Caterine:Bagiku Ibu Adalah Pahlawanku

Caterine:Bagiku Ibu Adalah Pahlawanku
Caterine, siswi SMA Kanaan Jakarta

"Hasil karya terindah dari hati Tuhan adalah hati seorang ibu."
-Santa Teresa dari Lisieux.

Aku tidak tahu apa yang Ibuku pikirkan ketika ia memutuskan untuk memiliki aku. Waktu itu usianya sudah 40 tahun, usia yang cukup rawan untuk memiliki anak lagi. Aku tidak tahu apa yang Ibuku pikirkan ketika ia tahu bahwa anak ketiganya ini adalah seorang perempuan. Seorang perempuan yang kian dewasa kian berpikir mengapa ia harus lahir ke dunia ini. 

Perempuan itu adalah aku. Seiring dengan semakin panjangnya cerita hidupku yang kutulis, aku belajar bahwa dunia itu tidak sesempit seperti yang orang pikir, kau tidak mungkin mau untuk mengarunginya seorang diri. 

Pada umurku yang ke-5, aku belajar bahwa menangis tidak akan menyelesaikan apapun. 
Pada umurku yang ke-7, aku belajar bahwa kebohongan dan kecurangan tidak akan membawamu ke manapun, kecuali ke penyesalan. 
Pada umurku yang ke-11, aku belajar bahwa bahkan sebuah cinta monyet sekalipun bisa membekas hingga bertahun-tahun lamanya.
Pada umurku yang ke-14, aku belajar bahwa tak semua orang berwajah sama persis ketika ia pikir tak ada yang sedang melihatnya. 
Pada umurku yang ke-16, aku belajar... bahwa walau kau dikerumuni oleh orang-orang yang mencintaimu, terkadang depresi masih menjadi suatu hal yang tak dapat terelakkan. 

Aku pergi, mengenal, dan belajar semua hal itu tanpa Ibuku. Bukan karena beliau tidak peduli denganku, bukan – bukan itu. Itu hanya karena aku sendiri yang tak pernah mau bercerita – hanya karena aku sendiri yang memutuskan untuk memendamnya. Kupikir ia tak perlu tahu bahwa aku tidak secerah yang ia kira di depannya. Aku sengaja membuatnya berpikir bahwa aku baik-baik saja, pergi ke sekolah pagi-pagi dan pulang saat sore, semalaman mengerjakan tugas dan belajar demi menghias nilai raporku agar setidaknya  tampak lebih  baik.

Ibu cukup tahu saja bahwa nilai raporku bagus dan aku juara kelas. Ibu cukup tahu saja bahwa dengan aku juara kelas, aku dibebaskan dari uang sekolah selama satu semester. Ibu tidak perlu tahu bahwa aku menghajar habis diriku terlalu keras demi mencapai semua itu.

Aku berasa menjalani kehidupan ini sendirian. Melewati tebal tipisnya rintangan yang tiada hentinya menerpa. Terkadang aku lelah dan muak akan segalanya. Lalu yang kulakukan adalah memejamkan mataku sambil berpikir, Oh Tuhan, mengapa aku harus hidup.

Jujur saja, Ibuku menjadi salah satu alasan mengapa aku berpikir demikian. Tidak peduli pagi, siang, atau malam, ia akan ada untuk mengomeliku tentang berbagai masalah. Ibuku tipe orang yang membesar-besarkan masalah, mungkin karena dia seorang perfeksionis. Tak ada satupun usaha dan keluhanku yang dihargai olehnya. Setiap kali ia memasuki kamar, entah mengapa hawa sejuk angin sepoi-sepoi dari jendelaku berubah menjadi tungku perapian. Sampai kesalnya, aku langsung memasang earphone di kedua telingaku dan membesarkan volume lagu hingga suara Ibuku tak terdengar lagi. Aku sendiri juga bukanlah anak yang patuh. Badung, ngeyel, dan keras kepala adalah kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikan aku secara keseluruhan.

Terkadang ia akan membanding-bandingkanku dengan saudaraku yang lainnya. Terkadang ia suka menyudutkanku, menonjolkan semua kelemahanku, lalu menyalahkanku. Terkadang apapun cerita yang keluar dari mulutnya tentangku hanyalah berisi tentang semua kebiasaan jelekku. Di akhir hari, terkadang aku berpikir bahwa apakah Ibu benar-benar menyayangiku atau tidak.

Belakangan ini aku sadar bahwa semua yang kukeluhkan itu hanyalah yang tampak di mata saja.

Ibuku bukan tipe orang yang straight-forward. Setiap kali aku pulang membawa piala, ia hanya akan diam saja sembari memindai raporku lalu bertanya mengapa aku selalu mendapat nilai rendah pada olahraga. Aku baru tahu bahwa ia selalu membanggakanku di belakang ketika aku tak sedang bersamanya.

Aku tak pernah minta apa-apa saat ulang tahun akhir-akhir ini. Suatu hari aku  kebetulan menemukan tas yang kusuka di suatu mall dan bertanya pada Ibu apakah aku boleh dibelikan tas itu. Namun begitu melihat harganya, aku langsung geleng-geleng kepala. Tidak mungkin ia akan setuju untuk membeli tas semahal itu. Tetapi apa? Ketika aku pulang, tas itu sudah menggantung di kamarku dan Ibu tak mengucapkan apapun sama sekali.

Selama 8 jam di sekolah juga, aku tak pernah merasa terpisah jauh olehnya. Tak semua orang di sekolah ini dibuatkan bekal oleh ibu mereka. Tak semua orang di sekolah dibawakan obat-obatan pribadi lengkap dengan resepnya oleh ibu mereka. Tak semua orang di sekolah pula selalu dikirimi pesan, “Di luar hujan deras, kalau pulang kepalanya ditutup pake jaket supaya gak masuk angin!!!” dari ibu mereka.

Ketika aku sakit, orang yang paling repot dengan menghebohkan dirinya sendiri adalah Ibuku, serasa yang kesakitan bukan hanya aku saja.

Detail-detail kecil dan sederhana inilah yang membuatku kuat bertahan sampai sekarang melewati masa-masa suram dan kelamku, menemaniku meniti setiap lekak-lekuk jalan, membantuku berdiri ketika aku terjatuh dengan kejamnya ke tanah. Selama ini kupikir aku tengah  menjalani semuanya seorang diri, tak sadar akan tangannya yang selalu ada untuk mendorong dan mendukungku dari belakang.

Ibuku mungkin tak tahu akan masalahku. Tetapi Ibuku tetap adalah pahlawanku. Ia memberiku perhatian dan kasih sayang yang tak pernah kuminta, ia mewujudkannya walau aku tak pernah mengindahkannya.

Ibuku tetap adalah pahlawanku. Ia memberiku hidup yang tak pernah kuminta, ia mewujudkannya hingga aku akhirnya sadar akan betapa berharganya nafasku ini. 


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Caterine:Bagiku Ibu Adalah Pahlawanku"

Posting Komentar