajemukan, lahirlah juga pandangan dan idealisme tertentu dalam kelompok masyarakat. Itu wajar dan biasa, konsekwensi kita sebagai negara yang beragam. Tidak harus marah atau menciptakan situasi tertentu yang akhirnya merusak keberagaman kita. Cukup senyum dan layani dengan cara yang cerdas. Sambil terus berpegang bahwa Indonesia adalah beragam titik. Tidak perlu marah, apalagi saling menghujat di media sosial.

Bukankah dalam alkitab dikatahkan, “jawaban yang lemah lembut dapat meredahkan amarah?. Oleh karena itu, saudara-saudariku sekalian yang saya kasihi dalam nama Tuhan Yesus, Jangan mengaku Kristen, jika kejahatan dibalas dengan kejahatan juga.

Kedua, mengindonesiakan Indonesia dalam keberagaman dan kebinekaan bukan saja tugas presiden, Jokowidodo; tetapi tugas kita bersama.
Kita tidak harus menyuruh orang lain mencintai Indonesia seperti yang kita mau. Lakukan dulu mulai dari diri sendiri dan dari rumah. Sambil berharap, berdoa, dan berusaha; melalui sikap dan perbuatan kita yang baik bisa mempengaruhi, tetangga sekitar, lingkungan masyarakat, rekan kerja untuk lebih Indonesia lagi. 

Bukan Indonesia bangat dalam konotasi negatif. Bukan itu, tetapi hal-hal postif dan sederhana, seperti tidak melawan arah saat berkendara, tidak parkir sembarangan, tidak maki-maki dan menghujat orang lain di media sosial dan berbagai hal postif yang lain. Itu yang harus kita perjuangan bersama sebagai anak bangsa.

Selamat Natal dan tahun baru 2018. Damai di bumi dan damai di hati.

***



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengindonesiakan Indonesia: Refleksi Natal "

Posting Komentar